Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Thursday, 16 June 2011

Sejarah dan Perubahan Sosial Dalam Pandangan Ibnu Khaldun


Dalam buku The Origin and Development of Muslim Historiography,karangan M.G Rasul,dikutip pendapat seorang intelektual Barat,Rogert Flint yang mengatakan,Thomas Hobbes,John Locke,dan Rousseau bukanlah tandingan Ibn Khaldun.Bahkan ,lanjutnya,nama-nama ini tidak layak disebut bersama namanya.Montgomery Watt mengungkapkan kesannya terhadap Khaldun,bahwa karyanya dalam bidang sosiologi merupakan kelanjutan dari pemikiran Ibn Rusyd tentang fungsi agama dan negara.Seakan-akan menambah luas posisi Ibn Khaldun di bidang ilmu pengetahuan sosial dan agama,Bernard Lewis – seorang Orientalis Yahudi – menempat Ibnu Khaldun tidak saja sebagai sejarawan Arab terbesar,bahkan sebagai pemikir sejarah terbesar pada abad-abad pertengahan.
Ibn khaldun lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 ( 1 Ramadhan 732 ) dengan nama lengkap Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi bakar Muhammad Bin Al-Hasan.Keluarganya berasal dari Hadramaut (sekarang wilayah Yaman) dan silsilahnya sampai kepada seorang sahabat Nabi Muhammad saw bernama Wail bin Hujr dari kabilah Kindah.Sewaktu kecil,Ibn Khaldun telah menghapal al-Qur’an dan mempelajari tajwid yang diajarkan oleh ayahnya sendiri.Beliau juga mempelajari ilmu-ilmu lain seperti ; Tafsir,Hadist,Ushul fiqh, Tauhid,Dan fiqh mazhab Maliki.Ia juga mempelajari ilmu-ilmu bahasa ( nahwu,sharaf,serta balaghah ), fisika,dan matematika.Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dari gurunya.Khaldun mulai masuk ke dunia politik dan pemerintahan ketika para pemimpin tunis hijrah ke Maroko.Pada tahun 1350 M (751 H),dalam usia 21 tahun ,ia diangkat menjadi sekretaris Sultan dinasti Hafs.Sejak saat itu lika-liku kehidupan dan karir politiknya mengalami pasang surut sampai pada tahun 1374 M (776 H) dia mengundurkan diri dari dunia politik.Ia menyepi ke daerah Qal’at Ibnu Salamah dan menetap disana sampai tahun 1378 M (780 H).Disinilah ia mengarang kitab monumentalnya berjudul “ Kitab al-‘ibar wa Diman al_mubtada’ wa al-Khabar fi ‘Ibar” (sejarah umum).Kitab setebal 7 jilid ini berisi kajian sejarah, yang didahului dengan Muqaddimah (jilid 1) yang berisi pembahasan tentang problematika social manusia (sosiologi).Kitab Muqaddimah itu sendiri pada akhirnya berhasil menjadi pembuka jalan menuju pembahasan ilmu-ilmu social manusia,oleh karena itu dalam ilmu sejarah islam,Ibn Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu social dan politik islam.
Pada tahun 780 H (1378 M) ,khaldun kembali ke Tunisia untuk menelaah beberapa kitab sebagai bahan untuk merevisi kitab Al-’Ibar.Pada Tahun 784 (1382 M) ia berangkat ke iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekacauan politik dinegeri Maghrib (Maroko),setelah sebulan ia pindah ke Kairo.Disini ia memulai karir di bidang ilmu pengetahuan dengan membuka halaqah di Al-Azhar untuk memberi Kuliah.Pada Tahun 786 H, Raja menunjuknya menjadi dosen ilmu fiqh maliki di Madrasah al-Qamhiyah.Pada 801 H ( 1401 M) ia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan sampai akhir hayatnya.Selama di mesir, ibn Khaldun kembali merevisi kitab al-‘ibar dan menambah pasal kitab Muqaddimah.Peristiwa terbaru ia masukkan demikian juga temuan-temuan ilmiahnya seperti konsep-konsep sosiologis.Ia wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H / 19 Maret 1406.Temuan pentingnya adalah mengenai konsepsi sejarah serta konsep sosilogisnya yang hingga sekarang masih dijadikan bahan utama referensi bagi seluruh ahli sejarah dan sosiologi di Dunia.
Khaldun tentang Sejarah
Kata kunci konsepsi Khaldun tentang sejarah adalah “ ‘Ibaar” yang berarti contoh atau pelajaran moral yang berguna.Kata itu pula yang kemudian digunakan Khaldun sebagai judul buku,di mana ia menuliskan seluruh fikirannya tentang sejarah.Secara terminologis,’ibar, dalam pengertian seluruh bahasa Sempit,berari melalui,melampaui,menyebrang atau melanggar perbatasan,Kelompok Sufi menggunakan kata itu sebagai alat untuk pengembangan dunia batin mereka.Dalam pengertian,untuk melukiskan fungsi spiritual dari semua ungkapan mistik untuk menuju dunia yang lebih jauh(to the world beyond).
Untuk mengetahui posisi sejarah dalam teori Ibn Khaldun,penting difahami defenisi sejarah yang diberikannya.Khaldun melihat ada dua sisi dalam bangunan sejarah,yaitu sisi luar dan sisi dalam.Dari sisi luar,sejarah tak lebih dari rekaman siklus periode dan kekuasaan masa lampau,Tetapi jika dilihat secara lebih mendalam,sejarah merupakan suatu penalaran kritis (nadhar) dan usaha cermat untuk mencari kebenaran;sejarah merupakan suatu penjelasan cerdas tentang sebab-sebab dan asal usul segala sesuatu;ia merupakan suatu pengetahuan yang mendalan tentang bagaimana dan mengapa suatu peristiwa itu terjadi.Definisi tentang sejarah yang demikian membawa Khaldun untuk berpendapat bahwa sejarah itu berakar dalam filsafat (hikmah).Ia pantas dipandang sebagai bagian dari filsafat itu sendiri.
Dengan pertautan sejarah kepada filsafat, Ibn Khaldun nampaknya ingin mengatakan,bahwa sejarah memberikan kekuatan inspiratif dan intuitif kepada filsafat.Di lain pihak,filsafat menawarkan kekuatan logik kepada sejarah.Dengan aset logika kritis seorang sejarawan akan mampu menyaring dan mengkitik sumber-sumber sejarah – tulisan maupun lisan – sebelum ia sampai kepada proses penyajian final dari penyelidikannya.Pandangan inilah yang membawa Khaldun untuk merumuskan “tujuh kritik” dalam historiografi,sebagai cerminan dari sikap kesejarawanannya yang cermat; pertama :sikap memihak kepada pendapat dan madzhab-madzhab tertentu, kedua :terlalu percaya pada pihak yang menukilkan sejarah, ketiga :gagal menangkap maksud-maksud apa yang dilihat dan didengar serta menurunkan laporan atas dasar persangkaan dan perkiraan, keempat :persangkaan benar yang tidak berdasar pada sumber berita, kelima :kelemahan dalam mencocokkan keadaan dengan kejadian yang sebenarnya, keenam :kecendrungan manusia untuk dekat kepada para pembesar dan figur-figur yang berpengaruh, dan ketujuh :ketidaktahuan tentang metoda-metoda kebudayaan.Dengan menggunakan kerangka “tujuh kritik” ini,Khaldun mengkritik berbagai sarjana sejarah,seperti Al-Mas’udi yang dianggap lengah dan mudah mempercayai berita-berita yang tidak masuk akal.
