Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Monday, 17 October 2016

Struktur Pengurus PWK PII Mesir Periode 2016-2018

Struktur Pengurus Perwakilan Wilayah
Pelajar Islam Indonesia (PWK-PII )
Republik Arab Mesir Masa Jihad 2016-2018

Ketua Umum                 : Rona Rohmana
Kabid Kaderisasi           : Tareq Albana
Kabid PPO                     : Zia Ulkautsar
Kabid KU                        : Afkar Fathoni


Sekretaris 1                   : Faris Irfanuddin
Sekretaris 2                   : Anugrah Abiyyu

Bendahara 1                  : Muhammad Jirjis Jaenujis
Bendahara 2                  : Nurmila Mar'atus sholihah


Dept. Training, Kursus dan Ta'lim      : Rizki Aslam
                                                               : Anna Qonita Tamami

Dept. Pengembangan Skill                   : Ardi Manda Putra
                                                                 : Mustakim Lukman

Dept. Kajian dan Pustaka                       : Muhammad Fatih Al Haq
                                                                  : Manar Fathoni

Dept. Media dan Informatika                 : Fahmi Rizki Maulana

BO PII Wati

Ketua                                                         : Putri Azzahra
Sekretaris                                                  : Fatimah Darsan
Bendahara                                                 : Lella Fidela

Departemen Kajian Keputrian                 : Siti Husniati
                                                                    : Afifah Abqoriyyah
                                                                    : Izzah  



Struktur Pengurus PWK PII Mesir Periode 2016-2018

Struktur Pengurus Perwakilan Wilayah
Pelajar Islam Indonesia (PWK-PII )
Republik Arab Mesir Masa Jihad 2016-2018

Ketua Umum                 : Rona Rohmana
Kabid Kaderisasi           : Tareq Albana
Kabid PPO                     : Zia Ulkautsar
Kabid KU                        : Afkar Fathoni


Sekretaris 1                   : Faris Irfanuddin
Sekretaris 2                   : Anugrah Abiyyu

Bendahara 1                  : Muhammad Jirjis Jaenujis
Bendahara 2                  : Nurmila Mar'atus sholihah


Dept. Training, Kursus dan Ta'lim      : Rizki Aslam
                                                               : Anna Qonita Tamami

Dept. Pengembangan Skill                   : Ardi Manda Putra
                                                                 : Mustakim Lukman

Dept. Kajian dan Pustaka                       : Muhammad Fatih Al Haq
                                                                  : Manar Fathoni

Dept. Media dan Informatika                 : Fahmi Rizki Maulana

BO PII Wati

Ketua                                                         : Putri Azzahra
Sekretaris                                                  : Fatimah Darsan
Bendahara                                                 : Lella Fidela

Departemen Kajian Keputrian                 : Siti Husniati
                                                                    : Afifah Abqoriyyah
                                                                    : Izzah  



Peran Pendidikan dan Kebudayaan di Era Kebebasan Informasi




Dalam kehidupan  sehari hari kita tak bisa  luput dari tekhnologi dan informasi, dimana informasi dapat kita akses melalui berbagai media yang sudah serba canggih, dengan hanya menggunakan jempol saja kita bisa mengetahui berbagai informasi di seluruh belahan dunia, bahkan banyak media  yang menyajikan informasi secara live. Suatu kejadian di dunia luar bisa kita akses secara langsung tanpa harus pergi ke tempat kejadian, dengan kemudahan tersebut  memungkinkan setiap lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi seluas luasnya. 

Dengan demikian, dapat kita katakan pada situasi seperti ini informasi sudah sangat bebas didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, dapat diakses oleh siapapun dengan berbagai media yang canggih seperti smartphone yang sudah dilengkapi dengan berbagai fitur berita yang gampang untuk diakses. Kebebasan informasi ini dapat berdampak baik bagi kehidupan bermasyarakat  dan sebaliknya, kebebasan informasi ini  juga dapat menimbulkan keburukan yang menghancurkan tatanan masyarkat. 

Informasi yang bebas ini akan berdampak buruk bagi tatanan kehidupan yang ada di masyarakat jika tidak digunakan dengan baik, informasi juga tidak selamanya benar sehingga perlu pengamatan yang baik, dalam istilah islam dikatakan dengan Tabayun. Informasi tidak dilakukan pengamatan terlebih dahulu maka akan mengakibatkan seseorang  membenci orang lain, atau satu kelompok akan saling memojokan kelompok lainya hanya karena informasi yang dia dapatkan tidak diolah terlebih dahulu.

