Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Monday, 26 March 2012

5 tanda seseorang mengidap penyakit suka menunda


Kebiasaan terus menerus menunda suatu tugas atau pekerjaan yang tidak disuka dan malah mengerjakan tugas atau pekerjaan lain dalam bahasa psikologi disebut procrastination. Orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Walaupun kelihatan seperti masalah sepele tetapi akan sangat merugikan apabila seseorang menjadi procrastinator terlalu lama. Ada beberapa ciri yang biasa dimiliki oleh seorang procrastinator. Apakah kita termasuk salah satunya ?

1. Optimis vs takut

Seorang procrastinator biasanya sangat percaya diri bisa menyelesaikan satu pekerjaan dalam waktu singkat. Misal, kita merasa mampu membuat pembukuan dalam waktu 2 jam. Jadi jika ada waktu 12 jam, 10 jam bisa dipakai untuk bersantai, dong. Padahal, alasan sebenarnya karena malas, takut tidak bisa, atau tidak menyukai pekerjaan ini.

2. Merasa terlalu sibuk

Merasa terlalu sibuk akhirnya membuat seseorang procrastinator jadi tidak mengerjakan tugas yang seharusnya dia kerjakan. Misal, kita merasa tidak bisa membuat pekerjaan karena harus membersihkan kamar sekaligus memasak. Padahal pada akhirnya, tidak satu pun dari tugas itu yang dikerjakan.

3. Keras kepala

Seorang procrastinator merasa kalau dia sama sekali tidak bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu. Ini karena adanya keyakinan, segala sesuatu harus diatur oleh diri sendiri atau harus menunggu mood bagus muncul dengan sendirinya.

4. Selalu menjadi korban

Karena tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik atau mendapatkan nilai jelek, seorang procrastinator merasa dia adalah korban dari keadaan. Sayangnya procrastinator sama sekali tidak sadar jika itu semua akibat dari kesalahannya sendiri.

5. Suka beralih

Saat harus mengerjakan tugas, tiba-tiba kita ingin mendengarkan musik atau menonton TV. Ini salah satu ciri procrastinator yang sering dimiliki seseorang. Karena ingin menghindari tugas yang bikin takut, akhirnya procrastinator memilih untuk melakukan hal lain yang kurang penting.


Ada beberapa hal yang bisa menimbulkan sifat procrastination:

1. Kepercayaan yang salah (false belief).

Maksudnya adalah kepercayaan yang salah , seperti :   kerja lebih baik dan lebih terasa menantang jika kita berada di bawah tekanan atau waktu yang sempit.

2. Takut gagal.

Ketakutan berlebih jika kita bakal gagal mengerjakan tugas itu dan akhirnya lebih memilih menghindar.

3. Perfeksionis.

Ingin semua sempurna akhirnya membuat kita merasa tidak perlu mengerjakan satu tugas yang tidak kita sukai.

4. Terburu-buru.

Sifat buru-buru atau biasa disebut impulsif membuat procrastinator cepat sekali beralih melakukan hal lain selain tugas utamanya.

5. Memberontak.

Procrastination bisa muncul sebagai reaksi pemberontakan terhadap orang tua ataupun atasan yang otoriter alias suka mengatur kehidupan/pekerjaan kita. Procrastinator memberontak dengan cara tidak ingin diatur dalam kehidupan/pekerjaan


Berikut beberapa tips untuk menanggulagi penyakit Procrastination :


1. Lakukan untuk orang yang kamu cintai

Lakukan tugas mu untuk orang yang kamu cintai seperti Orang tua , kakak , adik , keluarga , sahabat , guru , dll , dan bayangkan ekspresi wajah mereka ketika melihat kamu tidak melakukannya.Kita tentunya tidak ingin melihat air mata jatuh membasahi pipi ibu kita hanya karena kita malas dalam melaksanakan tugas bukan ?