Ibn Khaldun berpendapat,penyelidikan terhadap peristiwa sejarah tidak boleh tidak harus menggunakan berbagai ilmu bantu.Ilmu bantu diistilahkan Khaldun sebagai ilmu kultur (‘ilm al-‘Umran).Ilmu ini berfungsi sebagai alat untuk mencari pengertian tentang sebab-sebab yang mendorong manusia untuk berbuat,melacak akibat-akibat dari perbuatan itu sebagaimana tercermin dalam peristiwa sejarah. Teori kritik sejarah yang dikembangkan Ibn Khaldun,pada dasarnya mendapatkan inspirasi dalam Al-Qur’an.Kenyataan ini, lanjutnya,pernah dikemukakan Iqbal yang mengatakan bahwa Al-Muqaddimah Ibn Khaldun penuh dengan inspirasi Al-Qur’an yang didapatkan pengarangnya.
Agama dan Filsafat
Dalam membahas dua bidang ini – agama dan filsafat – ,Khaldun sebagaimana diungkapkan oleh Ali Audah,perlu untuk melihat apa yang disebut sebagai filsafat ketuhanan, atau yang lebih popular dengan sebutan Ilmu Kalam.Masterpiece Khaldun yang terkenal,Al-Muqaddimah,secara khusus menelaah filsafat ketuhanan ini dalam bab VI.
Ilmu ini ia batasi dengan pengertian sebagai suatu disiplin yang mencakup cara berargumentasi dengan dalil-dalil logika atau dialektika dalam mempertahankan akidah keimanan serta menolak pikiran-pikiran baru yang dalam artian dogma dianggap menyimpang dari keyakinan agama menurut faham ulama salaf (ortodoks) dan kaum Muslimin awal.Betapapun demikian,Khaldun menambahkan bahwa dialektika filsafat tidak mampu membuktikan kebenaran agama,karena agama berada diluar lingkup logika.Disamping itu,dialektika sering mengerut menjadi tak lebih dari semacam permainan retorika dalam bentuknya yang lebih rendah.
Demikian, karenanya,Khaldun dalam setiap pembahasan mengenai Tuhan – filsafat ketuhanan – selalu merujuk pada ajaran-ajaran Al-Qur’an.Seperti pandangannya tentang Tuhan,bagi Khaldun – karena hasil telaahnya terhadap Al-Qur’an – melihat Tuhan sebagai sesuatu tak dapat dipersepsikan,tak dapat dijangkau oleh khayal,perasaan,fikiran dan panca indera.
Demikian ketatnya Khaldun mengikatkan diri pada Al-Qur’an,sehingga seluruh pandangannya tentang filsafat menjadi begitu kritis.Berbeda dengan Ibn Rusyd yang cenderung untuk berspekulasi dalam berfilsafat.Hal ini pula yang merupakan bantahan tegas bahwa Ibn Khaldun terpengaruh oleh aliran skolastik.
Sesungguhnya ,karya Khaldun dalam dunia filsafat – dalam artian professional – hampir hilang oleh kemasyhurannya sebagai seorang sosiolog dan kritikus sejarah.Pandangan-pandangannya tentang filsafat tidak tercermin dalam uraian khusus tentang filsafat,tetapi justru dalam menguraikan metoda-metoda penulisan Sejarah yang terdapat dalam kata pengantarnya dalam Al-Muqaddimah.Namun satu hal yang pasti bahwa dalam kedua bidang ini – agama dan filsafat – Khaldun tetap mempertahankan kekhasannya sebagai pemikir besar,yaitu sikap objektif,rasional dan kritis;tetapi juga merupakan seorang agamawan yang taat – dalam pengertian melihat Al-Qur’an sebagai sumber hukum untuk menimba berbagai pemikiran yang inspiratif. Negara dan hukum
Dalam bidang kemasyarakatan,khususnya bidang negara dan hukum,Ibn Khaldun, menurut Drs.A.Rahman Zainuddin,MA, selalu memakai satu ciri khas,yaitu menceritakan keadaan sebagaimana adanya.Sekali lagi untuk mendukung betapa ‘terikatnya’ Khaldun terhadap Al-Qur’an,metode ini terambil dari ajaran Qur’an sendiri,demikian menurut Zainuddin. Namun demikian,Khaldun berpendapat bahwa pendekatan keagamaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan bukanlah merupakan pendekatan yang tepat.Disatu pihak,,dalam kenyataannya,agama jarang menjadi sentral pemikiran manusia. Dilain pihak,negara-negara yang tidak beragama islam jauh lebih banyak daripada yang beragama Islam.Demikian,karenanya Khaldun mengatakan – dan hal ini agak membingungkan – bahwa pendekatannya terhadap kehidupan manusia didalam masyarakat bukanlah merupakan pendekatan yang bersifat keagamaan.
Apa yang dapat dirumuskan bahwa ketika Khaldun berbicara tentang pendekatan keagamaan dengan pengertian terbatas – yaitu pengertian fiqhiyah yang melihat segala sesuatu dari sudut halal dan haram saja. Sebagai gantinya Khaldun mengajukan suatu alternatif,yaitu suatu pendekatan yang lebih luas ruang lingkupnya dan lebih universal aplikasinya.Inilah yang ia namakan sebagai pendekatan budaya,atau pendekatan dari segi kehidupan manusia didalam masyarakat.Dengan pendekatan semacam ini memungkinkan dirinya untuk melihat kenyataan kehidupan masyarakat,bagaimana ia berjuang mempertahankan diri terhadap alam dan binatang buas,dan juga terhadap sesama manusia sendiri.Termasuk didalamnya adalah bagaimana ia bergulat untuk mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan.Ringkasnya,Khaldun berusaha untuk melepaskan diri dari hukum agama dengan pengertian yang sempit,dan pergi kepada suatu hukum agama yang lebih luas pengertiannya – yaitu yang dinamakan sunnatullah. Dari kerangka berpikir demikian,menurut Khaldun,Negara bukan merupakan hal luar biasa.Ia merupakan kewajaraj dalam perkembangan masyarakat manapun.Negara merupakan hal tertinggi yang dapat dicapai oleh ‘ashabiyah’ (solidaritas) dalam perjalanannya yang panjang.’ashabiyah’ inilah kata kunci dalam pikiran Khaldun karena ia yang menjadi motor kekuasaan.Demikian,negara menempati posisi sentral dalam kehidupan masyarakat,dimana ia digambarkan sebagai pasar yang penuh kegiatan.Dalam ‘pasar’ itu,demikian Khaldun,akan terdapat emas murni dan perak asli,jika negara menjauhkan diri dari kesewenangan,pilih kasih,kebodohan, dan kehinaan serta bertekad untuk menempuh jalan yang lurus.Tetapi jika yang dilakukan sebaliknya maka yang terdapat di ‘pasar’ itu adalah barang rongsokan dan palsu.Demikian,maka negaralah yang menentukan kualitas manusia.Jika negara baik maka kualitas manusia adalah bagaikan emas murni atau perak asli; dan sebaliknya.
Selanjutnya, bagi Khaldun,cara pelaksanaan kekuasaan dalam negara,dibagi menjadi tiga bagian.Pertama, cara pelaksanaan kekuasaan yang lemah lembut dan penuh keadilan; kedua, cara pelaksanaan kekuasaan dengan penuh dominasi,mempergunakan kekerasan dan intimidasi; dan ketiga, cara pelaksanaan kekuasaan dengan menjatuhkan hukuman dan sangsi-sangsi.
