Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Wednesday, 22 June 2011

Laki-laki dekat Mihrab

Kutemui dia pertama kalinya di Mesjid Salam saat langit membuncah merah pertanda datangnya waktu maghrib.Mahasiswa muda satu angkatan dengan ku yang selalu terlihat duduk tafakkur di dekat mihrab sedangkan aku baru sampai di pintu mesjid.Aku melangkah ke arahnya seraya menjulurkan tangan dan berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?" dengan senyum yang teduh ia menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya".Wajahnya waktu itu terlihat bahagia,seakan2 sebuah nikmat besar sedang menghampirinya.



lalu iqomah pun berkumandang...



***



Kutemui lagi dia di Mesjid Salam saat panas membara seakan membakar kota penuh sejarah ini.Asap dan debu yang berterbangan membuat semuanya kelam.Beruntung suci dan segarnya air wudlu mengembalikan kembali kekuatan yang mulai sirna ditelan teriknya hari.Kulihat dia masih duduk di tempat yang sama saat kutemui dulu.Duduk dekat mihrob seakan menjadi pilihan nya.agar menjadi saf terdepan sekaligus saf termulia.Kujulurkan lagi tanganku seraya berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?".Dengan pandangan sayu seakan sedang ditimpa sebuah masalah berat ia menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya".Ingin ku bertanya ada apa yang sedang menimpanya.sayang Iqomah pun berkumandang...



***



Kutemui lagi dia yang istimewa di Mesjid Salam saat dingin nya malam disapu oleh kehangatan sinar mentari.Sekitar pukul 09.00 pagi saat waktu dluha sedang berjalan.Kulihat dia masih setia menempati tempat duduk pilihannya.Di Dekat mihrob dimana sang imam dan khatib menjalankan tugasnya.Penasaran yang kubawa sejak pertemuan kemarin membuat ku bertekad untuk bertanya langsung tentangnya.Lagi, kujulurkan tangan ku sambil berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?" , lalu dengan muka cerah seakan seluruh keindahan sinar terpancar dari wajahnya ia pun menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya" .Aku pun langsung bertanya "Akhi ada masalah apa yang menimpa antum kemaren ? ana lihat di pertemuan pertama ana dengan antum,wajah antum sangatlah bahagia ,mulut antum pun seakan tak berhenti berucap syukur.Pertemuan kita yang kedua,wajah antum begitu merana,seolah sebuah beban berat sedang diletakkan di bahu antum.Dan hari ini wajah antum kembali bahagia,bahkan nyaris lebih berbahagia dari waktu pertama kali kita bertemu.Kalau ana boileh tahu,ceritakanlah apa gerangan yang sedang antum alami ?



***



Dengan wajah yang tersenyum indah,ia menjawab "Saat pertemuan kita yang pertama,sesungguhnya ana waktu itu habis meng-khitbah seorang perempuan.Dan puji syukur tak terhingga kepada Allah,khitbah ana diterima ,baik oleh si wanita maupun keluarganya.Rasa bahagia ini kemudian meliputi sekujur badan ana dan wajah ini pun tak berhenti tersenyum dan bersyukur.Sebuah proses awal dari langkah untuk menyempurnakan agama telah ana coba lalui,dan diberi kemudahan.Makanya ana lalu duduk di dekat mihrob tersebut dan mencoba bersyukur sebanyak-banyaknya atas karunia Allah."



"Saat pertemuan kita yang kedua" lanjutnya, " ana waktu itu sedang dilanda gundah gulana,Betapa tidak,pernikahan ana tinggal satu bulan lagi,namun tidak sepeser pun modal yang ana siapkan untuk pernikahan tersebut.Jangan kan biaya untuk bulan pertama,biaya untuk mengadakan akad nikah dan walimahan pun tiada.Belum lagi rencana ke depan untuk terus berumah tangga.Ana sudah pusing kesana kemari bekerja untuk mencari biaya tersebut,namun belum juga terlihat hasilnya.Kesedihan ini pun yang membuat ana akhirnya mencoba menyerahkan diri kepada Allah (lagi).Ana duduk di dekat mihrob mesjid seraya berdoa dan menumpahkan segala gundah gulana kepada Yang Maha Pencipta ".