2. Lakukan di waktu produktifmu

Misalnya, waktu produktifmu adalah jam 8 pagi sampai jam 12 siang dan jam 6 sore sampai jam 9 malam . Maka, lakukanlah di waktu-waktu tersebut. Setelah waktu produktifmu lewat, beristirahatlah atau lakukan hal yang lain.

3. Lakukan dengan cara yang lain

Kamu tidak harus melakukannya dengan cara yang umum. Kamu dapat melakukannya dengan caramu sendiri . Buatlah itu se-menyenangkan mungkin.Kalau perlu ganti suasana agar kamu merasa "baru" dan bersemangat. Jika kamu, contohnya, senang mengerjakan pekerjaan rumahmu di kafe atau mall, kamu dapat melakukannya. Hanya saja jangan biarkan hal-hal lain mengalihkan perhatianmu.

4. Beri hadiah pada dirimu sendiri

Tentukan hadiah yang akan kamu berikan untuk dirimu sendiri jika kamu berhasil melaksanakan tugas , misal " Jika aku berhasil membaca 50 halaman hari ini , maka nanti sore aku akan jalan-jalan ke mall".

5. Pikirkan konsekuensi jika kamu menyerah / tidak melakukannya

Selalu bayangkan akibat terburuk jika kamu tidak melakukan tugas mu.Misalnya ; jika kamu tidak membuat tugas , maka kamu akan gagal naik tingkat dan orang tua mu akan sedih , atau jika kamu tidak mengerjakan tugas , maka sahabat mu akan kecewa padamu.

6. Bagikan perasaan dan keadaanmu kepada orang yang bisa memotivasimu

Memiliki seseorang disampingmu yang bisa memotivasi adalah sesuatu yang baik . Jangan ragu-ragu untuk berbagi dan meminta bantuan jika seseorang bisa menolongmu. Itu seperti energi ekstra dalam perjalananmu.Namun sekedar catatan Pilihlah orang yang tepat untuk memotivasi mu.

7.Kalau tugas mu itu adalah tugas yang reguler dikerjakan , maka paksakan dirimu untuk membiasakan diri

 misalnya kamu adalah mahasiswa yang harus membaca buku minimal dua buah buku per minggu , maka atur waktu mu untuk membaca , dan paksakan dirimu selalu membaca di waktu yang sama , secara berulang-ulang , hingga tubuhmu pun lama-lama akan enjoy dan menikmatinya.

oh ya , yang paling penting adalah DO IT With LOVe ... semua yang dikerjakan dengan landasan cinta , akan membuatnya terasa tenang dan nyaman

Sumber : Kaskus.us , dengan sedikit perubahan

MCP 12 mengadakan kajian perdana


Peserta Kajian
Alumni Intra PII Mesir 2012 yang tergabung dalam marhalah members group MCP 12 mengadakan kajian perdana Senin (26/3) di Kantor Mabes PII Mesir. Kajian MCP 12 kali ini membahas salah satu tema ekonomi islam kontemporer yaitu masalah Asuransi. Acara yang dimoderatori oleh Asep Rifqi ini dimulai pada pukul 2 siang dengan presentator saudari Neng Fitri Hedi Susanti.


Kajian berlangsung hangat dan dinamis, dimulai dengan paparan singkat mengenai sejarah Asuransi. Neng Fitri sebagai presentator menjelaskan bahwa asuransi sebagai sebuah istilah ekonomi baru dikenal di abad 14 ini. Walau demikian, ada juga beberapa kegiatan yang mirip dengan asuransi dan sudah dikenal sejak dulunya, seperti kisah pengumpulan bahan makanan oleh seluruh penduduk mesir untuk mempersiapkan masa paceklik. Menurut mahasiswi Syariah Islamiyah Al-Azhar cabang Alexandria ini, secara prinsip kisah ini mengandung semangat asuransi.

