Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Sunday, 30 September 2012

Al-Ghazali, Ihya' dan pendidikan Jihad

Oleh : Uda Zami 

Imam Al-Ghazali

Mungkin tidak ada yang tidak kenal dengan Kitab Ihya' Ulumiddin. Begitu terkenalnya kitab ini bahkan hampir menyaingi tingkat ke-terkenal-an dan ke-terpopuler-an sang pengarangnya, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Magnum Opus Imam Ghazali ini benar-benar kitab dahsyat. Hampir seluruh aspek kehidupan dibahas dengan sudut pandang seorang Hamba Allah oleh Al-Ghazali dalam kitab ini. Tak heran ketika Syekh Muhammad Abduh pernah berkata "Kitab Ini (ihya' ulumiddin) adalah kitab dimana seorang manusia tidak boleh melakukan perjalanan kecuali harus membawanya kemana-mana". Kebijakan-kebijakan yang ditawarkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' begitu menyentuh sendi-sendi hubungan manusia dengan Tuhannya.

Bagi yang sudah khatam alias tamat membaca buku ini, selain terheran-heran dengan kekuatan isinya, akan menyimpan sebuah tanda tanya pada dirinya sendiri. Kenapa Al-Ghazali tidak memasukkan pembahasan tentang Jihad dalam bukunya ini ? padahal mestinya sebagai salah satu doktrin penting dalam Islam, jihad harus dibahas. Bahkan kalau perlu harus dibuatkan satu bab khusus tentangnya. Namun ternyata malah sebaliknya. Dari 5 Jilid besar ihya' ulumiddin (cetakan terbaru 10 jilid), Imam Al-Ghazali malah tidak membahas Jihad (dengan makna zahirnya yakni perang) sama sekali.

Sebelum kita coba menerka-nerka tentang kenapa Imam-Ghazali tidak memasukkan bab Jihad dalam kitabnya, menarik kalau kita coba mengingat masa-masa kehidupan Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali hidup disaat peradaban Islam di Dinasti Abbasiyah sedang mencapai puncaknya. Seluruh aspek kehidupan sedang berada di dalam masa yang sangat cemerlang. Ilmu pengetahuan telah mencapai sendi-sendi dimana belum pernah ada bangsa sebelumnya yang mencapainya. Tingkat kemakmuran rakyat terbilang tinggi. Islam memang benar-benar menjadi Kiblat dunia waktu itu. Dari sisi Ilmu pengetahuan, Universitas Nizhamiyah yang diketuai oleh Al-Ghazali sendiri bisa dibilang sebagai lembaga pendidikan terbaik serta kiblat perkembangan IPTEK saat itu.

Walau begitu, ada kerapuhan lain yang muncul menghantui masa emas ini. Dari dalam, Islam sendiri diancam dengan bayang-bayang pengkhianatan Syiah, terkhusus Syiah sekte Ismaili. Kematian beberapa tokoh besar terutama sang penggagas Universitas Nizhamiyah, Nizhamul Muluk, tak lepas dari campur tangan Syiah sendiri. Syiah terus dan terus mencoba menguasai pemerintahan dengan segala cara. Dan akhirnya nanti sejarah memang membuktikan bahwa salah satu sebab utama kenapa dinasti Abbasiyah adalah pengkhianatan sang wazir yang beraliran syiah.

Dari luar, tentara salib tetap terus merongrong kekuasaan Islam. Hari demi hari, serangan mereka terhadap wilayah kekuasaan Islam semakin gencar. Bahkan, baitul maqdis pun sempat jatuh ke tangan mereka.

Nah, dua situasi ini sebenarnya membutuhkan motivasi-motivasi Jihad untuk menguatkan ummat Islam. Ruh jihad memang harus dikobarkan, mengingat Islam sendiri diserang secara fisik dari luar dan dalam. Namun, Imam Ghazali malah tidak membahasnya sama sekali. Dari sinilah, di kemudian hari, karya Emas Imam Ghazali ini kemudian diserang. Selain diserang karena (katanya) Ihya' Ulumiddin berhasil "mematikan" kreativitas Umat Islam dan bertanggung jawab atas mundurnya filsafat Islam, kitab ini juga dituding berhasil melemahkan semangat umat untuk berjihad.

Namun apakah benar seperti itu ?