Dengan pelaksanaan kekuasaan yang pertama,manusia akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi yang terdapat didalam dirinya.Ciri yang paling menonjol dalam masyarakat seperti ini bahwa setiap orang megemukakan pendapatnya sebagaimana adanya,tanpa disadari oleh rasa takut dan tanpa ada orang yang menghalangi.Demikian arus informasi menjadi begitu deras. Dalam masyarakat ketiga,dimana kekuasaan diletakkan dengan kekerasan dan intimidasi,moral rakyat akan hancur sama sekali.Jika rakyat diperlakukan secara tidak adil dan tidak mendapat kesempatan untuk mempertahankan diri serta menjelaskan perkara yang dialaminya, maka didalam hatinya ia amat terhina dan meghancurkan daya tahannya sebagai manusia.Dalam kerangka ini Khaldun merasa kagum terhadap orang Baduwi yang hidup bebas merdeka di tengah padang pasir.
Dalam masyarakat kedua,rakyat akan memiliki jiwa penakut.Hal ini akan merugikan daya ketahanan nasional,sebab rakyat akan menjadi malas dan dihinggapi oleh perasaan acuh terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.
Untuk mengatasi kesemuanya itu perlu suatu ideologi nasional.Dimana ia merupakan pengikat dan sumber hukum nasional yang ditaati oleh masyarakat.Ideologi nasional semacam itu,menurut Khaldun, dapat dibagi-bagi dan dikategorisasikan berdasarkan sumber pengambilanya.Pertama,ideologi yang bersifat politis rasional,dimana ideologi tersebut dihasilkan dan diwajibkan oleh para cendikiawan dan pembesar negara.Kedua,adalah ideologi nasional berdasarkan politik keagamaan,dimana Allah dengan perantara Rasulnya,merupakan sumber pemberitahuan manusia akan pentingnya suatu nilai.Diantara kedua ideologi tersebut diatas,jelas,Khaldun memilih ideologi yang kedua.Sebab,menurutnya,ideologi keagamaan akan menjamin kehidupan dunia dan akhirat.Manusia dalam hidup ini tidak semata-mata menuju pada dunia saja,sebab seluruh dunia itu “hampa” dan “bathil” – kematian dan kefanaan.Pandangan ideologis dari sudut politik semata tidaklah lengkap,karena memandang sesuatu tanpa nur -Allah. Khaldun tentang perobahan sosial
Para ilmuwan sosial sependapat,bahwa kemajuan dan kemunduran suatu masyarakat merupakan fakta sejarah.Tetapi apakah dan siapakah yang menggerakkan dan memungkinkan terjadinya perobahan sosial itu?Tentang hal ini berbagai pendapat bermunculan.Bagi Plato,Kong Fu Tse,Thuoydides,Machiavelli,misalnya,penggerak social adalah mereka yang tengah memegang posisi sentral,yaitu para penguasa. Namun bagi Ibn Khaldun ,ia berbeda dengan tokoh-tokoh di atas.Maju-mundurnya suatu masyarakat tidaklah disebabkan keberhasilan atau kegagalan sang Penguasa,atau akibat peristiwa kebetulan atau takdir.Namun,bagi Khaldun,ia lebih mengandalkan masyarakat syari’iyyah yang akan mengalami perobahan yang sebaik- baiknya.Akan tetapi bukan hal ini sesungguhnya yang dialami Khaldun,tetapi justru perobahan sosial sebagaimana yang berlangsung secara global itu sendiri.
Bagi Khaldun,semua perobahan sosial menyusur rentang waktu sekitar 120 tahun,terangkat atas tiga generasi yang masing-masing berusia 40 tahun.Lagi-lagi teori ini,menurut Mahyuddin,karena inspirasi yang didapat Khaldun dari Al-Qur’an.Betapa pun teori ini masih dapat diperdebatkan,tapi yang justru menarik adalah persoalan ‘ashabiyah yang terdapat dalam anggota masyarakat itu. Dengan melihat tinggi-rendahnya kadar ‘ashabiyah di atas,Khaldun menggolongkan masyarakat atas dua bagian.Pertama,masyarakat Badawah(baduwi),dan kedua: masyarakat hadharah(berperadaban).Yang pertama merujuk pada suatu golongan masyarakat sederhana,hidup mengembara dan lemah dalam peradaban.Tetapi perasaan senasib,dasar norma-norma,nilai-nilai serta kepercayaan yang sama pula dan keinginan untuk bekerjasama merupakan suatu hal yang tumbuh subur dalam masyarakat ini.Pendeknya,’ashabiyah (solidaritas)dalam masyarakat ini begitu kuat.Akan halnya masyarakat kedua,ditandai oleh hubungan sosial yang impersonal dan seringkali superficial.Masing-masing pribadi berusaha untuk memenuhi kebutuhan pribadinya,secara masing-masing,tanpa menghiraukan yang lain.Demikian,Khaldun menjelaskan bahwa semakin moderen suatu masyarakat semakin melemahlah nilai ‘ashabiyah atau solidaritas.Integrasi sosial yang rendah mengakibatkan kontrol sosial yang rendah pula.Sebaliknya,integrasi sosial yang tinggi akan membuahkan kontrol sosial yang tinggi pula.
‘Ashabiyah dan konsepsi Khaldun tidak dapat dipisahkan dengan konsep kekuasaan.Bahkan ‘ashabiyah’ identik dengan power.Demikian,kelihatan dalam sejarah betapa berbagai kerajaan besar dihancurkan oleh golongan masyarakat Badawah.Di Eropa,zaman masyarakat ini diwakili oleh orang Barber yang menaklukkan berbagai kekaisaran. Suatu masyarakat Badawah yang dipimpin oleh seseorang yang dapat diterima akan dapat melumpuhkan golongan masyarakat Hadharah yang sekarat.Mereka mengambil alih seluruh kekuasaan dan budaya yang dimiliki golongan Hadharah.Lambat laun golongan Badawah yang menghancurkan golongan Hadharah,kehilangan kebaduwiannya,’ashabiyahnya,dan menjadi Hadharah yang akan digeser oleh golongan Badawah berikutnya.Demikian,hal ini akan selalu terjadi bergantian.Konflik eksternal dalam masyarakat,akan menimbulkan sirkulasi dan perobahan struktur kekuasaan.Inilah yang disebut Khaldun sebagai proses daur sejarah yang berlangsung dari masa ke masa,dari generasi ke generasi. Menurut Mahyuddin,teori proses daur sejarah Ibn Khaldun ini lebih unggul dibanding dengan teori lenear masyarakat modern sebagaimana yang dikemukakan oleh para penganut Marx, Weber atau kalangan modernisme lain.Sebab ketika ditanyakan kepada mereka: Apa sesudah komunisme ? Apa sesudah kapitalisme ? Dan apa sesudah modernisme ?Terdapat kesulitan bagi mereka untuk menjelaskannya.Hingga di sini beyond komunisme,kapitalisme,dan modernisme, terdapat kebuntuan untuk memproyektir masyarakat apa yang ada sesudahnya.
Demikian,si Tunisia Ibn Khaldun tampil sendirian sebagai genius sejarah terbesar dari Islam yang pertama melahirkan suatu konsepsi filosofis dan sosiologis tentang sejarah.Jika dalam buku Ideas and History,Cromwell disebut sebagai “pembuat sejarah” – tetapi tak pernah menulis sejarah – , maka Ibn Khaldun adalah pembuat sejarah dan sekaligus penulis sejarah.