Diskusi semakin hangat ketika presentator mulai membahas asuransi lewat kacamata islam. Dalam makalahnya, Neng fitri menjelaskan bahwa lembaga asuransi ini sangat mengandung bahaya riba, gharar dan tipu daya. Namun, islam lewat para ulamanya datang membahas asuransi lewat kacamata islam, lalu memberikan solusi agar akad asuransi bisa terlaksana namun tetap memegang dasar-dasar hukum islam. Hal ini memunculkan dua jenis lembaga asuransi di tengah masyarakat, asuransi konvensional dan asuransi berbasis syariah.

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab dari masing-masing peserta. Kebanyakan peserta banyak bertanya seputar proses apa saja yang terjadi dalam asuransi serta bagaimana sebenarnya asuransi dalam kacamata islam. Diakhir diskusi, supervisor kajian saudara Zamzami saleh dan Agus solehudin memberikan sedikit masukan terkait penulisan makalah terutama agar kedepan pembuatan dan pemilihan judul makalah lebih dispesifikkan lagi. Agus Solehudin juga berpesan kepada peserta kajian agar senantiasa menggali lagi khazanah keilmuan islam serta untuk mulai memikirkan dan mengonsep sebuah aktifitas perekonomian dengan basis epistimologi islam.

Kajian kali ini dihadiri oleh 8 orang kader PII kualifikasi Intra dan berakhir pada pukul 17.30 sore.
Neng Fitri sedang menjawab pertanyaan dari Mapit dan Riri



Peserta kajian terlihat serius menyimak paparan dari presentator

Diskusi hangat namun santai

Thursday, 22 March 2012

Maulana Syekh Sulaiman Ar-Rasuli ; Ulama tangguh pembela mazhab Syafi'i






Perkembangan agama Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kiprah para tokoh agama dan ulama besar yang giat menyebarkan ajarannya di berbagai wilayah. Sejauh ini, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang melahirkan banyak ulama terkemuka. Di antara ulama terkemuka tersebut adalah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan "Inyik Candung". Ayahnya, Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di kampung halamannya.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, sejak kecil memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan.

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minangkabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi dll.

Sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll.

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Pattani. Guru-gurunya ketika di Mekah antara adalah, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Ali Kutan al-Kelantani, dan beberapa ulama Melayu yang bermukim di sana.

Perjuangan

Sekembalinya dari Mekah, Syeikh Sulaiman mendirikan pondok pesantren di tanah kelahirannya di Bukit Tinggi, Sumatera. Beliau berusaha untuk mempertahankan pengajaran menurut sistem pondok. Namun pada akhirnya, pengajian sistem pondok secara halaqah dengan bersila di lantai dalam pendidikan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mulai dikombinasikan menjadi sistem persekolahan, duduk di bangku pada 1928, namun kitab-kitab yang diajar tidak pernah diubah. Bahkan sistem halaqoh ala pondok pesantren juga tetap dilaksanakan hingga saat ini.
Surau tempat Pertama kali Syekh membuka Halaqah pengajian.

Dalam waktu singkat, pesantren yang didirikannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitarnya. Dukungan ini mendorong bertambahnya jumlah murid yang menuntut ilmu di pesantren. Murid-murid yang belajar di pesantren tersebut tidak hanya berasal dari daerah setempat, melainkan juga datang dari berbagai wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Tapanuli, Aceh, dan bahkan, ada yang datang dari Malaysia.

Materi utama pendidikan di pesantren tersebut adalah pengajaran paham Ahlussunnah Waljamaah dan madzhab Syafi’i. Syeikh Sulaiman sangat konsisten menjalankan paham dan madzhab ini.

Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho menggagas berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Baik dalam sistem pendidikan maupun perjuangannya, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan dan berpegang dengan satu mazhab, yakni Madzhab Syafi’i.

