Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Wednesday, 21 March 2012

Ibu, mengapa kau menangis ?

Berjalan-jalan anda di sepanjang jalan kota. Masuklah anda ke pertokoan. Anda lihatlah televisi. Silahkan anda beli majalah. Anda akan menemukan dan setelah menghitung-hitung secara kasar anda akan menyimpulkan bahwa prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki. Dan kalau anda tertarik, maka pertanyaan yang mengusik pemikiran adalah mengapa wanita begitu banyak berkeliaran dan seolah-olah kelihatan mereka lebih mendominasi kehidupan ini dibanding dengan laki-laki.
Foto : GoogleImage

Mencari jawaban ini anda tak usah repot-repot melakukan penelitian survei dengan mewawancarai mereka. Cukup mudah kalau anda mau menyidiakan waku untuk pergi ke toko buku. Dari sekian banyak buku anda akan menemukan berserakan buku tentang wanita. Anda akan menemukan kata-kata “Gender” suatu istilah yang talah cukup populer dalam wacana feminisme. Dan anda akan paham bahwa inilah salah satu wujud dari keberhasilan emansipasi wanita dari dominasi, marginalisasi dan eksploitasi.

Anda akan kaget dan mungkin jengkel bila melihat bagaimana kaum wanita melalui gerekan feminisme melontarkan kritik pedas yang bikin telinga anda gatal-gatal dan mempertanyakan keabsahan legitimasi struktural dan kultural terhadap posisi dan peran domistik-publik kaum wanita. Nah bagi wanita atau yang peduli terhadap nasib wanita, anda boleh bangga ternyata kaum wanita sudah hampir melewati tapal batas pembebasannya dari ranah domestik ke domain publik. Akan tetapi anda akan termangu dan bersedih bila melihat di sebelah kiri anda, di wilayah ke-Ibu-an yang menghaparkan cinta kasihnya pada semua. Lihatlah mata Ibu bengkak kerena terlalu banyak mengeluarkan air mata, Ibu mengis tersedu-sedu, Ibu bersedih, murung-durjana melihat onggokan bangkai busuk dari relaitas yang sesungguhnya.

Tanyakan pada Ibu, mengapa ia menangis, bukankah justru harus sebaliknya, Ibu ketawa, ceria dan bangga karena wanita sudah terbebas dari himpitan peran domistik dan diterima dengan uluran tangan kultur publik yang selama tabu bagi wanita. Tahukah anda Ibu menangis bukan kerena itu. Namun yang ditangisnya adalah mengapa babasnya wanita dari penjara domestik dan masuknya mereka ke wilayah publik, justru yang terjadi malah sebalaiknya. Dunia publik adalah penjara baru bagi wanita yang lebih dominatif dan eksploitatif dari yang sebelumnya, sehingga mereka semakin termarginalkan dari keidupan mereka sendiri.
Foto : Googleimage

Wanita di dunianya yang baru ini, justru kehilangan identitasnya, nalurinya dan martabatnya sebagia manusia yang seharusnya dihargai dan dijunjung tinggi. Mengapa..? Tidakkah kita melihat, bagaimana wanita dieksploitasi sedemikian rupa oleh dunia publik.

Sumber : Celoteh Zamzami Saleh

Tuesday, 20 March 2012

Menyaring Berita

foto : googleimages
Oleh : Zamzami Saleh

Fitnah besar pernah menimpa Ummul Mu’minin Aisyah. Peristiwa ini terjadi setelah perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H.  Peperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat.  Karena suatu keperluan Aisyah keluar dari tempatnya (tandu yang diberi hijab) kemudian kembali.  Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Rombongan pun berangkat dengan dugaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam tandunya tersebut.  ‘Aisyah pun duduk di tempat tersebut seraya menunggu tandu tersebut menjemputnya kembali.

Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal.  Ia melihat seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasul!” ‘Aisyah terbangun.  Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya.  Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah.

Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing.  Mulailah timbul desas-desus.  Abdullah bin Ubay (salah seorang tokoh munafik) ikut-ikutan membesar- besarkannya.  Maka fitnah atas ‘Aisyah r. a.  itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.  Tidak hanya kalangan sahabat saja akan tetapi Rasulullah pun mengalami demikian.