*oleh : Zamzami Saleh 

Monday, 3 January 2011

Waktu yang Memaksa Kita Untuk Berpisah

Kebahagiaan seorang anak adalah ketika mereka mendapatkan kasih sayang dari  kedua orang tuanya. Dan di kala  mereka memasuki  masa pubertas mereka lebih membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih besar.  Tapi kenyataannya tidak semua anak bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Maka simaklah sebuah kisah yang mengandung berjuta hikmah bagi segenap yang membaca.



Hadirlah seorang anak kecil yang sangat periang dan humoris. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya karena ayahnya meninggalkannya ketika dia masih kecil. Sebut saja namanya  Aisyah. Semenjak usia 12 tahun, Aisyah sudah tinggal di pesantren. Karna dia anak yang kurang mampu dari segi ekonomi dia masuk pesantren itu dengan catatan dia harus bersih-bersih di pesantren. Meski hanya menyapu, mengepel dan kadang-kadang harus menyetrika, untuk anak seumur dia adalah pekerjaan yang berat, tapi demi menuntut ilmu dia menjalani  dengan senang hati

Hari-hari Aisyah disibukan dengan berbagai kegiatan dari pagi sampai sore. Aisyah mempunyai 24 teman dalam satu kelas. Dia termasuk anak yang humoris dan jika dia tidak masuk kelas maka kelaspun sunyi, itulah kelebihan Aisyah. Dia anak yang baik dan senang membuat teman-temannya tertawa dengan ide-ide goribah-nya.

Hampir semua anak pesantren mengenal Aisyah karena dia anak yang rajin dan selalu membantu teman-temannya. Empat tahun sudah dia tinggal di pesantren, dia tidak sendiri karna dia selalu bersama teman-temannya. Dan dia juga mempunyai kakak angkat yang bernama Zahroh.

Pada suatu sore Aisyah dan Zahroh berbincang-bincang sambil duduk santai. Zahroh bertanya, “Siapakah orang yang kamu sayangi?”

Aisyah menjawab, “Ibuku...”. “Kenapa?” Tanya Zahroh lagi.