Kalau kita membaca dan menghayati serta meneliti efek besar kitab Ihya ulumiddin ini secara objektif, mungkin kita akan meralat tudingan kita. Seperti yang kita ketahui, zaman saat Imam Ghazali hidup adalah zaman keemasan Islam. Dengan perkembangan dan kemajuan tata hidup yang pesat, ternyata menimbulkan side effect yang tidaklah bisa dipandang sebelah mata. Umat Islam secara perlahan mulai dilanda penyakit-penyakit moral. Kebobrokan prilaku terjadi dimana-mana, apalagi dikalangan birokrat. Situasi ini berdampak langsung pada masyarakat Islam. Bahkan, dalam perperangan melawan tentara salib pun islam harus mengalami kekalahan yang berujung pada jatuhnya Baitul Maqdis.

Nah, Imam Ghazali melihat fenomena Rusaknya Akhlak dan Moral ini sebagai hal paling utama yang menyebabkan lemahnya umat islam. Sehingga, ketika ruh Jihad terus dikumandangkan namun tanpa perbaikan Akhlak, tetap saja tidak akan berkobar. Imam Ghazali menilai bahwa Ruh Jihad baru akan berkobar saat jiwa-jiwa umat dihiasi oleh akhlak yang baik.

Dengan landasan inilah, Imam Ghazali memulai "proyek" jihad ala beliau dengan mulai memperbaiki akhlak umat. Perbaikan akhlak adalah tema besar kitab Ihya' Ulumiddin itu sendiri. Bagi saya, Imam Ghazali sendiri sebenarnya sedang memberikan kuliah besar tentang Jihad lewat proses perbaikan Akhlak di Ihya'-nya, tanpa harus menyebut Jihad itu sendiri. Jihad memang akan tumbuh dengan sendirinya, saat akhlak umat itu baik. Ruh jihad para muslim akan berkobar dengan sendirinya, saat akhlak mereka kokoh.

Kitab Ihya' beliau juga mengajarkan bahwa pembenahan umat itu tidaklah mesti lewat proyek perombakan sistem besar-besaran. Pembenahan umat harus dimulai dari bawah, dari individu-individu. Belajar dari sejarah Nabi Muhammad yang mendidik para sahabat perlahan-lahan, dari hal-hal kecil, dari kerja-kerja sederhana, dari sekelompok kecil manusia, hingga akhirnya berhasil membentuk muslim yang militan. Yang ruh Jihadnya selalu berkobar lantaran akhlak dan jiwa mereka itu berada dalam kondisi prima, tidak lemah apalagi bobrok.

Sejarah akhirnya mencatat, bahwa didikan Jihad Ala Imam Ghazali dalam Ihya' nya memang membentuk muslim yang militan dan berakhlak mulia. Nuruddin Zanky dan Muridnya, Sholahuddin Al-Ayubi yang berhasil merebut kembali Bumi Palestina dan Baitul Maqdis dari tangan tentara salib, adalah orang-orang yang menjadikan Ihya' sebegai bacaan wajibnya. Mereka berhasil dididik secara tidak langsung oleh Al-Ghazali bahwa memang akhlak yang baik adalah modal besar dalam jihad, bahwa Ruh jihad akan berkobar di jiwa-jiwa yang berakhlak baik. Tentara binaan Nuruddin Zanky dan Sholahuddin al-Ayubi pun akhirnya berhasil merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaan Islam.

Selain itu, kita juga lihat bahwa Imam Al-Ghazali ternyata tidak terjebak dengan Istilah. Beliau tidak berteriak-teriak "Jihad" namun menumbuhkannya di hati muslim lewat proses perbaikan akhlak tadi di Ihya'nya. Di Ihya' beliau mengajarkan bahwa jiwa-jiwa yang berakhlak baik dengan Tuhannya, dengan nabinya, dengan seluruh entitas dalam Islam, maka didalamnya akan tumbuh sendiri panggilan dan semangat yang berkobar-kobar untuk jihad.

Nah, belajar dari hal ini. Semestinya tugas utama kita adalah memfokuskan diri pada perbaikan Umat. Perbaiki ibadah mereka, perbaiki akhlak mereka, perbaiki cara berpikir dan gaya hidup mereka. Rubahlah mereka juga dengan akhlak. Rubahlah dengan cara-cara yang diajarkan Nabi Muhammad. Ketika di dalam pribadi muslim sudah tertanam akhlak Islam, maka cita Islam yang gemilang akan terwujud, panggilan jihad pun bukan lagi panggilan kosong dan horror bagi mereka. Tidak usah terlalu sering berteriak 'Jihad' ketika disaat yang sama kita lupa bahwa masih banyak muslim yang merosot akhlaknya di sekitar kita. Justru musuh Islam sendiri akan memanfaatkan hal itu untuk mereduksi makna Jihad dan memberikan pemahaman Jihad lain di tubuh muslim yang merosot moralnya.