Namun akhirnya Allah menurunkan surat Annur ayat 11 untuk menjawab semua tuduhan itu: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.  Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.  Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.  Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”

***

Di zaman Yunani kuno, Sokrates adalah seorang terpelajara dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi.

Suatu hari , seorang pria berjumpa dengan Sokrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda ?”

“Tunggu sebentar,” jawab Sokrates. ”Sebelum Anda memberitahukan sesuatu, saya ingin anda Melewati sebuah ujian kecil. Ujian Tersebut dinamakan ujian saringan tiga kali. ”

“Saringan tiga kali ?” tanya pria tersebut. ”Betul,” lanjut Sokrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin ide yang bagus adalah menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut ujian saringan tiga kali. ”

“Saringan pertama adalah kebenaran. Sudah yakinkah anda bahwa apa yang anda katakan kepada saya memang benar ? “

“Tidak,” kata pria tersebut, “sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan memberitahukannya kepada anda,” “Baiklah,” kata Sokrates “jadi, Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. ”

Sekarang mari kita coba saringan kedua,yaitu kebaikan. ”Apakah yang anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik ?”

“Tidak,sebaliknya, mengenai hal yang buruk. ”

“Jadi,” lanjut Sokrates , “Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin bahwa itu benar . ”

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya yaitu Kegunaan. ”Apakah yang ingin anda beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut berguna untuk saya ?”

“Tidak,sungguh tidak,” Jawab pria tersebut.

“Kalau begitu,” simpul Sokrates,”jika apa yang ingin anda beritahukan kepada saya tidak benar,tidak baik, dan bahkan tidak berguna untuk saya , kenapa anda ingin menceritakannya kepada saya ?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti seseorang,keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum berbicara , gunakanlah saringan tiga kali.

***

Salah seorang teman saya dalam sebuah diskusi berceletuk ,“Jujur saja , hari ini saya tidak bisa lagi mempercayai media. Media hari ini tidak lebih dari propaganda mereka yang berkepentingan. ”

Saya sendiri sepakat dengan ini,meskipun tentunya dengan beberapa catatan. ”Bad news is a good news”, semakin buruk sebuah berita maka akan semakin bagus ratingnya di kalangan pembaca dan semakin asyik pula para media untuk melemparkannya ke masyarakat. Seorang presiden misalnya,bisa saja ceramah panjang lebar tentang kemaslahatan masyarakat di tempat A, namun berita yang mengandung pelajaran berharga tersebut akan tenggelam ketika headline yang muncul adalah “Presiden Curhat tentang gajinya”, apa yang ia sampaikan dalam acara tersebut pun tidak diketahui lagi.

Namun bukan berarti semua berita itu salah. tapi memang butuh kedewasaan,penilaian yang proporsional dan tentu saja saringan yang matang terhadap berita tersebut. Bagaimanapun berita hari ini tetap menyimpan fakta,namun sering kali terasa kabur dan bahkan tidak terbaca akibat ada yang menutupinya. Contoh kasus Arifinto kemaren,fakta yang bisa kita ambil adalah bahwa beliau telah membuka tablet komputernya saat sidang. Sesuai etik wakil rakyat ini jelas sebuah pelanggaran. Namun fakta ini pun kabur tatkala muncul berita bahwa yang ia buka adalah gambar porno, meskipun semestinya hal ini perlu penelusuran lebih lanjut,namun sayang berita sudah kadung di lempar ke masyarakat, dan masyarakat pun siap untuk “menghakimi”.

***

Sokrates telah mengajarkan kita bagaimana menyaring sebuah berita yang sampai kepada kita,sebelum kita memasukkannya ke dalam folder di otak dan (bahkan) hati kita. Benar , baik , dan berguna adalah timbangan kita ,apakah berita tersebut pantas kita masukkan ke otak dan hati atau hanya sekedar masuk telinga kanan dan keluar lagi (yang jelas hal ini akan menghabiskan waktu kita).

Sikapilah berita dengan proporsional dan analisalah dengan objektif. Jangan terlalu berlebihan dalam membenarkan satu sisi dan menjustifikasi sisi yang lain salah. Selalu ada ruang dimana kita bisa terlebih dahulu untuk berbaik sangka terhadap si pelaku dan biarkan proses Check and re-check (tabayun) yang menyelesaikannya. Toh kalau memang itu adalah sebuah kesalahan,yakinlah bahwa ia takkan lepas dari pengadilan yang maha Adil di akhirat kelak di hadapan Allah ta’ala. Wallahu a’lam bish-showab

Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara. ” (HR Muttafaq ‘alaih).