“Karena ibuku adalah pahlawan buat aku. Karna ibuku adalah orang yang selalau setia menemaniku, meski kerap kali aku memuat jengkel tapi ibuku tak pernah marah. Dia orang yang sangat sabar, dia rela berkorban demi aku…” jelas Aisyah panjang lebar.

Zahroh masih bertanya lagi, “Siapakah orang yang kamu benci?”

Aisyah menjawab dengan tegas, “Ayahku!”

Zahroh bertanya kembali dengan raut muka yang sedikit kaget, “Loh, kenapa?”

“Karna ayahku  menyakiti hati ibuku dan dia pergi dengan wanita lain,” jawab Aisyah dengan enggan.

Perbincangan itupun berakhir dikarnakan bunyi jaros yang menandakan waktu bagi seluruh  santriwan santriwati berkumpul di masjid mempersiapkan sholat Magrib berjemaah dan disambung dengan kajian salafiyah.

Fajar pagipun menyambut dengan hangatnya. Semua santri sudah siap menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh ustad  Asep. Di tengah pelajaran, santri di hebohkan dengan sakitnya Aisyah secara tiba-tiba. Dia batuk-batuk sampai mengeluarkan darah dan seketika itu juga langsung pingsan. Ahirnya ruangan kelaspun menjadi ribut dengan isak tangis teman-temannya yang merasa khawatir dengan kondisi Aisyah saat itu.

***

Sudah hampir satu minggu tapi penyakit Aisyah tidak kunjung sembuh, malah penyakitnya bertambah parah. Ketika ibunya mengetahui anak kesayangannya sakit keras, beliau langsung meminta izin kepada pihak pesantren supaya Aisyah dirawat di rumah. Bapak pimpinan pesantren langsung mengizinkan. Aisyah pun di rawat di rumah. Tanpa bisa disembunyikan, isak tangis ibunya terdengar sangat jelas di telinga Aisyah. Meski kondisi Aisyah sangat lemah tapi dia berusaha untuk menghibur hati ibunya. Aisyah berkata, “Ibu, janganlah kau menangis karna tangisan ibu lebih membuat hati Aisyah sedih dari pada penyakit yang aku alami,”. Seketika itu ibunya pun memeluk dan menciuminya. Aisyahpun tersenyum meski senyuman itu diiringi dengan butiran air mata.

Hari berganti hari tapi tak terlihat tanda-tanda kesembuhan malah semakin hari semakin parah. Setiap batuk Aisyah selalu mengeluarkan darah. Melihat penyakit yang diderita anak kesayangannya, hati ibunya serasa di cabik-cabik,.Tanpa berfikir panjang ibunya pun membawa Aisyah ke rumah sakit meski dengan uang yang pas-pasan, ibu Aisyah tetap nekat. Sudah hampir lima hari Aisyah dirawat di rumah sakit ahirnya kondisi Aisyah sedikit membaik. Teman-temannyapun sebagian menjenguk Aisyah ke rumah sakit sambil membawa sedikit bantuan uang perawatan selama Aisyah di rumah sakit,. Sedangkan biaya obat Zahroh yang menanggung. Meski keadaan  Aisyah belum sembuh total Aisyah ingin sekali cepat –cepat kembali ke pesantren untuk menggali ilmu kembali. Karna semangatnya yang begitu besar ibunyapun tidak bisa menahannya.

Aisyah kembali ke pesantren dengan wajah yang berseri-seri meski terlihat masih sedikit pucat.

Dia ahirnya bisa mengikuti kegiatan seperti biasanya. Nampak keceriaan di muka Aisyah dan teman-temannya setelah beberapa minggu mereka berpisah. Tapi kini perpisahkan itu memberi kehangatan ketika rindu telah terobati dengan kembalinya sosok wanita yang selalu semangat belajar dan berjuang menuntut ilmu itu ke pesantren.

***

Hari barganti hari kini masanya mereka menuai buah kebahagaiaan karena tinggal tiga bulan lagi mereka di wisuda. Di tengah keceriaan temannya semua, lagi- lagi Aisyah pingsan dan keluar darah dari mulutnya. Ternyata penyakitnya semakin parah meski fisiknya terlihat seperti orang sehat tapi tubuhnya lemah. Kali ini penyakit Aisyah bertambah parah. Hampir sekujur tubuhnya dibasahi oleh darah. Dia batuk-batuk sambil mengeluarkan darah yang begitu banyak.

Suara tangis para santri terdengar keras. Mereka tidak tega melihat kondisi temannya itu yang seakan-akan mau menemui ajalnya sebentar lagi. Ketika ibunya dikabarkan Aisyah sakit, ibunyapun langsung menemuinya. Sesampainya di pesantren, pecahlah tangisannya yang terdengar begitu jelas menyisakan haru dan pilu bagi orang yang mendengarnya. Rasa resah dan gelisah beriringan dengan rasa takut yang begitu besar menyelimuti hati ibu Aisyah. Alangkah kagetnya ketika ibu Aisyah melihat kondisi anaknya yang semakin kritis, beliau langsung memeluk anaknya. Ia berkata dalam hati Ya Tuhan jangan KAU cabut nyawa anaku, cabut sajalah nyawaku aku rela menukar nyawaku dengan nyawa anaku”. Aisyah kemudian berkata, “Ibu maafkan Aisyah kalau selalu merepotkan Ibu dan tidak bisa menemani Ibu lagi. Ibu aku mencintaimu. Aku selalu berdoa supanya Allah Swt  menyatukan hati kita tidak hanya di dunia ini saja, tapi kita akan selalu bersama dalam naungan ridho-NYA”. Ahirnya dia meninggal. Tangisan teman-temannya pun semakin terdengar. Rasanya mereka tidak percaya kalau temannya kini sudah meninggal. Di dalam saku Aisyah ditemukan sebuah surat.
Untuk ibuku tercinta


Ibu, entah kenapa hati ini merasa bahwa kita akan berpisah. Meski aku sebenarnya tidak ingin pergi meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu. Di wajahmu aku melihat ketegaran dan keikhlasan. Meski sebenarnya aku merasakan kesedihan dalam hati ibu, tapi tidak terlihat dalam wajahmu rasa sedih sedikitpun. Meski aku belum dewasa tapi aku tahu bahwa perpisahan itu akan menyisakan rasa luka, apalagi jika kesetiaan di balas dengan penghianatan. Aku benci sama ayah, ayah meninggalkanku di kala aku masih berumur  tiga tahun. Aku iri sama teman-teman di saat mereka mendapatkan kasih sayang kedua orang tua, aku hanya mendapatkan kasih sayang dari ibu. Ibu yang selalu menemaniku, menyayangiku, memelukku dan melindungiku. Sedangkan ayah bersenang-senang dengan istri mudanya. Ayah…kembalilah.

