Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Wednesday, 4 April 2012

Ibrahim al-Bajuri, Ulama produkif penyebar Akidah Ahlusunnah wal Jama'ah Manhaj Asya'irah

Bagi kalangan pelajar santri pondok salaf di Indonesia serta mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Timur tengah, nama Imam Ibrahim al-Bajuri bukanlah nama yang asing di telinga. Kitab Hasyiyah Tahqiqul Maqom ‘ala Risalati Kifayatil Awwam, kitab Tuhfatul Murid ‘ala Jawharah at-Tauhid serta kitab Hasyiah Al-Bajuri ‘ala matan Abi Syuja’ adalah buah tangan beliau yang sejak dahulu sampai sekarang menjadi referensi utama di kalangan pelajar ilmu agama.

Nama lengkap beliau adalah Ibrahim al-Bajuri bin Syaikh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad. Beliau diberi gelar dengan Burhanuddin artinya bukti agama, sebuah gelar yang lazim disematkan kepada para Ulama besar dulunya (bahkan hingga sekarang). Beliau dilahirkan pada tahun 1198 H/1783 M di desa Bajur, sebuah desa di Provinsi Al-Manjufiyah, Mesir.

Beliau lahir dan tumbuh di keluarga yang memegang teguh Islam sebagai pedoman hidup. Orang tuanya pun terkenal sebagai orang alim dan saleh. Sebab itulah beliau senantiasa dididik dengan ilmu agama. Pada masa kecilnya beliau telah belajar al-qur’an dan memperbaiki kualitas bacaannya dengan bimbingan ayahnya sendiri.

Pada tahun 1212 Hijriyah, beliau berangkat ke Al-Azhar dan menimba ilmu disana. Waktu itu umur beliau baru masuk 14 tahun. Namun setahun kemudian (1213 H/1798 M) , tentara penjajah Perancis menduduki Mesir yang membuat Syaikh Ibrahim keluar dari Al-Azhar dan menetap di daerah Giza selama beberapa tahun. Beliau baru kembali lagi ke Al-Azhar pada tahun 1216 H/1801 M setelah tentara Perancis keluar dari Mesir.

Guru-guru beliau

Selama di Al-Azhar, Syaikh Ibrahim sangat giat dan tekun dalam mengikuti pembelajaran dengan para gurunya. Diantara guru-guru beliau selama belajar di Al-Azhar :


1 - Al-Allamah Syaikh Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki. Beliau seorang ulama terkenal di Mesir, terutama karena beliau memiliki ketinggian sanad dalam ilmu. Seluruh ulama mesir ketika itu mengambil ijazah dan sanad kepada beliau, bahkan sampai sekarang mata rantai sanad masih tetap kepada beliau.

2 – Al-Allamah Abdullah asy-Syarqawi. Beliau merupakan ulama yang alim dan terkenal di Mesir dan di dunia islam. Karangannya yang banyak membuat nama beliau meroket di seantero dunia. Terlebih lagi beliau mendapat jabatan memimpin al-Azhar dan menjadi Syaikhul Azhar ( kedudukan yang tertinggi di al-Azhar ).

3- Syaikh Daud al-Qal`i, seorang ulama yang bijak dan arif.

4 - Syaikh Muhammad al-Fadhali, ulama al-Azhar yang alim dan sangat mempengaruhi jiwa Syaikh Ibrahim al-Bajuri.

5 - Syaikh al-Hasan al-Quwisni. Beliau adalah seorang ulama yang hebat sehingga di beri tugas untuk menduduki kursi kepemimpinan al-Azhar dan dilantik menjadi Syaikhul azhar pada masanya.

Ulama Produktif

Sebagai seorang ulama, beliau terkenal sangat produktif menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Hal ini tentu saja disebabkan kepintaran dan kecerdasan serta kedalaman ilmu beliau. Diantara karya beliau :

1 - Hasyiyah Ala Risalah Syaikh al-Fadhali. Kitab ini adalah karangan pertama beliau yang dikarang saat beliau baru berusia sekitar 24 tahun. Kitab ini merupakan ulasan dan penjelasan makna  “La Ilaha Illa Allah” .