Selain aktif di dunia pendidikan agama, Syeikh Sulaiman juga aktif di dunia politik dan keorganisasian. Sejak tahun 1921, ia bersama dua teman akrabnya, Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama ‘kaum tua‘ (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat madzhab dalam fiqh: Maliki, Syafi‘i, Hanafi, dan Hanbali) Minangkabau, membentuk organisasi bernama ‘Ittihadul Ulama Sumatera‘ (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah madzhab Syafi‘i. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah al-Radd wa al-Mardud sebagai sarana untuk menjelaskan serta mempertahankan paham Ahlussunnah waljamaah madzhab Syafi’i.

Sedangkan para ulama Malaysia yang seangkatan dengan Sulaiman ar-Rasuli dan sama-sama belajar di Mekah adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M) dan Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M).

Dalam penentuan awal dan akhir puasa (Ramadhan), Syeikh Sulaiman ar-Rasuli lebih menyetujui metode rukyah (melihat langsung bulan sabit). Ini merupakan sebentuk penegasan beliau untuk mempertahankan corak keislaman yang berakar pada tradisi Nusantara. Dalam banyak hal Syeikh Sulaiman ar-Rasuli beserta seluruh ulama Tarbiyah Islamiyah mempertahankan ciri-ciri dan cita-cita keislaman tradisional menurut manhaj Ahlussunnah Waljamaah bersama-sama dengan para ulama Nahdhatul Ulama (NU) dan semua ulama di seluruh dunia Islam yang masih tetap berpegang teguh kepada Mazhab Syafi’i.

Menurut Hamka, Syeikh Sulaiman ar-rasuli merupakan seorang ulama yang sangat gigih memperjuangkan kehidupan Umat Islam. Mendidik bangsanya menjadi lebih maju dan berusaha melepaskan diri dari penjajahan. Hamka melansir dalam bukunya yang berjudul Ayahku Menulis, "Cuma Beliau (maksudnya Dr. Haji Abdul Karim Amrullah) berselisih dalam satu perkara (dengan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli). Bahwa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mempertahankan Thariqat Naqsyabandiyah, dan salah seorang di antara Syeikhnya (mungkin maksudnya Syeikh Saad Mungka, musuh polemik Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau, ed.), sedangkan pihak Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Jambek tidak suka kepada tarekat itu.”
Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang

Karya-karya

Sebagai seorang ulama, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli telah melahirkan beberapa karya, karya-karya ini banyak di pelajari oleh para pelajar Muslim, di Munangkabau, Sumatera dan beberapa kawasan Nusantara lainnya.karya-karya tersebut antara lain adalah :

1. Dhiyaus Siraj fil Isra‘ Walmi‘raj

2. Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan.

3. Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya‘qub

4. Risalah al-Aqwal al-Washitah fi Dzikri Warrabithah

5. Al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran

6. Al-Jawahirul Kalamiyyah.

7. Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah

8. Perdamaian Adat dan Syara‘.

9. Kisah Muhammad ’Arif, dan lain-lain



Dalam hal ini, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah ulama besar yang jarang tandingannya, kukuh dan kuat mempertahankan agama berorientasikan Sunni Syafi`i. Syeikh Sulaiman pulalah yang hingga kini dipercayai oleh masyarakat Minang sebagai penggagas landasan kemasyarakatan islami di Sumatera Barat dalam adagium ”adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah”.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli juga merupakan ulama yang gigih mempertahankan tatanan kemasyarakatan Minangkabau untuk tetap mempertahankan tradisi kesalehan Nusantara. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari bagaimana Beliau memperjuangkan prinsip ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena musyawarah” serta ”Tungku tigo sajarangan” yang telah diyakini masyarakat Minang sebagai cara kebijakan paling berrurat akar dalam tradisi Nusantara serta sama seklai tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam.

Pengaruh
 

  Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, sempat dilantik sebagai anggota Konstituante dari PERTI yang kemudian dibubarkan oleh Presiden Soekarno dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang mengunjunginya. Demikian juga pemimpin-pemimpin bangsa setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa, sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli.