Tuhan aku berharap jangan kau pisahkan aku dengan ibuku, karna aku belum sempat  membahagiakannya, menghapus semua luka yang digores oleh ayah ku sendiri. Aku berjanji akan membahagiakan ibuku sampai akhir hayatnya.Tapi jika aku yang mendahuluinya maka waktulah yang memisahkan kami, hatiku hanya untuknya meski aku tidak lagi bersamanya....

Penulis :

Sukmi sujanah

Sekretaris I

Perwakilan PII Mesir 2010-2012

*Tulisan ini juga di muat di Buletin “Musafir” PWK PII Mesir Edisi Desember 2010





Sunday, 26 September 2010

Konferensi Perwakilan VII PII Republik Arab Mesir

Sabtu (25/09),Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (PII ) Republik Arab Mesir Mengadakan Konferensi Perwakilan VII di Griya Jawa Tengah .Konferensi yang mengambil tema "Revitalisasi Gerakan Pelajar Islam Indonesia sebagai Pemersatu Umat" dimulai pada pukul 12.30 Waktu Kairo dan dibuka langsung oleh Presiden PPMI Mesir,Saudara Falahudin nurhalim.Dalam sambutannya,Presiden PPMI mengajak Kader PII Mesir untuk bersama-sama membangun dinamika masisir yang sehat dan produktif sehingga menghasilkan mahasiswa yang berkualitas.Acara pembukaan Konper VII PII Mesir ini juga diisi dengan pembacaan puisi oleh rumah akar budaya.

Setelah acara pembukaan,agenda Konferensi memasuki sidang pleno I yang membahas tentang tata tertib konferensi,tentatif acara dan pemilihan presidium sidang.Dalam Sidang Pleno II LPJ pengurus perwakilan PII Mesir periode 2008-2010 pun dibacakan dan kemudian ditanggapi oleh peserta konferensi.Andy Haryono selaku ketua umum Perwakilan PII Mesir periode 2008-2010 dalam LPJ nya menyebutkan adanya peningkatan jumlah kader pada masa jabatannya.Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya tiga kali Basic training yang menghasilkan lebih dari 30 kader.Dalam periode nya juga diselenggarakannya Advance Leadership Training untuk pertama kalinya di Mesir.LPJ PII Mesir Periode 2008-2010 pun diterima dan Jajaran pengurusnya resmi Demisioner.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan sidang pleno III yang membahas Master Plan Perwakilan PII Mesir untuk tahun 2010-2014 dan rekomendasi Internal dan eksternal.Salah satu poin pokok yang dituangkan dalam Master plan adalah untuk mewujudkan organisasi yang sehat dan dinamis di masisir.Dalam Sidang Pleno III ini juga dibahas kriteria calon ketua umum periode 2010-2014.Sidang pleno IV pun dilaksanakan dengan agenda pemilihan dewan formatur dan Ketua Umum Periode 2010-2012.Konper VII PII mesir akhirnya mengamanahkan Kepemimpinan PII Mesir periode 2010-2012 kepada Zamzami saleh.

Konper VII PII mesir akhirnya ditutup secara resmi oleh salah seorang keluarga besar PII Mesir,Ustad Udo yamin efendi.Dalam sambutannya,Udo yamin berpesan kepada segenap kader PII Mesir agar selalu menjaga komunikasi sehingga konflik-konflik yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik.Selain itu sesuai dengan tema yang diangkat dalam konferensi kali ini,Udo yamin juga mengharapkan kepada PII Mesir agar bisa menjadi media rekonsiliasi di tengah-tengah masisir layaknya PII pada masa awal berdirinya.

Konper VII PII mesir ini dihadiri oleh kurang lebih 35 orang kadernya dan berakhir pada pukul 00.00 waktu kairo.

Sunday, 22 August 2010

Buka Bersama Kader PII Mesir

“Kalau Nabi Muhammad saw dalam salah satu sabdanya berkata bahwa jikalau seorang Hamba mengucapkan Subhanallah,walhamdulillah wa laa ilahaillallah wallahu akbar maka akan tumbuhlah satu pohon korma untuknya di akhirat,bayangkan berapa banyak pohon korma kita yang sia-sia akibat kita menyia-nyiakan waktu kita ” demikian bunyi salah satu taushiyah dari sekian banyak taushiyah yang disampaikan oleh Kanda Zulfi Akmal Lc.Dipl dalam acara buka bersama Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) di Markas Besar Perwakilan PII Mesir Minggu,22 Agustus 2010.

Dalam Acara Buka Bersama yang bertempat di Markas Besar PII Mesir tersebut,Kanda Zulfi yang pernah menjadi aktifis PII di Sumatera Barat tersebut juga mengingatkan kepada semua kader PII untuk tetap menjaga idealisme Keislaman yang merupakan identitas kader PII dalam bentuk perbuatan nyata,Artinya agar seluruh tindak-tanduk kader PII semuanya harus merujuk kepada islam sebagai identitas kader PII,dan agar memanfaatkan moment Ramadhan ini untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam beribadah,dan menyempurnakan amalan-amalan yang selama ini dirasa kurang.

Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan tilawah oleh salah seorang kader PII dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Perwakilan PII Mesir,Saudara Andi Hariyono.Dalam Sambutannya,Andi kembali mengingatkan kepada kader semua bahwa dimanapun kader PII berada ,Islam Harus tetap menjadi dasar pergerakan.Oleh Karena itu ketika berada  dalam kondisi dimana perbedaan sangat mungkin terjadi diharapkan para kader lebih mendahulukan Identitas Islam nya dalam bertindak,ketimbang tendensi-tendensi lainnya.Acara pun berlanjut dengan agenda Taushiyah Ramadhan dari Kanda Zulfi Akmal.