2 - Hasyiyah Tahqiqi al-Maqam `Ala Risalati Kifayati al-`Awam Fima Yajibu Fi Ilmi al-Kalam. Kitab ini selesai dikarang pada tahun 1223 hijriyah. Kitab ini sangat masyhur di kalangan pelajar Santri pondok Salaf di Indonesia.

3 - Fathu al-Qaril al-Majid Syarh Bidayatu al-Murid (1224 H)

4 - Hasyiyah Ala Maulid Musthafa Libni Hajar (1225 H)

5 - Hasyiyah `Ala Mukhtasor as-Sanusi (1225 H)

6 - Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah (1227 H)

7 - Tuhfatu al-Murid `Ala Syarhi Jauharatu at-Tauhid Li al-Laqqani (1234 H). Kitab ini merupakan diktat wajib untuk mata kuliah ilmu tauhid di Universitas Al-Azhar.

8 - Tuhfatu al-Khairiyah `Ala al-Fawaidu asy-Syansyuriyah Syarah al-Manzhumati ar-Rahabiyyah Fi al-Mawarits (1236 H)

9 - Ad-Duraru al-Hisan `Ala Fathi ar-Rahman Fima Yahshilu Bihi al-Islam Wa al-Iman (1238 H)

10 - Hasyiyah `Ala Syarhi Ibni al-Qasim al-Ghazzi `Ala Matni asy-Syuja`i (1258 H). Kitab ini sangat masyhur di kalangan pelajar Fiqh Syafi’i. Sampai hari ini, kitab Hasyiyah Bajuri ini masih menjadi mata pelajaran wajib di Majelis Talaqi Masjid Al-Azhar Asy-Syarif. Kitab ini juga dipelajari di Pondok Salaf di Indonesia.

11 - Dan lain-lainnya.

Kebanyakan kitab beliau banyak mengenai masalah Akidah. Beliau termasuk salah seorang ulama yang giat dalam menyebarkan Akidah Ahlusunnah wal Jama’ah sesuai manhaj Imam Abu Hasan Al-Asy’ari ( Asya’iroh ), sesuai dengan Manhaj yang dipertahankan Al-Azhar Asy-Syarif hingga saat ini. Selain masalah akidah, beliau juga mempunyai banyak karangan di lintas disiplin ilmu seperti Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, dan lain-lain.

Diangkat menjadi Syaikhul al-Azhar

Ketinggian dan kedalaman ilmu beliau mengantarkan beliau menjadi salah seorang tenaga pendidik di Al-Azhar. Beliau yang sangat terkenal tekun dan ikhlas dalam mengajar dan mendidik, akhirnya diangkat menjadi Syaikh Al-Azhar, posisi paling tinggi dan prestisius di lembaga Al-Azhar. Beliau diangkat pada tahun 1263 H menggantikan Syaikh Ahmad Abdul Jawwad Ad-Daumi Asy-Syafi’i. Beliau memangku amanah tersebut hingga akhirnya

Wafatnya Syaikh Ibrahim al-Bajuri

Beliau berpulang ke Rahmatullah dengan tenang dan Ridha pada Hari Kamis, 28 Dzulqa’dah 1276 H/19 Juli 1860 M. Beribu pelayat hadir untuk ikut menyolatkan beliau. Beliau dishalatkan di Masjid Al-Azhar Asy-Syarif dan dikuburkan di kawasan Qurafah Al-Kubra.a

Referensi :
·         Khitat At-Taufiqiyyah Al-Jadidah, Ali Basya Mubarak, Maktabah Usroh 2008
·         Hilyatu Al-Basyar fi Tarikh Al-Qarni Ats-Tsalits ‘Asyar, Syaikh Abdurrazaq Al-Baithar, Dar As-Shodir, Beirut 1413-1993.