Tokoh ini adalah seorang ulama besar Indonesia yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Beliau adalah golongan Kaum Tua yang sangat gigih mempertahankan Mazhab Syafie. Syeikh Sulaiman menyampaikan pesan bahwa dengan memajukan pendidikan, maka umat Islam akan dapat bangkit dan berkiprah lebih aktif dalam usaha membangun bangsa dan agama. Syeikh Sulaiman berjasa besar dalam mengembangkan paham Sunni Syafi‘i dan tarekat Naqsybandiyah.
Ponpes Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli merupakan salah satu ulama besar asal Sumatera Barat yang gigih dalam membela Islam. Ia wafat dalam usia 85 tahun, yaitu bertepatan dengan tanggal 28 Rabi‘ul Akhir 1390 H/1 Agustus 1970, dan dimakamkan di Komplek Madrasah Tarbiyyah Islamiyyah, Candung, Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada hari pengkebumian beliau, diperkirakan tiga puluh ribu umat Islam dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada jasad Beliau, termasuk para pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia. Bendera Republik Indonesia dikibarkan setengah tiang selama 3 hari berturut-turut oleh Pemerintah dan rakyat Sumatera Barat, untuk menyatakan rasa turut berbelasungkawa dengan kepulangan al-’Alim al-’Allamah al-Fadhil Maulana Syaikh Sulaiman ar-Rasuli bin Angku Muhammad Rasul al-Minkabawi, kembali ke haribaan Allah SWT. Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan keredhaan kepadanya.
Makam Beliau di depan Pondok

Karimah Al-Marwaziyyah ; Muhaddist wanita penyalur Shahih Bukhori

Ilustrasi

 Oleh : Riri Hanifah Wildani

Sungguh mengagumkan bila menjadi pribadi yang berbeda dari yang lain. Inilah salah satu orangnya, Muhaddits wanita yang apabila dengan izin Allah beliau tidak ada, mungkin kitab Shahih Bukhari tidak kita temukan seperti yang sekarang ini. hmm, seberapa besar andil beliau ini??


Menurut Syaikh Abdul Fattah, beliau adalah seorang wanita mulia dan ahli hadits yang sempurna, Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim al-Marwaziyyah. Beliau bergelar Ummul Kiram dan Siti al-Kiram. Lahir di Marwa tahun 365 H. dianggap memiliki otoritas terbaik atas kitab hadits Sahih Al Bukhari. Al Khatib Al Baghdadi dan Al Humaidi adalah sebagian dari murid-muridnya. Disebutkan pula, diantara para imam yang belajar shahih Bukhori kepadanya adalah Hafizd Abu Bakar Al-Khatib dan Abu Thalib al Husain ibnu Muhammad Zainabi.



Banyak pujian yg dilontarkan untuk beliau. Bahkan Beliau diibaratkan sebagai tiang tengah penyangga hadis-hadis nabi.Leluasan ilmu dan penguasaannya terhadap hadis tidak diragukan lagi, sehingga para ulama besar rela berdesak-desakkan untuk menghadiri majlisnya, demi mendengarkan untaian-untaian hadisnya.

Para ulama mengakui keutamaan dan keteladannya sebagai orang yang pertama kali mengajarkan kitab sahih bukhori secra utuh, tuntas dan menyeluruh. Sehingga abu Dzar, seorang ulama hdis dari kota Harrah, berwasiat kepada murid-murid agar tidak belajar kitab Shahih Bukhari kecuali kepadanya.

Dan lagi-lagi, diberi penghargaan oleh seorang ulama besar, subhanallah. Dalam kitab al-siyar, Ad Dzahabi menggambarkan karakternya sebagai berikut :



Wanita agung, ahli ilmu dan mempunyai sanad hadis yang derajtnya tinggi..Mempelajari shahih Bukhari dari jalur Abu Haitsam al Kusymihani, Dzahir Ibnu Ahmad as –Sarkhasi dan Abdullah ibnu Yusuf ibnu Bamuwaih As-Ashbahani. Tingkat pemahaman dan pengetahuannya di atas rata-rata semakin kuat dipadu dengan kebaikan pekerti dan ketekunannya beribadah.