Lalu jika demikian, perlu ada nya hal yang membatasi kebebasan informasi ini. Banyak hal yang dapat membatasi kebebasan Informasi, diantara nya adalah pendidikan dan kebudayaan.
Dictionary of education menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses dimana seseoarang mengembangkan kemampuan  sikap dan bentuk bentuk tingkah laku lainya di dalam masyarakat dimana ia hidup, proses social dimana orang dihadapkan pada pengaruh UU RI Nomor 20 tahun 2003 mendefinisikan : Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Dari pemaparan diatas maka dapat kita ambil gambaran bahwa dalam hal ini pendidikan memiliki tujuan yang jelas untuk menjadikan suatu tatanan msyarakat tetap stabil meskipun  Era bebas informasi ini dapat dikatakan sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan yang terencana dilakukan dengan kesadaran dan berkelanjutan maka dapat dipastikan pendidikan akan memberikan tali kendali buat para pengkonsumsi informasi.

Dalam hal ini, kebudayaan pun memiliki peran penting untuk mengendalikan dan membatasi bebasnya informasi. Hal ini tercermin dari apa yang di definisikan oleh Parsudi suparlan yang mengatakan bahwa : kebudayaan didefinisikan sebagai seluruh pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan  lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah laku nya. 

Dengan demikian maka Pendidikan dan kebudayaan memegang teguh peranan penting untuk menghadapi bebasnya informasi pada zaman sekarang ini. Agar informasi dapat digunakan dengan tepat dan disikapi dengan sebaik baiknya sikap. Sehingga diharapkan dapat membantu melindungi moral bangsa dan meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat nya dengan informasi-informasi yang didapatkan nya. 


Jika kita tarik kesimpulan, maka pendidikan dan kebudayaan di Era Bebas Informasi ini memiliki  peran penting, diantara peran peran tersebut antara lain :

A.      Sebagai alat untuk mempertahankan identitas bangsa

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beraneka ragam budaya dan  dikenal sebagai bangsa yang memiliki akhlak mulia, beradab, ramah dan memiliki tatakrama. Nilai luhur ini kemudian menjadi jati diri bangsa Indonesia, jati diri bangsa ini bisa hilang dengan bebas nya mengkonsumsi informasi, para pemuda yang harus nya menjunjung nilai budaya Indonesia, mereka malah bangga dengan budaya budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita. Jika bukan dengan pendidikan dan kebudayaan maka hal ini tidak akan bisa dihindari, namun dengan menanamkan nilai niai luhur bangsa kepada masyarakatnya melalui pendidikan dan kebudayaan maka diharapkan identitas bangsa ini dapat dipertahankan.

B.      Sebagai pengendali tindakan seseorang
Masyarakat yang terdidik dan hidup dengan budaya yang memiliki nilai luhur akan melahirkan masyarakat yang terkendali dalam tindakannya sehingga dia akan bisa menyaring memilah dan memilih informasi yang dia konsumsi.

C.      Sebagai alat untuk menanamkan sikap tanggung jawab.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh pribadi ataupun kelompok tentu memiliki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan, dan sikap tanggung jawab ini ditanamkan melalui pendidikan dan kebudayaan seperti dikatakan oleh M.J. Langeveld “Pendidikan merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. Pendidikan adalah suatu usaha dalam menolong anak untuk melakukan tugas tugas hidupnya agar mandiri dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha untuk mencapai penentuan diri dan tanggung jawab.

Dari uraian diatas kita mengetahui betapa penting nya peran pendidikan dan kebudayaan dalam mempertahankan jati diri bangsa ini, melindungi masyarakatnya di Era Bebas Informasi agar tidak terpengaruh dengan budaya budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, juga memberikan kendali atas tindak tanduk masyarkatnya, menanamkan rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya sehingga diharpkan bangsa dan negara ini dapat tetap menjunjung nilai nilai budaya dan cerdas dalam meilih informasi sehingga kestabilan kehidupan bermasyarakat dapat terjaga dan terpelihara.  

Friday, 7 October 2016

Metode dan Strategi Penerapan Syariat Islam di Indonesia


 Oleh Dr. Jeje Zaenudin

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“_Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat_.”

Penjelasan beliau dalam hadis ini bahwasanya tali itu terdiri dari banyak utas-utas dan yang menyatukan tali itu sehingga kuat adalah utasan hukum.
Sekiranya tidak ada hukum (negara /undang-undang) yang menaungi hukum Islam, maka tali itu tidak akan kuat.