Tuesday, 3 April 2012

Menemukan kebahagiaan

Oleh : Uda Zami

Hampir seluruh usaha yang kita lakukan di dunia ini mempunyai motif yang sama yakni Kebahagiaan. Kebahagiaan adalah alasan sederhana kita kenapa kita bekerja, memenuhi nafkah pribadi dan keluarga, beribadah kepada Allah, menyayangi sesama dan Usaha positif lainnya. Persoalan muncul ketika kita bahkan belum merasakan kebahagiaan tatkala semua tujuan usaha kita telah tercapai. Kisah dibawah ini mungkin menarik untuk diambil sebagai pelajaran, bahwa bahagia itu bukan tentang apa yang kita cari, namun bersyukur atas apa yang kita miliki.

***
 
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya.Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang.

Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku.Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian.Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu,tangkaplah seekor kupu-kupu buatku",  Mereka berpandangan."Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Dikejarnya kupu- kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan.Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan.Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untukmendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana.Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan.Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.

Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. " Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu. "Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu.

"Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu.Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru,semakin pula ia pergi dari dirimu.", "Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan.Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu.Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."


Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.


***

Mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Sulit,bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana- sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan.

Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan  pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita.Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Kita harus percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Pribadi yang bahagia adalah pribadi yang menyadari akan sebuah rasa indah yang diletakkan Allah pada hatinya. Rasa yang sebenarnya selalu ada, namun kadang manusia lupa. Bahagia bukanlah tentang apa yang kita cari , tapi memaknai apa yang dimiliki. Coba lihat disana, bahagianya seorang tukang ojek yang dibayar penumpang sebesar Rp.5000, ternyata sama dengan rasa bahagia seorang pengusaha yang menang tender Rp.3 milyar ???





Sunday, 1 April 2012

Seperti Monyet

Foto: Googleimage
Dari sebuah artikel, ada info menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Rencananya, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma tertentu. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore Hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu Kita sudah tahu jawabnya.

Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang Ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !


***


Mungkin Kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya Kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang Kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang Kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata " saya ikhlas", tapi bara amarah masih Ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.

Bahkan, Kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun Kita pergi. Dengan beban berat itu, Kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, Kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Andai mereka mau berkorban, melepaskan kacang yang sudah dalam genggaman, tentu mereka bisa mengangkat tangannya kembali dan menikmati hidup yang indah di hutan.

Begitu juga kita. Kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur Kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan Kita. Kita maafkan semua kesalahan yang telah dilakukan orang lain terhadap kita. Kita korbankan segala ego diri untuk memafkan. Memang berat, tapi ada keuntungan yang besar di baliknya. Memaafkan adalah cara terbaik untuk membuat hati ini kembali lapang.

Kecuali kalau kita tetap bersikeras untuk menahan semuanya dalam hati. Menyimpannya dan terus membuat diri kita berada dalam kebinasaan.Yah tak ubahnya seperti monyet.

“Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Saturday, 31 March 2012

"Mading Cantik" PII Wati Mesir

 Setelah sekian lama tertunda, PII Wati Mesir akhirnya membuat Majalah Dinding (Mading) hasil kreasi para kader putri pada Hari Sabtu, 31 Maret 2012. Kegiatan para kader Putri PII Mesir ini dinakhodai langsung oleh ketua PII Wati saudari Marisa Pitria dan berlokasi di Mabes PII Mesir. Kegiatan penuh kreatifitas ini dimulai dari pukul 11.00 siang sampai pukul 19.00 malam waktu Cairo.

Mading 'Cantik' PII Wati Mesir
Majalah dinding ini sebenarnya telah lama direncanakan oleh PII Wati, namun karena banyaknya kegiatan lain yang diikuti oleh para kader PII Wati serta telah mulai aktifnya perkuliahan membuat kegiatan ini baru bisa dilaksanakan hari ini. Pembuatan mading ini diusahakan oleh para kader PII Wati se-kreatif mungkin sehingga terlihat menarik dan cantik agar para pembaca berminat melihat konten yang ditempel disana. Adapun isinya, merupakan tulisan yang dibebankan kepada seluruh kader PII Wati yang ada di Mesir.