Bukan hanya itu, Karimah adalah muhaddits yg teliti lagi tegas. Nah, tentang hal ini Imam Abu Ghanaim berkata : Suatu kali Karimah menyodorkan redaksi Shahih Bukhori kepadaku, dan aku menyalinnya sesuai dengan redaksinya. Ketika menyelesaikan tujuh bundel, aku membacanya di hadapannya. Selanjutnya aku bermaksud menyalinnnya sendiri tanpa harus membaca di hadapannya. Dan ketika aku utarakan keinginanku kepadanya, ia menjawab “Tidak bisa, kamu harus memeriksakannya kepadaku. Lalu aku selalu memberikan salinanku kepadanya.


Hm, beliau wafat di Makkah tahun 463 H. Semoga Allah merahmati beliau. Al-Hafizh ibnul Jauzi menyebutkan biografinya dalam kitab al-Muntazhim, VIII : 270, tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 463 H. Ibnul Jauzi menuturkan, “Pada tahun tersebut, telah wafat Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Abi Hatim al-Marwaziyyah. Beliau adalah salah seorang penduduk Kusymihan, sebuah perkampungan di Marwa. Beliau adalah seorang wanita ahli ilmu nan shalihah. Beliau belajar hadits Dari Abu al-Haitsam al-Kusymahani dan yang lainnya. Ada sejumlah imam yang belajar darinya, di antaranya adalah al-Khatib, Ibnu al-Muhthalib, As-Sam`ani dan Abu Thalib Az-Zainabi.”


Al-Hafizh Dzahabi juga berkata dalam kitab al-I`bar III : 254, tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 463 H, “Pada tahun tersebut, Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim, Ummul Kiram al-Marwaziyyah yang tinggal di Makkah meninggal dunia. Ia meriwayatkan kitab Shahihul Bukhari dari al-Kusymihani. Beliau juga meriwayatkan hadits dari Zahir As-Sarakhsi. Beliau memiliki tulisan yang bagus dan salinannya banyak diterima orang. Beliau memiliki pemahaman dan kecerdasan yang menonjol. Beliau tidak pernah menikah sama sekali. Ada yang mengatakan bahwa beliau berusia 100 tahun. Dan banyak orang yang belajar darinya.”


Satu lagi yg unik dari beliau adalah Karimah al-Marwaziyyah salah satu dari ulama yang tidak menikah. Seperti Ibn Taimiyyah, Imam an-Nawawi, dan yang lainnya. Tapi, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk menganjurkan meninggalkan sunnah tersebut, yaitu pernikahan. Sebab, menurut hemat penulis mereka juga memahami hal tersebut. Hal ini dikarenakan beliau sangat cinta dengan ilmu sehingga sibuk untuk melibatkan diri dalam perjuangan-perjuangan keilmuan.


Hal yang cukup unik dan langka untuk saat ini. meskipun Allah menyatakan “Ar-rijal qawwamuuna ‘alan nisa’ “ tapi untuk hal ini, akhwat bukan harus mengalah. Dan satu lagi yang menarik, para ulama yang belajar pada beliau-Karimah-tidak sungkan belajar pada seorang wanita. Karena untuk ilmu dan niat ibadah kepada Allah, seseorang berhak belajar pada siapa saja.