Karena tali hukum (negara) lah yang membuat hukum Islam itu kuat.


Dalam penjelasan Dr. Jeje Zaenudin dalam seminar ilmiah beliau di Aula KPMJB Mesir. Beliau menjelaskan Metode dan Strategi Penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Dalam pelajaran beliau dijelaskan bagaimana pola penerapan hukum Syariat Islam di Indonesia dan sejarah penerapan syariat Islam itu sendiri sejak zaman Rasulullah hingga saat ini di negara Indonesia.


Beliau menjelaskan perbedaan antara Tasyari' dan Taqnin. Tasyri' merupakan ketentuan Allah dan Rasul nya yg tidak dapat dirubah seperti dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Sedangkan Taqnin adalah hasil ijtihad manusia utk membuat aturan dalam bentuk Undang-undang negara.

Dari Taqnin inilah nanti dijelaskan bagaimana metode dan strategi mewujudkan Syariat Islam dalam bentuk undang-undang negara.

Dalam membentuk undang-undang negara yang bersumber dari Syariat ini, beliau menggunakan asas Tadarruj, yaitu menerapkan nya secara berangsur-angsur. Maksudnya bagaimana asas Tadarruj itu? Akan dijelaskan kemudian.

Jika kita tidak bisa menerapkan nya 100% dalam negara, kita ambil 70%, jika hanya 10% pun yg kita bisa, kiya akan mengambilnya. Ulama kita terdahulu sudah sangat berusaha menerapkan Syariat Islam dalam hukum negara berbentuk Piagam Jakarta yang lahir pada 22 Juni 1945, dengan kalimat "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Kalimat ini pun dihapuskan juga, sehingga hanya tersisa "Ketuhanan Yang Maha Esa". Para ulama kita terdahulu pun berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Masih ada unsur Ketuhanan dalam Indonesia merdeka ini.

*SEJARAH HUKUM ISLAM*

1. Periode Pembentukan: Masa Nubuwwah (23 tahun)

2. Periode Pengembangan: Masa Sahabat (sekitar 10 sampai 100 H)

3. Periode kematangan Fikir: Antara (100-350 H)
Beliau menjelaskan dalam periode ini terjadi banyak inovasi-inovasi oleh para ulama seperti lahirnya Ilmu Mustholahul Hadis, Ilmu Ushul Fiqh dll.

4. Periode Kejumudan: Antara tahun 350-1300 H
Periode yang kurang berkembang, Tahqiq mentahqiq, Tafsir ditafsirkan lagi, Tafsir dibuat ringkasan, kurang inovasi.

5. Periode Kebangkitan/Modern: Antara tahun 1300 sampai sekarang.

*HUKUM ISLAM DI INDONESIA*

1. Periode pra kolonialisme (abad 8-16)
Hukum Islam ditegakkan secara bertahap pada kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara

3. Periode Kolonialisme (abad ke 17 sampai pertengahan abad 20)
Hukum Islam disingkirkan secara sistematis, terutama hukum pidananya

4. Periode Orde Lama (1945-1966)
Tidak ada pengundangan hukum Islam yang substantial.

5. Periode Orde Baru (1966-1998)
Pengundangan UU Perkawinan (1974), Peradilan Agama (1989), KHI (1991)

6. Periode Reformasi (1998-2011/akhir penelitian beliau)
Pengundangan UU Haji, Zakat, Wakaf, Revisi Peradilan Agama, UU otonomi Aceh, UU perbankan Syariah, UU SUKUK (Surat-surat berharga), Revisi UU Zakat.

Dalam sejarah hukum Islam di Indonesia ini, beliau menjelaskan bahwasanya undang-undang perkawinan adalah undang-undang yang pertama kali hukum Syariat yg ditegakkan. Beliau menjelaskan bagaimana susahnya UU ini disetujui, sampai DPR tidak mau menyetujui nya, sampai 1 juta masa mengepung DPR, barulah disetujui oleh DPR.

Sebelum UU Perkawinan ini dibentuk, beda agama sah-sah saja menjadi suami Istri, LGBT pun sah-sah saja.

Bagaimana hebatnya ulama kita dahulu kenapa harus UU perkawinan yang dibentuk terlebih dahulu yang diperjuangkan?
Karena dari keluarga inilah, yang akan menentukan dia Islam atau bukan. Karena dari keluarga inilah, akan terbentuk masyarakat yang Islami, pondasinya adalah keluarga.