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji.  (HR Muslim)

Seperti Pensil

Foto : terselubung.blogspot.com
Suatu hari ,  seorang anak yang baru masuk sekolah dasar bertanya kepada ayahnya,  “Yah kenapa aku hanya boleh memakai pensil ,  sedangkan kakak boleh memakai pena ,  bukankah pena jauh lebih bagus dari pada pensil ? “ .  Ayahnya tersenyum ,  lalu berkata “ Nak ,  pensil itu memiliki pelajaran yang bagus buat kamu ,  ayah malah berharap kamu seperti pensil saat besar nanti “ .

“Tapi yah ,  pensil itu kan tidak istimewa. Ia Cuma memiliki satu warna ,  dan kadang membuat tangan kotor “ ujar anak itu.  Ayahnya pun menjawab “Itu semua tergantung bagaimana kamu memaknai pensil tersebut “.

“Pensil mengajarkan kita beberapa hal dalam hidup . Walau ia berpenampilan sederhana ,  namun pensil memiliki kualitas prinsip yang bagus , ” lanjut ayahnya.

“ Pelajaran pertama yang bisa kita ambil dari pensil adalah bahwa pensil mengingatkan kita bahwa kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Walaupun kita hanyalah sosok yang sederhana di mata manusia ,  yakinlah bahwa selalu ada Kuasa maha Dahsyat yang selalu membimbing kita. Seperti tangan kita yang kadang berhasil membimbing pensil untuk menulis hal-hal yang luar biasa ,  yakinlah bahwa selalu ada Kuasa Allah yang membimbing kita menurut kehendakNya.  Maka kuatkanlah keyakinan mu kepadaNYA , ”

“ Pelajaran kedua ,  kadang ketika menulis ,  sesekali kita harus berhenti karena ujung pensil sudah tumpul hingga tulisan kurang bagus. Dan kita menggunakan rautan untuk menajamkannya kembali. Nah Rautan ini sudah tentu membuat si pensil menderita ,  namun setelah proses meraut selesai ,  pensil akan tajam dan tulisan pun bagus kembali , ”

“ Begitu juga kita dalam hidup. Kadang hidup kita merasa jalan ditempat saat berbagai penderitaan dan kesusahan melanda. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang “diraut” untuk menajamkan kembali kualitas hidup kita. Kalaulah kita tidak ditajamkan kembali maka hidup ini akan biasa-biasa saja. Kita tidak akan pernah menjadi baik. Karena justru saat penderitaan dan kesusahan datanglah kita sebenarnya sedang dipersiapkan untuk menjadi yang lebih baik lagi .  “

“ Pelajaran ketiga ,  Pensil selalu memberi kesempatan kita untuk menggunakan penghapus agar kita bisa memperbaiki tulisan yang salah. Seperti kita yang selalu berhak untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan dalam hidup ini.  Namun walau begitu sebisa mungkin kesalahan itu diminimalisir ,  jangan sampai salah di tempat yang sama berulang-ulang ,  karena itu menandakan kita tidak pernah mau belajar. Kita bisa lihat bahwa penghapus tidak sepenuhnya bisa membersihkan tulisan yang terlanjur ditulis pensil. Ada titik-titik kotor yang tetap saja menganggu. Seperti perbuatan dan perkataan kita yang membekas kepada orang lain. Walau kita sudah dimaafkan ,  tetap saja meninggalkan noda. ”

“ Pelajaran keempat ,  bagian paling penting dari pensil bukanlah kayu dan hiasan indah yang melapisi luarnya. Bagian terpenting dari pensil adalah arang yang ada didalamnya. Seindah apapun riasan luarnya ,  sebagus apapun kayu yang melapisinya ,  tetap saja pensil tidak akan berarti kalau tanpa arang yang ada didalamnya. Oleh sebab itu selalulah berhati-hati dalam hidup dan sadari potensi serta sifat yang ada dalam dirimu. Memperbaiki Hati dan sifat mu lebih baik dari sekedar mengindahkan tampilan luar mu “