Semoga kita termasuk orang2 yang berfastabiqul khairat dan dimudahkan oleh Allah dalam menuntut ilmu, khususnya ilmu agama. Sehingga bisa menunaikan amanah liyuzhirud din di masa yang akan datang.
 _Semoga bermanfaat_

Source : Web Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia ( PW PII ) Sumatera Barat

Menggapai Cita dan Asa ; sebuah sketsa

Ilustrasi
Oleh : Abdurrahman Muhammad


Mesir adalah negeri yang menjadi impianku sejak masih duduk dibangku Aliyah, dimana ada Azhar yang sangat dikenal orang karena kualitas manusia yang dilahirkan olehnya. Memang,universitas Al-Azhar sudah tidak asing lagi di telinga kita karena ia adalah universitas tertua di dunia. Bagi mahasiswa indonesia yang kuliah disini, mesir merupakan negera kedua dan Azhar adalah rumahnya. Jadi, dengan dibekali keinginan dan tekad yang kuat ditambah sedikit kemampuan akhirnya aku bisa sampai juga di bumi kinanah ini. Rasa gembira di hati tidak bisa lagi di ungkapkan, hanya dengan ucapan Alhamdulillah dan rasa syukur yang bisa aku persembahkan kepada Allah, karena memang diri ini tidak sanggup lagi untuk mengekspresikannya.

Di negeri inilah aku dan kalian akan memulai kehidupan yang sebenarnya, yaitu ingin menjadi seorang pemuda yang ideal dan pulang seperti apa yang diharapkan masyarakat terhadap kita. Namun di negeri ini pula kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan baru yang memang sebelumnya tidak pernah kita temukan. memang ini sudah di era modern dimana tekhnologi sudah berkembang. Internet contohnya, sesuatu yang sangat wajib untuk kita miliki saat ini supaya dalam hidup tidak ketinggalan informasi. Lalu ada  facebook yang menjadi sarana paling penting dalam kehidupan kita sehari-hari untuk berkomunikasi dan menyambung silaturrahmi. Tapi sayangnya, banyak yang tidak bisa mengatur waktu sehingga berjam – jam di depan komputer hanya untuk balas komen dan duduk tersenyum. Siapa yang salah disini ? Apa harus kita tinggalkan internet-an atau facebook-an?

Jujur mungkin jawaban pribadiku adalah Tidak. Aku tak sanggup berpisah denganmu facebookku. Namun apakah dengan semuanya itu tidak akan buat kita terlena ? Apa masih ada dihati kita cerita tentang tujuan utama kaki ini berpijak di bumi para nabi ?

Di kesunyian malam, sejenak diri ini berdiam memikirkan ketidakjelasan masa depan yang selalu di tersayatkan dan buramnya masa lalu yang menghantui. Padahal hati ini selalu berharap ingin jadi seorang pemuda yang ideal. Apa engkau punya saran kawan?

Inilah namanya perjuangan jawab hatiku, pasti ada tantangan yang harus dilalui dan tantanganku adalah melawan arus modern tanpa harus ku terbawa arus. Apalagi sekarang aku hidup dimasa muda, yaitu masa yang hidup diantara dua masa yang lemah, dimana masa yang penuh dengan keemasan dan kejayaan dan masa yang akan dimintai pertanggung jawaban khusus kelak di akhirat.

Aku teringat akan sepenggal  syairnya bang Rhoma irama yang dikatakan Ikal dalam Film sang pemimpi “masa muda, adalah masa yang berapi api” perkataan presiden Soekarno dalam pidatonya “ambilkan kepadaku sepuluh orang pemuda maka akan kugoncangkan dunia”, bukankah semuanya  ini merupakan kata – kata motivasi buatku untuk bergerak dan tidak lupa akan tujuan utamaku pergi ke negeri seribu menara ini ?

 “Aku pasti bisa” batinku berucap. Aku harus terus bergerak untuk maju. Jangan terlena dengan keadaan dunia yang sudah semakin tua. Aku harus terus dan terus berpacu, selalu dan selalu. Aku harus yakinkan jiwa ini kalau pemberhentian itu tidak disini, istirahat itu tidak disini, tapi disana di puncak obsesi dan kemuliaan.

Hari berganti hari, aku masih tetap dalam perjuangan ini. Meskipun banyak mahasiswa indonesia disini tapi tetap yang menentukan pribadiku adalah diriku sendiri. Mereka hanya membantuku dalam mengarungi samudera ini, karena memang kita memiliki tujuan yang sama, tapi tetap kesuksesanku ada pada diriku. Aku yang harus menyikapi dan aku yang bertanggung jawab karena ini untuk masa depanku.