Mading ini sendiri berisikan banyak tulisan dan karya menarik yang dibagi dalam beberapa rubrik seperti Kolom, tokoh, Tabassami (humor), Sastra, hikmah, info dan tentu saja seputar Ke-PII Wati-an. Menurut Mapit -sapaan akrab Marisa Pitria, Ketua PII Wati- Mading ini akan difungsikan sebagai wadah kreatifitas kader PII Wati. Selain itu, mading ini juga bertujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan lewat tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh Kader PII Wati yang mayoritas adalah Mahasiswi di Universitas Al-Azhar, Mesir. Tentu saja, tujuan utama mading ini adalah untuk memberikan pengenalan dan pengetahuan kepada yang non-PII tentang PII Wati dan PII. Hal ini mengingat kegiatan di Mabes PII sendiri cukup dinamis dan sering didatangi oleh pelajar dan mahasiswa yang bukan kader PII.

Ketika ditanya tentang cukup banyaknya kader PII Wati yang tidak hadir, Mapit mengatakan bahwa beberapa kader PII Wati yang lain juga sedang memiliki aktifitas di tempat lain yang tidak bisa mereka tinggalkan. Walau begitu, para kader tersebut tetap menyumbangkan karya mereka untuk ditempel di Mading Cantik PII Wati Mesir ini. Mapit berharap semoga kegiatan membuat mading ini kedepannya dapat menghadirkan seluruh kader PII Wati sehingga kekompakan antar kader PII Wati akan semakin meningkat. Dan semoga dengan kekompakan serta dinamika menulis kreatif yang tertular lewat membuat mading, bisa menjadi langkah awal penguatan eksistensi PII Wati di Mesir.

Nama "Mading Cantik" ini sendiri merupakan akronim dari Majalah Dinding Muslimah Cendekia, militAN, berpresTasI, Kreatif.(UZ)


Wednesday, 28 March 2012

Ketika Ulama berkata Cinta

foto : googleimage
 Oleh : Uda Zami

Paling tidak, ada 3 tokoh besar Islam lintas zaman yang membuat karangan tentang cinta menurut persfektif masing-masing. Yang pertama adalah Imam Al-Ghazali. Dalam kitab Al-Mahabbahnya, beliau mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki level yang tinggi.

"(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Yang kedua adalah Imam Ibn Hazm Al-Andalusi Az-Zhohiri. Buku Tauqul Hamamah -nya ( Thauq al- Hamâmah fî al-Ulfah wa al-Ulâf ) menyorot tentang cinta antara manusia dengan pandangan yang realistis. Sangat kontras dengan Al-Mahabbah versi Imam Al-Ghazali yang lebih menyorot konsep cinta manusia dengan Rabb-nya. Buku ini cenderung bernuansa Sastra klasik walaupun isinya sendiri banyak menggambarkan konsep Ibn Hazm dalam memegang Dienul Islam Ini. Ketinggian nilai bahasanya serta kedalaman maknanya menjadikan buku ini salah satu referensi utama dalam psikologi cinta klasik di eropa.

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tetapi pada orang yang jatuh cinta terdapat pertanda.Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi. Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya. Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya. Keempat, kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya. Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsu.

Diantara tulisan beliau dalam buku tersebut, “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya."

Yang ketiga adalah Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah. Ulama besar ahli hukum yang dikenal juga sebagai Ahli 'Penyakit dalam / penyakit jiwa dan hati' ini menjelaskan konsep cinta dalam persfektif tersendiri. Buku Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin yang beliau karang, mencoba untuk memandang dua konsep cinta diatas (cinta hamba kepada Rabb-nya dan Cinta hamba sesamanya) dengan pandangan yang lebih berimbang.