Toh, ketika kita berhasil mengubah sistem kehidupan menjadi yang Islami, namun umat muslim saja masih bolong-bolong shalatnya, masih rusak akhlaknya, tetap saja masyarakat Islami tidak akan terwujud. Belajar dari sejarah Nabi Muhammad. Beliau butuh 13 tahun untuk mempersiapkan pribadi-pribadi sahabat yang bermental Islami, yang beribadah Islami, yang berakhlak Islami, sehingga apapun nantinya perintah yang turun kepada mereka, mereka siap memanggulnya bahkan walau harus kehilangan nyawa. Inilah tugas kita bersama.

Hmm, saya sendiri tidak pernah yakin, bahwa kita akan sanggup berjihad, namun shalat kita masih bolong-bolong, bangun pagi berjama'ah masih berat, prilaku kita masih menyakiti orang lain. Tingkat kesalehan kita, tingkat ketinggian akhlak kita, akan berefek langsung pada tingkat komitmen dan keberanian kita di medan Jihad nantinya.

Wallahu a'lam bish-showab


Penutupan Intensif English Course PII Mesir berlangsung Meriah

Penutupan Intensif English Course yang diadakan oleh Departemen Bahasa Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk PII) Mesir berlangsung meriah. Berbagai macam game-game menarik, serta hiburan-hiburan yang ditampilkan oleh seluruh peserta membuat akhir kegiatan ini terkesan indah. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 27 September sampai 30 September 2012 ini bertempat di Mabes PII Mesir di bilangan Gami' Station, Hay Asyir, Cairo.

Kursus yang ditutori oleh Husam Syah dan kawan-kawan ini, secara umum menyadarkan kembali para peserta dan PII Mesir untuk kembali mendayagunakan bahasa asing, terutama bahasa inggris yang hari ini merupakan syarat untuk eksis di dunia Internasional. Apalagi kegiatan ini sesuai dengan Visi PII Mesir 2014 yang insya Allah akan (kembali) GO Internasional, demikian penjelasan Asep Hamzah selaku ketua panitia yang juga koordinator Departemen Bahasa Pwk PII Mesir. Insya Allah kegiatan ini akan di follow up-i berupa diskusi bahasa inggris mingguan.

Acara Intensif English Course ini sendiri bertujuan untuk menggairahkan program bahasa asing terutama bahasa inggris yang mulai melesu di tengah-tengah mahasiswa Indonesia di Mesir.









































Saturday, 22 September 2012

Susunan Pengurus PII Mesir Periode 2012-2013

PWK-EGY/DF /KPTS/21/VII/1433-2012



Struktur Kepengurusan
Pengurus Perwakilan Pelajar Islam Indonesia
Republik Arab Mesir Periode 2012-2013

*Sesuai SK Nomor  PWK-EGY/DF /KPTS/21/VII/1433-2012


Badan Pengurus Harian (BPH)

Ketua Umum : Solihin Ma’ruf
Ketua Bidang Kaderisasi : Abdul Murod
Ketua Bidang PPO : Asep rifqi Abdul Aziz
Ketua Bidang KU : M.Andhika Sakali
Ketua Bidang PII-wati : Hanifah Jamil

Sekretaris Umum : Abdurrahman Muhammad

Bendahara Umum : Deska Irwansyah
Bendahara II : Imah Masdariyah

Departemen-Departemen

Departemen Peyelenggaraan dan Pengawasan Kaderisasi (PPK):
Abu Bakar Ibnu Sineng
Pipit Siti Alawiyah
Umar Ahmad

Departemen Riset:
Aryandi
Departemen Pustaka:

Aisyah J Ismail
Juandi
Departemen Media dan Informasi:
 
Marisa Pitria
Rizky Ahmad
Departemen Bahasa:

Asep Hamzah Sohibul Faroji
Nur Furqon Nasrullah

Departemen Pembinaan Muslimah:
Khoirunnisa Asmat

Departemen Kajian Putri:
Riri Hanifah Wildani

13 kader PII Mesir dikukuhkan

Menjelang subuh waktu Cairo (22/9), 13 kader baru Perwakilan Pelajar Islam Indonesia ( Pwk PII ) Republik Arab Mesir dikukuhkan. Pembacaan ikrar Jakarta yang dipimpin oleh koordinator Tim Instruktur saudara Zamzami Saleh menjadi gerbang peresmian 13 orang Peserta Leadership Basic Training (BATRA) menjadi kader biasa Pelajar Islam Indonesia (PII). Acara yang telah berlangsung selama kurang lebih 7 hari ini, alhamdulillah berakhir dengan indah.