Sampai sekarang aku belum bisa berbuat apa – apa. Paling tidak dalam hal ini, agar hidupku bisa lebih bermakna dan bisa memaknai masa – masa indah yang sangat penting ini, yaitu masa mudaku agar bisa menjadi lebih bagus. Mungkin langkah terbaik yang harus aku ambil adalah dengan belajar dari orang – orang yang lebih dahulu hidup, mendengar nasehat mereka, meminta pendapat mereka tentang bagaimana menjadi seorang pemuda muslim yang ideal agar bisa aku terapkan dalam kehidupanku. Dan jika sekiranya aku belum bisa setidaknya aku sudah tahu, karena dalam hal ini tahu lebih bagus daripada tidak tahu sama sekali. Bisa jadi pedoman kalau ingin melangkah dan masih ada kesempatan sebelum melenceng jauh.

Jadi mari kita coba menoleh sejenak ke belakang. Belajar dari sejarah bagaimana pandangan seorang pemuda sukses luar biasa yang bisa memberikan inspirasi kepada banyak manusia dalam menemukan tujuan hidupnya ; Imam Hasan Al Banna. Menurutnya,  ada empat kriteria pemuda pahlawan, yaitu keimanan, keikhlasan, semangat dan amal. Keimanan itu terbit dari hati yang cerdas, keikhlasan berasal dari nurani yang suci, semangat berasal dari perasaan yang menggelora dan kerja yang tak pernah henti berasal dari tekad yang kuat. Semoga Allah memberikan kita kehormatan mendapatkan sifat-sifat tersebut.

Sastrawan Pakistan, Muhammad Iqbal, pernah menuliskan dengan indah sifat-sifat seorang pemuda muslim ideal yang penuh kepahlawanan. Sungguh sifat-sifat itu bukanlah khayalan semata, namun benar-benar telah tercermin dalam kepribadian pemuda-pemuda muslim sebelumnya yang menggoncangkan dunia. Dan seharusnya dimiliki oleh calon-calon pahlawan yang ingin mengikuti kehidupan mereka.

Inilah kriteria pemuda muslim yang ideal, semoga aku dan engkau kawan, bisa menjadi bagian dari pemuda pemuda muslim yang ideal itu, atau paling tidak bisa mengikuti jejak mereka.

Dia Pribadi muslim,
Berhati emas, berpotensi prima,
Yang lembut dalam berbahasa
dan teguh membawa Suluh

Dia ibarat  sutera halus di tengah sahabat tulus
Dia ibarat gerimis embun tiris
memekarkan bunga-bunga

Dia ibarat topan beliung 
Yang mengguncang laut ke relung-relung

Dialah gemericik air di taman asri
Dialah penumbang segala belantara dan Sahara

Dialah pertautan agung iman Abu Bakar
Keperkasaan Ali
Kesederhanaan Abu Dzar
dan Keteguhan Salman

Dia berdiri kokoh di dunia yang bergolak
Ibarat lentera ulama di tengah gulita 

Dia memilih syahid fi sabilillah di atas segala kursi dan upeti
Dia menentang tindakan Kuffar 
pola aniaya di mana saja

Maka nilainya pun membumbung tinggi
Harganya semakin tak bertepi
Maka siapakah yang akan sanggup membelinya

Kecuali Rabb-nya?


(kalau engkau pernah menonton Sinetron KCB 3, puisi ini pernah dibacakan oleh Ayatul Husna saat siaran di Radio JPMI (mungkin episode 48). Aku dapatnya dari sana.. :-D)

Sungguh kalimat-kalimat yang menginspirasi. Rasanya tak bosan aku membacanya, agar ia bisa menyelusup masuk ke relung jiwa, menggerakkan alam bawah sadar dan melahirkannya menjadi amal..