“ Pelajaran kelima ,  pensil selalu memberikan goresan. Bahkan tak jarang ia mengotori tangan mu dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu berhat-hatilah dalam berbuat ,  jangan sampai arang yang sedikit malah membuat kotor banyak tempat. Sadar atas setiap tindakan adalah sebuah kemestian . . . ”

Mari belajar. . . hidup terlalu singkat untuk memikirkan senda gurau belaka

Panduan Praktis Hidup Bahagia


-        
      Oleh : M.Andhika Sakali
             Judul Asli : As’id Nafsaka wa As’idil Ȃkharîn
-          Judul Buku : KAMUS MINI HIDUP BAHAGIA
-          Penulis : Dr. Hassan Syamsi Basya
-          Penerbit : Cakrawala Publishing
-          Jumlah hal : 194 hal
-
Foto : GoogleImages.com
Kebahagiaan merupakan sebuah objek yang terus dicari manusia di setiap masa dan di setiap tempat. Sarana untuk mencapainya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Ia berbeda sesuai dengan perbedaan tabiat masing-masing manusia, kecendrungan-kecendrungan, lingkungan-lingkungan dan kondisi-kondisi mereka yang spesifik. Contohnya, oleh sebagian orang ada yang menganggap bahwa kebahagiaan itu ada dalam kenikmatan-kenikmatan jasadi, maka ia hidup dalam kemaksiatan dan selalu terbuai akan hawa nafsu mereka. Oleh sebagian orang lagi ada yang menganggap bahwa kebahagiaan itu bisa dicapai dengan mengumpulkan harta, sehingga mereka berusaha mengumpulkannya sekalipun dengan cara-cara yang tidak di benarkan. Oleh sebagian orang lagi, kebahagiaan yang sebenarnya dianggap ada dalam kesederhanaan, hanyut dalam lautan ilmu, tolong-menolong dan lain-lain sebagainya.
Berkenaan dengan hal itu, Dr. Hassan Syamsi Basya menghadirkan kepada kita petikan dari rangkaian-rangkaian yang begitu indah, kemudian mengemasnya dalam ungkapan-ungkapan yang sangat global, dalam bukunya yang berjudul ‘KAMUS MINI HIDUP BAHAGIA’. Dalam mukaddimahnya beliau mengatakan bahwa; ‘Bila manusia tahu akan kehidupan, niscaya dia akan menemukan banyak hal yang dapat mewujudkan kebahagiaan dirinya, bahkan mewujudkan surga dalam kehidupan di dunia,  sebelum menyaksikan kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak’. Beliaupun memberikan kesimpulan bahwa kebahagiaan ada dalam pikiran kita. Karena kebahagiaan, kesengsaraan, kegelisahan, dan ketenangan manusia hanya bersumber dari satu hal yaitu dari dalam dirinya sendiri. Sesungguhnya diri manusialah yang akan memberikan warna bagi kehidupannya yang indah, atau sebaliknya, sebagaimana warna benda cair itu ditentukan oleh bejana yang ditempatinya. Pada hakikatnya, kita memang telah hidup ditengah iklim yang penuh dengan anugerah Allah, dan itu mesti kita sadari. Betapa banyak nikmat dan anugrah yang telah Allah berikan kepada manusia, dan betapa banyak pula manusia yang tidak menyadari dan mensyukuri karunia yang Allah telah anugerahkan, kecuali bila kenikmatan tersebut sirna darinya.
Dilain sisi dan yang paling penting adalah, Dr. Hassan Syamsi Basya mengemukakan bahwasanya kebahagiaan yang sebenarnya terdapat pada amal nyata manusia. Kebahagiaan yang sesungguhnya terdapat dalam ketaatan kepada Allah, dalam kecintaan manusia terhadap saudaranya, menolong kaum fakir, membantu orang yang terluka, membangunkan orang yang terjatuh, memberi  makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tidak memiliki dan menyayangi orang yang berhak untuk disayangi. Seorang mukmin yang hakiki memahami bahwa kenikmatan dunia akan berakhir, kedudukan, kekayaan dan keindahan akan sirna. Karenanya, ia berusaha keras untuk mencari ridho Rabb-Nya. Dia akan puas terhadap apa yang dikaruniakan Allah dalam hidup ini. Dia akan bekerja untuk dunianya seakan-akan ia hidup untuk selamanya. Dan ia akan berbuat untuk akhiratnya seakan-akan ia akan mati besok.
Buku berbahasa Indonesia yang berjumlah 194 halaman ini adalah terjemahan dari karya aslinya, yang berjudul “As’id Nafsaka wa As’idil Ȃkharîn”, dan telah dikenai status Best Seller karena penjualannya yang terbilang banyak, khususnya di Timur tengah. Buku tersebut ditulis langsung Dr. Hassan Syamsi Basya, seorang Konsultan penyakit hati di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Raja Fahd, Jeddah.
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang meraih kebahagiaan di dunia dan khususnya di akhirat kelak. Amin.