Leadership Basic Training PII Mesir kali ini yang mengangkat tema 'Sinergitas Potensi menuju Pemimpin yang Bermoral dan Berkualitas' menegaskan kembali posisi PII sebagai Organisasi Pelajar yang senantiasa mencetak tokoh-tokoh bermental kepemimpinan di Negeri ini. Pelatihan yang berlangsung selama 7 hari ini, insya Allah telah memberikan banyak pelajaran dan nilai buat para peserta, demikian sambutan Ketua Umum Perwakilan Pelajar Islam Indonesia ( Pwk PII ) Republik Arab Mesir periode 2012-2013 saudara Solihin Ma'ruf sembari menutup berlangsungnya pelaksanaan BATRA kali ini. 

Leadership Basic Training atau yang biasa disebut BATRA ini merupakan salah satu jenjang kaderisasi yang ada di dalam Organisasi Pelajar Islam Indonesia. Pelatihan yang berlangsung kurang lebih seminggu ini, lebih berorientasi kepada proses dan perubahan sikap serta mental. Diharapkan lulusan BATRA menjadi kader Umat yang siap berjuang demi Islam dan Indonesia menuju yang lebih baik, seperti yang dituturkan Koordinator Tim Instruktur. (uz)

Friday, 4 May 2012

Generasi Emas, OSIS, dan OSES


Muhadjir Effendy; Ketua Umum terpilih 2012-2015 Keluarga Besar PII Jawa Timur ; Rektor Universitas Muhammdiyah Malang (UMM)
SUMBER : JAWA POS, 04 Mei 2012
PADA 4 Mei 1947 di ibu kota Republik Indonesia, waktu itu Jogjakarta, berdiri organisasi yang diberi nama Pelajar Islam Indonesia (PII). PII menjadi organisasi pelajar pertama yang berdiri di era setelah kemerdekaan. Tatkala Jogjakarta menjadi pusat perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan, anak-anak sekolahan dalam PII yang baru lahir itu langsung ikut menjadi pejuang. Momentum dan suasana kelahiran tersebut, dipadu dengan anutan ideologi plus gejolak usia remaja, membuat watak organisasi itu menjadi khas, yaitu fanatik, militan, idealis-utopis dibumbui dengan romantisme perjuangan.

Watak semacam itu tetap terbawa ketika bangsa Indonesia memasuki tahap mengisi kemerdekaan. Ketika itu berbagai kekuatan ideologi menjelma menjadi partai-partai politik yang saling bersaing. Ada dua ideologi dan partai yang jelas-jelas tidak mungkin dipersatukan, yaitu Masyumi (Majelis Syura Muslimin) yang mewakili agama dan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang komunis-ateis. Di tengah persaingan sengit itu, sekalipun menyatakan diri sebagai organisasi independen, PII mau tidak mau memiliki kedekatan dengan Partai Masyumi. Saking dekatnya, orang-orang PKI menjulukinya "Masyumi berkatok pendek".

Sikap antikomunis PII termanifestasi dalam kegiatan pengaderan. Baik sebagai bagian dari materi training, yel-yelnya, maupun nyanyian-nyanyian. Misalnya yang terdapat dalam sebuah lirik: ...hai PII! Maju terus maju, galanglah ukhuwah islamiah, jadilah pemersatu umat, jadilah pedang umat Islam, hancur leburkan ateisme, maju terus pantang mundur!

Bagi PII, keberadaan Partai Masyumi dan dirinya memang memiliki sejarah khusus. Salah satu doktrin yang ditanamkan kepada kader PII adalah pentingnya menggalang persatuan umat Islam. Dalam Ikrar Malioboro para pemimpin Islam bersepakat akan pentingnya satu kesatuan umat Islam. Mereka berikrar hanya Masyumi-lah satu-satunya partai Islam, organisasi pelajarnya adalah PII, organisasi mahasiswanya HMI, organisasi pemudanya adalah GPII, dan Pandu Islam (PI) satu-satunya organisasi kepanduannya. PII juga merujuk fatwa yang pernah diucapkan Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, bahwa haram hukumnya partai Islam selain Masyumi. Namun, kesepakatan itu berlangsung tidak lama karena pada 1948 PSII keluar dari Masyumi untuk menjadi partai politik sendiri dan disusul NU pada 1952.