Berkumandangnya azan maghrib pertanda waktu untuk berbuka puasa pun membuat acara di break sebentar untuk Buka bersama dan dilanjutkan dengan shalat maghrib bersama.Setelah Shalat maghrib selesai,makan malam pun dihidangkan.Sambil menikmati makan malam,Kanda Zulfi meminta para kader untuk memperkenalkan diri.Acara buka bareng tersebut ditutup dengan tanya jawab dengan Pemateri dan diakhiri dengan Do’a bersama.

Acara buka bersama ini sendiri dihadiri kurang lebih 20 orang kader PII dan merupakan inisiatif beberapa kader baru PII alumni Leadership Basic Training yang dilaksanakan di Tajammu’ awal New Cairo Akhir Juli Kemaren.

“Kalau Nabi Muhammad saw dalam salah satu sabdanya berkata bahwa jikalau seorang Hamba mengucapkan Subhanallah,walhamdulillah wa laa ilahaillallah wallahu akbar maka akan tumbuhlah satu pohon korma untuknya di akhirat,bayangkan berapa banyak pohon korma kita yang sia-sia akibat kita menyia-nyiakan waktu kita ” demikian bunyi salah satu taushiyah dari sekian banyak taushiyah yang disampaikan oleh Kanda Zulfi Akmal Lc.Dipl dalam acara buka bersama Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) di Markas Besar Perwakilan PII Mesir Minggu,22 Agustus 2010.

buber pii 2

Dalam Acara Buka Bersama yang bertempat di Markas Besar PII Mesir tersebut,Kanda Zulfi yang pernah menjadi aktifis PII di Sumatera Barat tersebut juga mengingatkan kepada semua kader PII untuk tetap menjaga idealisme Keislaman yang merupakan identitas kader PII dalam bentuk perbuatan nyata,Artinya agar seluruh tindak-tanduk kader PII semuanya harus merujuk kepada islam sebagai identitas kader PII,dan agar memanfaatkan moment Ramadhan ini untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam beribadah,dan menyempurnakan amalan-amalan yang selama ini dirasa kurang.

Buka bersama PII mesir 1Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan tilawah oleh salah seorang kader PII dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Perwakilan PII Mesir,Saudara Andi Hariyono.Dalam Sambutannya,Andi kembali mengingatkan kepada kader semua bahwa dimanapun kader PII berada ,Islam Harus tetap menjadi dasar pergerakan.Oleh Karena itu ketika berada  dalam kondisi dimana perbedaan sangat mungkin terjadi diharapkan para kader lebih mendahulukan Identitas Islam nya dalam bertindak,ketimbang tendensi-tendensi lainnya.Acara pun berlanjut dengan agenda Taushiyah Ramadhan dari Kanda Zulfi Akmal.

Berkumandangnya azan maghrib pertanda waktu untuk berbuka puasa pun membuat acara di break sebentar untuk Buka bersama dan dilanjutkan dengan shalat maghrib bersama.Setelah Shalat maghrib selesai,makan malam pun dihidangkan.Sambil menikmati makan malam,Kanda Zulfi meminta para kader untuk memperkenalkan diri.Acara buka bareng tersebut ditutup dengan tanya jawab dengan Pemateri dan diakhiri dengan Do’a bersama.

buber 3

Acara buka bersama ini sendiri dihadiri kurang lebih 20 orang kader PII dan merupakan inisiatif beberapa kader baru PII alumni Leadership Basic Training yang dilaksanakan di Tajammu’ awal New Cairo Akhir Juli Kemaren.

Saturday, 14 August 2010

Warna-warni Ramadhan dan Hidangan Tuhan di Mesir

Foto : Annida Online
Ramadhan di Mesir sangat terasa berbeda dibanding hari-hari biasa. Beberapa hari sebelum Ramadhan, di setiap jalanan dan toko-toko menjual lampu Fanous yang dipasang tiap jalan atau depan pintu apartemen.

Dahulu lampu Fanous sering digunakan sebagai lampu penerang jalan menuju masjid atau rumah handai taulan saat malam hari. Konon, awal mula lampu Fanous digunakan masyarakat Mesir untuk menyambut kedatangan Khalifah Muiz Lidinillah pada masa dinasti Fathimiyah pada tanggal 5 Ramadan 358 Hijriah.

Sekarang, lampu Fanous menjadi salah satu tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadan di Mesir. Bagi rakyat Mesir, lampu Fanous memiliki nilai filosofi yang berarti ungkapan kebahagiaan, kegembiraan serta kesyukuran dalam menjamu tamu Agung yaitu bulan Ramadan. Biasanya para orang tua akan selalu membelikan Fanous dan menghadiahkannya kepada anak-anaknya dan menjadi mainannya.

Sepanjang bulan Ramadan, dalam tradisi Mesir, orang-orang mengenakan Galabiya (jubah) dan topi. Dua jam jelang subuh, orang-orang Turki menyusuri jalan-jalan dengan mengenakan galabiya dan topi untuk membangunkan penduduk sahur sambil memukulkan Baza (drum kecil).

Mirip seperti yang dilakukan di kampung-kampung di Indonesia. Namun, tradisi itu hanya berlaku di beberapa kawasan saja, seperti di kawasan Bathniya (belakang masjid Al-Azhar), sebagian distrik 10 serta beberapa kota di luar propinsi Kairo seperti Tafahna Al-Asyraf Propinsi Daqahliyah.

Ketika waktu Magrib akan tiba, selain suasana sunyi senyap jarang ada mobil yang lewat, kita akan melewati banyak sekali tenda-tenda yang dibangun, meja-meja yang berjejer rapi siap dengan hidangan aneka ragam makanan untuk berbuka puasa dan gratis untuk dinikmati oleh semua orang. Bukan hanya orang miskin boleh datang, semua orang yang kebetulan berada di jalan itu ketika saat berbuka tiba.