Di awal buku, Ibnul Qayyim terlebih dahulu mencoba mendefenisikan cinta itu tersendiri. Beliau berkata “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia". Menurut beliau, ada lebih 50 padanan makna yang sesuai dengan kata Al-Hubb / cinta, diantaranya sebagai berikut :

  • Cinta bermakna kesucian, kebeningan dan kejernihan. 
  • Cinta bermakna percikan dan riak, seperti riak dan percikan air yang tampak ketika hujan deras turun. Begitu juga dengan cinta seseorang membuat hati beriak ketika teringat dengan sang kekasih. 
  • Cinta bermakna teguh dan tidak berpindah, sebagai-mana teguhnya unta ketika ia duduk diperintah oleh majikannya, sekalipun banyak batu cadas yang melukainya, begitu pula dengan cinta ketika ia telah terbuhul kuat, maka ia tidak akan mau berpindah ke pada yang lain.
  • Cinta bermakna inti, isi dan biji yang dijadikan benih. 
  • Cinta bermakna bejana besar dan berisi penuh yang tidak mungkin lagi dimuat dengan sesuatu yang lain, begitu pula dengan cinta ketika ia telah memenuhi hati, ia tidak dapat diisi dengan sesuatu yang lain. 
  • Cinta juga bermakna tungku sebagai tempat pembakaran yang diatasnya diletakkan sesuatu, begitu juga dengan cinta, ia menerima beban yang dipikul atas nama cinta

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ini juga membagi Cinta ke dalam beberapa tingkatan, yang pertama adalah Al-Alaqoh yaitu adanya ikatan dan hubungan seseorang dengan kekasihnya. Yang kedua adalah Ash-shobaabah artinya orang tersebut mencurahkan atau menumpahkan cintanya kepada kekasihnya.

Yang ketiga adalah Al-Ghorom, yaitu melekatnya rasa cinta di dalam hatinya sampai-sampai kecintaan tersebut takkan bisa lagi dipisahkan dari dirinya. Yang keempat adalah Al-'Isd yaitu rasa cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat. Mencintai lawan jenis karena fisiknya. Yang kelima adalah Asy-syauq yaitu Hati yang serasa berjalan dan terbang menuju yang dikasihinya. Yang keenam At-Tatayum yaitu penghambaan, pemujaan kepada seseorang yang dia cintai dan ini mengandung makna ketundukan, menghinakan dirinya kepada kekasihnya, seperti budak, seorang hamba sahaya yang menundukkan kecintaannya pada tuannya.

Dan yang selanjutnya adalah Al-Hullah dan ini adalah puncaknya kecintaan, kecintaan yang paling sempurna dan penghabisannya sehingga tidak tersisa lagi kecintaan di dalam hatinya kecuali kepada sang kekasih

Salah satu kutipan dalam kitab beliau yang terkenal adalah ucapan beliau, “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”

Konsep cinta versi Ibnul Qayyim sendiri bisa dipakaikan dalam hubungan sesama Makhluk maupun kepada Allah. Tentunya kalau kita gabungkan 3 konsep besar dari ulama ini, kita akan mengambil kesimpulan bahwa cinta sesama manusia itu sendiri merupakan hal yang tidak bisa dihindari, walau begitu seorang mu'min yang ta'at dan cinta kepada Allah akan selalu menyandarkan cintanya hanya kepada Allah, atau dalam bahasa lain bahwa cintanya kepada manusia adalah sebab mencintai Allah juga.

Konsekuensi ketika seseorang mencintai manusia karena Allah adalah bahwa dalam mencintai manusia tersebut, ia tidak akan melewati pagar-pagar syari'at yang telah ditetapkan oleh Allah. Ia akan selalu menjaga cintanya hanya kepada Allah. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah menyebutkan ada 3 golongan yang akan merasakan manisnya iman, salah satunya adalah yang mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah.

Dari hal diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa pembahasan tentang cinta sendiri merupakan hal yang sangat menarik dari dulunya, dan bahasan ini tidak mengenal sekat. Semua orang bahkan para Ulama pun ikut membahasnya. Bahasan cinta bukanlah hal yang tabu karena ia adalah fitrah manusia yang diberikan Allah kedalam Hati mereka. Yang jadi masalah adalah ketika cinta menjauhkan seseorang dari Yang Maha Mencinta, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai seorang kekasih karena Allah lalu kita lakukan larangan yang telah Allah tetapkan bagi kita ?