PII pelan-pelan mulai kehilangan hak monopolinya ketika ormas dan orpol Islam mulai membentuk organisasi sayap pelajarnya sendiri. Di NU berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada 1954. Di Muhammadiyah, setelah terjadi pro-kontra akhirnya pada 1961 juga berdiri Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Kendati begitu, doktrin akan pentingnya satu kesatuan umat Islam tetap menjadi cita-cita utopia PII. Ketika pada 1960 Presiden Soekarno membubarkan Partai Masyumi, PII terkena imbasnya. PKI dan onderbouw-nya kian beringas terhadap si Masyumi bercelana pendek itu. Kasus yang sangat terkenal, misalnya, peristiwa Kanigoro pada 1965. Ketika itu BTI, organisasi onderbouw PKI, menyerbu tempat terselenggaranya training PII di Kanigoro, Kediri.

PII dan TNI

Pada 1966 keadaan jadi berbalik. Para aktivis PII -bersama IPNU, IPM, GSNI, dan lain-lain- dengan dukungan ABRI ramai-ramai mengganyang PKI melalui Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Beda dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang wilayah operasinya terbatas di kota-kota perguruan tinggi, jangkauan KAPPI bisa sampai ke pelosok tempat sekolah. Mereka bekerja sama dengan ABRI sampai level komando paling bawah, yaitu koramil. Saking dekatnya para aktivis KAPPI dengan ABRI, mereka semacam mendapat prioritas diterima di Akabri. Terutama ketika gubernur Akabri dijabat Sarwo Edhie (1970-1973). Banyak lulusan Akabri angkatan tahun '70-an yang berasal dari aktivis KAPPI, terutama PII. Sebagaimana kita tahu, mertua Presiden SBY itu tatkala menjadi komandan RPKAD (1964-1967) sangat terkenal dalam memimpin penumpasan G 30 S/PKI.

Seperti melupakan andil organisasi-organisasi siswa ekstrasekolah (OSES), justru kemudian pemerintah Orde Baru secara sistematis mencegah kehadiran organisasi ekstrasekolah masuk di sekolah. Di sekolah hanya boleh ada OSIS (organisasi siswa intrasekolah) dan pramuka.

Bagaimanapun, organisasi ekstrasekolah telah menunjukkan keunggulannya dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin bangsa. Sebut saja, misalnya, PII telah melahirkan Jusuf Kalla. GSNI melahirkan Taufik Kiemas, dari IPM memunculkan Busyro Muqoddas. Kalau ada kekhawatiran organisasi ekstra memunculkan sikap fanatisme sempit dan kaku, itu tidak sepenuhnya benar. Bisa disaksikan bahwa PII bisa melahirkan tokoh NU seperti KH Hasyim Muzadi sekaligus tokoh Muhammadiyah seperti Prof A. Malik Fadjar. IPNU yang notabene organisasi sayap NU bisa melahirkan tokoh Muhammadiyah seperti Prof M. Din Syamsuddin. Di jajaran kabinet saat ini ada para menteri yang mulai mengasah bakat kepemimpinan sejak usia remaja melalui organisasi ekstrasekolah.

Generasi Emas Perlu Utopia

Masa remaja ibarat lempengan besi yang sedang membara, saat yang mudah ditempa untuk dibikin menjadi apa saja. Termasuk saat yang paling tepat untuk ditempa menjadi calon pemimpin bangsa. Sayang, keadaan sekolah-sekolah kita saat ini tidak cukup kondusif untuk menyemai calon-calon pemimpin itu. Anak-anak sekolah kita tidak mampu membangun "mimpi besar" karena imajinasi dan cita-cita utopis mereka tidak berkembang seperti yang seharusnya terjadi pada anak usia remaja yang bakal menjadi pemimpin masa depan. Akibatnya, naluri militansi, fanatisme, dan romantisme perjuangan mereka lampiaskan lewat tawuran masal, geng motor, vandalisme, bahkan tindakan kriminal.

Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini, menteri pendidikan dan kebudayaan mengangkat masalah mempersiapkan generasi emas Indonesia (Jawa Pos, 2 Mei 2012). Menyiapkan generasi emas yang menguasai berbagai keterampilan perakitan dan produksi sangat penting.

Akan tetapi, saya kira itu bukan jalan untuk menyemai pemimpin bangsa. Tetapi, justru potensi persemaian itu ada pada organisasi-organisasi ekstrasekolah. Karena itu, demi lahirnya pemimpin generasi emas Indonesia, diperlukan kebijaksanaan yang mendorong dan memfasilitasi kembalinya organisasi-organisasi siswa ekstrasekolah alias OSES tersebut untuk berkiprah di sekolah-sekolah, seperti OSIS. ●