*POLA HUBUNGAN HUKUM ISLAM DENGAN NEGARA MODERN*

1. Islam = Negara
Ini terjadi zaman Rasulullah dan para Khulafa Ar-Rasyidin. Yaitu, kepala negara adalah Imam Masjid, kepala negara juga seorang Qodhi, kepala negara juga seorang ulama. Dan hukumnya pun sepenuhnya hukum Islam yang dipakai.

2. Islam => Negara (penjelasan digambar nomor 1)
Zaman Daulah Abasiyah, Umayah dan kerajaan-kerajaan setelahnya. Kepala negara sudah bergeser sedikit hanya mengurus administrasi negara saja, adapun kepala negara tidak mesti bisa sbg Qodhi dan tidak mesti seorang ulama.

3. Islam x negara (Islam tidak sama dengan negara)
Islam dan negara benar-benar dipisahkan secara total.

*POLA HUBUNGAN HUKUM ISLAM DENGAN NEGARA DI INDONESIA (1945-2016)*
*penjelasan pada gambar nomor 2

*TADARRUJ (GRADUALITAS) DAN TEORI LEGISLASI NASIONAL*

1. Sistem hukum Indonesia meniru Belanda (Eropa Continental) sangat positivtik - legalistik

2. Hukum Islam tertuang dalam kitab Fiqh yang dihasilkan dari Istinbath terhadap Al-Qur'an dan Sunnah

3. Hukum Islam berkembang secara teoritis maupun praktis

4. Menuntut transformasi dari Tadarruj fi Tasyri' (pembentukan Syariat) kepada Tasyri fi Taqnin (pembentukan undang-undang)

*BATASAN TADARRUJ*

التدرج في التشريع: هو نزول الأحكام الشرعية على المسلمين شيئا فشيئا طوال فترة البعثة النبوية حتى انتهى بتمام الشريعة و كمال الإسلام
"_Tadarruj dalam pembentukan syariat adalah turunnya hukum syariat kepada kaum muslimin sedikit demi sedikit sepanjang masa kenabian sampai berakhir dengan tamatnya syariat sempurnanya Islam_".

فالتدر في التطبيق هو تطبيق جزئي لبعض الأحكام الشرعية التي تهيأت الظروف المناسبة لها، ثم السعي لتهيئة المجال لتطبيق الجزء الثاني
"_Tadarruj dalam penerapan (syariat) yaitu penerapan sebagian hukum syariat yang telah siap diterima oleh situasi dan kondisi yang terkait dengannya, kemudian berupaya mempersiapkan lapangan (kondisi) untuk menerapkan bagian (hukum) yang berikutnya_".

*CAKUPAN LEGISLASI HUKUM ISLAM*

Syariat Islam terbagi 2
1. Hukum Diyani: Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah secara langsung
2. Hukum Qadhai: Hukum-hukum yang membutuhkan pengaturan agama

*MATRIK TADARRUJ (GRADUALITAS) LEGISLASI ISLAM DI INDONESIA*
*keterangan lihat di gambar nomor 3

Beliau juga menjelaskan bahwasanya dalam penerapan syariat Islam dalam negara jangan menganut mazhab tertentu, karena akan terjadi kediktatoran terhadap mazhab yang lain. Namun harus menganut empat mazhab. Contohnya pada zaman Daulah Abasiyah yang sempat menganut mu'tazilah (Al-Qur'an adalah Makhluk) dan menghukum imam Ahmad bin Hambal.

Dan jangan terlalu luas juga, batasan hukumnya memakai Ahlu sunnah wal jama'ah.  Karena pengalaman banyak terjadi konflik di negara lain antara Suni dan Syi'ah.

Wallahu A'lam.....

Tuesday, 13 September 2016

Merespon Problem Radikalisme Agama dan Pengaruhnya Terhadap Disintegrasi Bangsa


Oleh : Muhammad Jirjis Jaenujis
Penggabungan dua kalimat dalam bahasa indonesia dengan mempergunakan partikel dan menghasilkan kalimat majemuk setara. Merespon Problem Radikalisme Agama dan Pengaruhnya Terhadap Disintegrasi Bangsa, artinya kalimat satu dan dua mengandung gagasan pokok yang sama penting perlu kiranya diperhatikan. 

Apakah radikalisme itu? dalam wikipedia diartikan bahwa radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Benarkah radikalisme berbahaya? mungkin saja ini sebuah propoganda , stigmatisasi dan sejenisnya yang dilayangkan untuk mendiskreditkan kelompok agama tertentu, kerap kali diberi stempel "garis keras". lain halnya kata "radikal" di masa penjajahan belanda, bermakna positif bagi pejuang kemerdekaan RI. 