Negeri Alquran
Awal Ramadhan di Mesir diumumkan oleh Mufti Syeikh Ali Gouma dan disiarkan secara langsung melalui chanel televisi. Dua tahun terakhir ini di Mesir pengumuman penetapan bulan Ramadhan diadakan di Azhar Convention Center kawasan Rabea Adawea dan mengundang seluruh para cendekiawan, ulama, tokoh serta pejabat negara termasuk sebagian mahasiswa asing ikut menghadiri acara tersebut.

Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Mesir mengatakan, Ramadhan di Mesir tahun ini pada akhir musim panas. Waktu siang agak panjang dibanding musim biasa. “Untungya Ramadhan sudah akhir musim panas sehingga cuaca tidak terlalu panas saat menunaikan ibadah Ramadan,” ujar Mahir.

Biasanya, di musim panas azan subuh berkumandang pukul 05.00, sedang azan maghrib berkumandang pukul 19.30. Namun, kata Mahir, awal minggu pertama Ramadan ini terjadi perubahan waktu, azan subuh pukul 04.00 dan magrib pukul 18.15.

Mahir menceritakan masjid-masjid menjadi semakin penuh saat Ramadhan. Salat lima waktu pun lebih banyak dari hari-hari biasa. Meski begitu, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa masuk kantor bagi pegawai kantoran baik swasta maupun pemerintahan. Sedang para siswa dan mahasiswa masih berkutat dalam kesibukan mengisi hari-hari liburnya selama musim panas.

Ramadhan di Mesir menjadi bulan Alquran. Masyarakat Mesir, imbuh Mahir, cukup religius dalam keseharian mereka, utamanya dalam interaksi mereka dengan Alquran. Selama Ramadhan semarak lantunan Alquran saling bersahutan. Sepanjang jalan, di bis-bis kota, penjaga toko, polisi atau satpam, anak-anak sampai orang tua pun semua saling berlomba membaca dan mengkhatamkan Alquran apapun kondisi mereka saat itu. Baik dengan bacaan pelan (sirr) atau keras (jahr).

Ada yang mengulang hapala atau menambah jumlah bacaan. Ketika memasuki masjid, baik sebelum atau sesudah menunaikan salat, orang-orang berlomba membaca Alquran dan mengkhatamkannya.“Untuk mengejar target kebaikan dan pahala berlipat ganda pada bulan Ramadan,” tutur Mahir.

Bahkan, Ramadan kali ini Kementerian Wakaf mengadakan "Musabaqah Tahfizh Alquran Internasional ke-17". Lomba Musabaqah itu melibatkan peserta dari 117 Negara. Shalat tarawih di Mesir, kita akan menjumpai masjid dengan dua pilihan, salat tarawih 20 Rakaat atau 8 Rakaat. Umumnya, masjid-masjid di Mesir menunaikan salat tarawih 8 Rakaat. Bacaan surat pun beragam, mulai dari surat-surat pendek, satu juz dan tiga juz setiap salat tarawih.

Maidatur Rahman (Hidangan Tuhan)
Tradisi unik lain kala Ramadhan, ujar Mahir, adalah Maidatur Rahman atau memberikan hidangan puasa. Menurut sebagian sejarawan, permulaan adanya Maidaturrahman atau memberikan hidangan buka puasa saat bulan Ramadan terjadi pada masa Rasulullah Saw.

Di Mesir, Maidaturrahman memiliki sejarah yang panjang. Konon dimulai saat Harits bin Laits seorang Ahli Fiqh dan Hartawan saat bulan Ramadan dia hanya berbuka dengan memakan Foul (kacang khas Mesir yang sudah diolah).

Kebaikan sosial para dermawan di Mesir, menurut Mahir, patut diacungi jempol. Salah satu bentuknya adalah pemberian bantuan (musa'adah) dalam bentuk uang, makanan atau sembako kepada para fakir miskin termasuk juga kepada mahasiswa asing yang belajar di sini. “Kita sebagai mahasiswa tidak direpotkan dengan urusan masak, cukup pergi ke masjid atau ke tempat-tempat terbuka yang menyediakan maidaturrahman,” papar Mahir.

Maidaturrahman diberikan dalam bentuk take away. Ada beberapa lokasi penyedia maidaturrahman, seperti di Distrik Tujuh, menu makanan yang terbilang istimewa dibagikan dari restoran cepat saji Cook Door. Juga di distrik Delapan, biasanya ramai mahasiswa asing mengantre untuk mendapatkan jatahnya dengan beragam menu.

Waktu pembagian dimulai sejak pukul 16.30 sampai menjelang azan magrib. Menu yang dibagikan berbeda-beda, karena penyumbang hidangan berbuka puasa itu biasanya lebih dari tiga orang. Setiap penyumbang maidaturrahman minimal menyumbang 100 kotak berisi makanan.

Selain di tempat tersebut, maidaturrahman bisa kita dapatkan di masjid-masjid. Baik di dalam masjid, ataupun di pelataran teras masjid. Rata-rata di masjid kita hanya diberikan ta'jil kurma saat azan magrib berkumandang, tidak sedikit pula seorang dermawan yang memberikan minuman manis seperti tamr hind (terbuat dari Asam) dana subiya (terbuat dari santan kelapa) di depan pintu masjid sebelum jamaah memasukinya.

Saat berbuka menunya pun beragam, seperti nasi, isy (roti gandum), daging, ayam, buah-buahan, sayur kacang dan kentang. Cara menghidangkannya pun beragam pula. Di beberapa masjid besar, biasanya makanan tersaji dengan rapi dan bersih. Setiap orang mendapat jatah satu kemasan yang berisi makanan. Ada juga masjid-masjid yang menyediakan makanan dalam wadah-wadah besar, untuk dinikmati bersama-sama.

Rata-rata masyarakat Mesir yang sudah berkeluarga akan berbuka di rumah bersama keluarganya, sedang masyarakat Mesir seperti para pekerja kasar, penjaga warung berbuka di masjid atau di tempat-tempat terbuka. Begitu juga dengan mahasiswa asing seperti Rusia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Afrika dan tak ketinggalan Indonesia. Semua terbuka dan tidak memandang status sosial. Semua orang berkumpul dengan beragam jenis suku, bangsa dan etnis menjadi satu. Menikmati jamuan Tuhan di rumah-Nya yang agung

*Mahir Muhammad Soleh,Mantan Koordinator Korps Instruktur Pwk PII Mesir