Saturday, 17 March 2012

Laki-laki Sejati

 Oleh : Zamzami Saleh

Siapa yang tidak kagum dengan Sosok Sayyidah Fatimah ? Jangan tanyakan tentang parasnya karena ia terlahir dari Laki-laki paling tampan se-dunia sepanjang masa. Sikapnya yang lembut , tegas dan  berhiaskan akhlak yang mulia menambah keanggunan putri Rasul Allah yang terakhir itu. Dalam hal ibadah , kesantunan dan kecekatan dalam berusaha , ia termasuk Ratunya. Semua itu sudah cukup untuk menjadi alasan banyak laki-laki untuk meminangnya.

Diantara sekian banyak pengagum Fatimah, masuklah dalam daftar itu seorang pemuda Miskin cerdas bernama Ali bin Abi thalib, sepupu dari Baginda Rasulullah saw. Ia sendiri sudah cukup lama mengenal Fatimah, bahkan bisa dibilang bahwa mereka berdua adalah sahabat sejak kecil.Kekaguman Ali terhadap Fatimah disimpannya rapat-rapat dalam hati.Yah , siapa yang yang tidak kagum ketika melihat seorang gadis cantik berlari menyongsong Ayahnya yang kotor dan penuh luka habis dilempari kotoran unta oleh Kafir Quraisy.Ia basuh luka dan kotoran yang ada di sekujur tubuh ayahnya dengan penuh cinta.Ia tutup luka ayahnya dengan secarik kain agar tak menetes lagi keluar.

Siapa yang tidak jatuh hati melihat ketegasan dan keberanian seorang Perempuan cantik yang berlari menuju ka’bah tatkala Muhammad Rasulullah ayahnya dihina dan ditertawakan oleh pembesar Quraisy.Ia hardik seluruh orang-orang terhormat itu hingga tiada satupun yang bisa membalas menimpali.

Saya tidak tahu apakah waktu itu Sayyidina ‘Ali menganggap bahwa apa yang ia rasa adalah cinta , namun yang jelas batinnya cukup tersentak kaget saat tersiar kabar bahwa seorang laki-laki mulia hendak meminang Fatimah binti Muhammad yang ia kagumi.Laki-laki yang tidak sembarangan tingkat kemuliaannya.Ialah Sayyidina Abu bakar Ash-Shiddiq , laki-laki pertama yang beriman dengan Muhammad.Laki-laki memiliki begitu kuat dalam membela Islam sejak awal syiarnya.Laki-laki yang hidupnya dihiasi keta’atan kepada Allah dan akhlaq yang begitu mulia.

Ali pun merasa bahwa ia sedang diuji oleh Allah.Ia tahu bahwa Abu Bakar jelas lebih pantas dari dirinya.Bukan karena Status Abu bakar yang dari sisi finansial lebih berada darinya , ataupun status kedekatan persahabatannya dengan Rasulullah.Ali tahu bahwa perjuangan Abu bakar terhadap dakwah islam nyaris tiada yang menandingi.Ia menemani dan mendukung penuh Rasulullah hampir dalam setiap keadaan.Beberapa sahabat lain pun masuk islam lewat dakwahnya.Ia banyak memerdekakan budak.Bahkan dari sisi finansial , ia banyak menyumbangkan hartanya kepada Islam (hingga nyaris tiada yang tersisa untuk keluarganya).

Ali pun kemudian mendukung Abu Bakar yang hendak meminang Fatimah.Ia mungkin memang mencintai Fatimah , namun Abu bakar mungkin lebih pandai untuk membahagiakan Fatimah ketimbang dirinya.Cinta memang bukan hanya soal rasa , namun juga soal keberanian dan kesiapan.Cinta juga soal keberanian mengambil kesempatan atau berkorban perasaan.

Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Rasulullah.Semangat Ali pun mulai muncul kembali dan terus ia jaga.Ia persiapkan dirinya sebaik mungkin agar pantas untuk meminang Fatimah.Namun setelah mundurnya Abu bakar , ternyata ada lagi seorang laki-laki yang begitu luar biasa berani dan perjuangannya.Laki-laki yang sejak keislamannya , muslim pun  lebih berani menegakkan mukanya dalam berdakwah.Laki-laki yang bahkan Syetan saja lari terbirit-birit jika mendengar telapak kakinya.Ialah Umar bin Al Khaththab.Ali pun merasa di uji kembali.

Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”.Dan Ali pun harus kembali ridla dan mendukung Umar yang menurutnya lebih pantas dari dirinya.

Sayang , sekali lagi cinta memang soal keikhlasan menerima dan menolak , serta saat diterima dan ditolak.Kabar pun menyeruak , Lamaran Umar juga ditolak.
Di satu sisi kabar ini cukup membuat Ali kembali semangat dalam mempersiapkan dirinya untuk melamar Fatimah , namun disisi lain kabar ini juga membuatnya bingung dan dilema.Kalaulah Abu bakar dan Umar yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya dalam kacamata agama saja masih ditolak oleh Baginda Nabi , apa lagi dirinya yang tidak sehebat mereka berdua.”Menantu macam apa yang kiranya ditunggu-tunggu oleh Rasulullah” , tanyanya dalam hati.Miliarder kaya dermawan seperti Utsman kah yang menikah dengan Ruqayyah dan Umm Kaltsum ? atau seperti Abul ‘Ash bin Rabi’ , istri Zainab binti Rasulullah ?

“Mengapa engkau tidak mencoba kawan ?” ujar teman-temannya menyemangati.”Aku punya firasat bahwa kau lah yang ditunggu-tunggu oleh Baginda Rasulullah” lanjut temannya.

“Aku ?” ujar Ali keheranan.”Yah , engkau kawan ,siapa lagi “ jawab temannya.”Aku hanyalah pemuda miskin , Apa yang akan kuandalkan ? ”

Jelas dari sisi finansial , Ali merasa sangat tidak siap.Hanya satu set baju besi dan sedikit tepung untuk makan yang ia miliki.Namun untuk meminta Fatimah bersabar hingga batas waktu ? ah haruskah dirinya meminta Fatimah untuk menunggu barang satu atau dua tahun dulu agar dirinya siap ? lantas dimana letak keberaniannya sebagai seorang laki-laki ? “Engkau Pemuda sejati , hai Ali” batinnya mengingatkan.

Ali lalu memberanikan diri menghadap ke rumah Rasulullah untuk meminang Fatimah.Ia siapkan satu-satunya harta yang ia miliki berupa baju besi untuk digadakan dan dibelikan mahar.Ia sadar bahwa dirinya adalah pemuda sejati.Pemuda yang siap bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.Pemuda yang berani menanggung konsekuensi atas segala keputusannya.Ia yakin bahwa Allah maha kaya , dan Allah lah yang memberikannya rezeki dari jalan yang tak pernah ia duga.

“Ahlan wa Sahlan” begitu jawaban Nabi sambil tersenyum.Ali sendiri awalnya bingung dengan jawaban tersebut , hingga akhirnya ia diberi tahu bahwa jawaban tersebut adalah keridloan dan kesukaan Nabi Muhammad atas lamaran Ali

Ali adalah potret laki-laki sejati.Ia tahu bahwa cintanya harus ia perjuangkan lewat jalan-jalan Tuhannya.Ia yakin bahwa takdir Allah tidak pernah salah.Ia sadar bahwa usaha dan keyakinan lah yang membawanya seperti ini.Ia siapkan dirinya , ia pantaskan kondisinya, ia kuatkan tekad untuk mencobanya , serta ia siapkan diri untuk menerima kondisi sebaliknya.Ia tahu bahwa cinta tak pernah menanti. Sekarang atau tidak sama sekali.

***

Dalam sebuah riwayat juga dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu.”

Kenapa Fatimah ternyata juga mencintai Ali ? saya rasa para pembaca khususnya wanita sudah mengetahui dan memahami jawabannya.

 “ Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (doa Rasulullah saat pernikahan Sayyidina Ali Ra dan Fatimah Ra)