Sudut pandang wikipedia dalam perspektif keagamaan; sebagai paham keagamaan yang mengacu pada pondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari faham tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan di percayainya untuk diterima secara paksa. artinya terlepas apapun itu agamanya. kerap kali banyak orang "mengkompori" agama Islam. 

Sebetulnya pemahaman Islam yang utuh bisa diterima oleh masyarakat, tentunya bermanhaj wasatiyah. menurut Azra, Islam indonesia adalah Islam inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum muslimin maupun umat lain (Azyumardi Azra, 2015)

Berbeda dengan kelompok-kelompok garis keras, tidak lain mereka muncul sebagai akibat dari interpretasi literal, sempit dan terbatas atas ajaran Islam, mereka lebih menekankan keberagaman lahiriyah dan abai terhadap yang bathiniah. dengan demikian, kelompok-kelompok garis keras secara umum mengabaikan spritualitas, bahkan secara keliru menganggapnya sebagai bid`ah dan khurafat. hal ini merupakan dampak langsung dari obsesi politik dan kekuasaan duniawi mereka. di samping orientasi literal, sempit dan terbatas dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam. misalnya, memerangi tashawuf merupakan salah satu proyek utama mereka. misal lainnya, implementasi syari`ah sebagai hukum positif untuk merebut kekuasaa bertujuan mendirikan khilafah internasioanl juga proyek utamanya, (The Wahid Instute, 2009)

Landasan semua kelompok-kelompok Islam radikal adalam konsep hakimiyah dari sayyid qutb, dari sana muncul istilah `al-`usbah al-mu`minah (golongan yang beriman), artinya selain mereka golongan kiri, maka timbul takfiri. konsep ini juga melahirkan pemikiran bahwa umat Islam selain mereka adalah orang-orang jahiliyah, artinya seluruh masyarakat suatu bangsa yang berada di muka bumi kembali menjadi kaum jahiliyah, dengan demikian halal darahnya. konsep ini juga melahirkan tamkin (kekuasaa).

Jika pemahaman dan pemikiran ini menyebar luas, sudah tentu suatu bangsa akan tergoncang, pertumpahan darah dimana-mana, sudah tidak ada ikatan bathin yang mempersatukan mereka yang memiliki persamaan sejarah, serta cita-cita dan tujuan bersama. beberapa faktor yang menjadikan bangsa tidak bersatu padu, mengilangnya persatuan serta menyebabkan perpecahan.

Salah satu faktornya adalah radikalsime agama terlepas apapun itu agamanya. maka yang terjadi, tidak adanya persamaan pandangan mengenai tujuan awal terbentuknya bangsa. merasa paling benar satu sama lain, bahwa ada sebagian kelompok sepakat ditegakkan sistem khilafah dalam suatu bangsa karena misalnya di indonesia, pancasila hanya mengganggu dan menghalangi tegaknya syari`at Islam. banyak juga contoh agama lain. kerap kali terjadi persaingan tidak sehat, saling fitnah, saling hasut, teror, silat lidah melalui media maya, pertentangan pertentangan antar individu maupun kelompok yang merasa benar, timbul percekcokan , perkelahian, bom bunuh diri upaya perjuangan mereka, padahal mereka saudara seagama. Dengan demikian, di era reformasi indonesia saat ini ancaman terbesar adalah paham radikal yang ingin membelokkan ideologi pancasila ke ideologi yang berbasis Islam.

Persepsi tentang tanah air di dalam nalar mereka terdiri dari beberapa hal, yaitu; 1). tanah air adalah gugusan tanah yang tidak bernilai. 2). cinta tanah air adalah perasaan konyol dalam diri manusia. 3). menolak konsep tanah air. 4). tanah air adalah batasan-batasan geografis (teritorial) yang dibuat oleh kaum imperialis, karenanya kita tidak perlu mencintainya dan menerapkan konsepnya. (Usamah, 2015)

Bagaimana jadinya suatu bangsa, masyarakat tidak menicintai dan menerapkan konsep tanah airnya. cenderung melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang telah disepakati. oleh karena itu, demi terciptanya kecintaan masyarakat kita terhadap bangsa perkenalkan sejarah kemerdekaan Indonesia, nilai yang terdapat dalam pancasila, darah pejuang sebagai taruhannya, dari suku kesuku, dari agama demi agama, semuanya bersatu padu memperjuangkan tanah air indonesia kita. karna nilai agama asas keutuhan bangsa.