"Dan hari ini,ana kembali duduk di dekat mihrob.Bersyukur tiada tara.Sebab Allah kembali memudahkan jalan ana.Ceritanya kemaren sore,ana mencoba menceritakan kondisi ana kepada wanita yang telah ana khitbah.Ana ceritakan sejujur-jujurnya bahwa ana sampai sekarang belum juga memiliki modal yang nantinya akan digunakan untuk menjalani akad nikah,walimahan dan tentu saja biaya hidup kita untuk sebulan.Mendengar cerita ana tersebut,wanita yang ane khitbah lalu berucap "Wahai laki-laki mulia yang telah meng-khitbah ku,jangan kau anggap aku wanita yang materialistis,Jangan samakan aku dengan wanita yang menjadikan harta sebagai tumpuan hidupnya.Cukuplah Allah untuk hidup kita.Biarkanlah Allah yang kan mencukupi rezki kita.Hidup ini hanyalah sementara.Ia begitu singkat.Aku ikhlas dengan kondisi yang kau alami".Jawaban wanita yang ana khitbah tersebut menyentakkan dada ana ,bahwa jangan pernah putus asa dari harapan Allah."



"Malam nya" lanjut sang teman , "tiba-tiba seorang teman dari paman ana menelpon,mengatakan bahwa ia mempunyai lowongan pekerjaan yang cocok untuk ana.Insya Allah gajinya cukup untuk kehidupan sehari-hari.Teman paman ana itu juga mau membiayai setengah dari biaya pernikahan dan walimahan ana nanti.Oleh karena itulah maka di waktu dluha ini ana kembali duduk disini.Ana akan perbanyak syukur ana kepada Allah.karena Allah cukup bagi kita.Tidak usah berputus asa dari Kasih SayangNYA" ujarnya mengakhiri cerita.Aku sendiri turut berbahagia.Bahagia karena sang teman ini telah kembali berbahagia.Bahagia karena di waktu yang mulia ini Allah telah memberikan pelajaran berharga lewat sang teman,dan Bahagia bahwa untuk kesekian kalinya,telah ada yang mengingatkan bahwa Jangan pernah putus harapan dari Allah"



***



Beberapa hari kemudian.Cuaca kota nabi ini masih begitu panas.Peluh membasahi sekujur tubuh mengeluarkan aroma yang tidak sedap.Beruntung kebiasaan membawa minyak wangi di kantong paling tidak cukup untuk mengurangi aroma tidak sedap tersebut.Setelah berwudlu, aku pun melangkah ke dalam mesjid untuk melaksanakan shalat Ashar yang tidak sempat ku ikuti secara berjama'ah karena terjebak macet.



Aku berdiri menghadap kiblat.Sebelum takbir , Ku layangkan pandangan ku ke seluruh area mesjid.Pandangan ku berhenti tatkala melihat ke arah mihrab,sesosok tubuh yang begitu familiar sedang duduk bertafakkur disana.Terlihat air matanya mengalir deras.Aku pun coba dekati ia perlahan-lahan.Ia sendiri terus menangis , mengeluarkan air mata yang membasahi seluruh mukanya.



Dan ku dengar sayup-sayup isaknya lirih tak berhenti berucap "hasbiyallah wa ni'mal wakil, ni'mal wawla wa ni'man nashir"...

Friday, 17 June 2011

Kembali ke Idealita Sistem


Tulisan ringan,semoga jadi bahan renungan,di kala idealita sistem PII mulai mengalami degradasi penerapan Sistemnya (Kalaulah tanpa Sistem lantas apa yang Jadi Standar gerakan kita … ? )
Di suatu petang, saya sempat chating via yahoo messenger dengan salah seorang keluarga besar Pelajar Islam Indonesia ( PII ) yang berada di Indonesia.Obrolan yang diawali basa – basi santai antara seorang “alumni PII” dan aktifis PII ini lalu meningkat ke diskusi sederhana mengenai kondisi realita ummat islam di Indonesia.Seperti biasa,diskusi dengan Kader PII sangatlah menarik.Mengingat iklim intelektual yang selalu dibangun PII dalam setiap kegiatannya.Di akhir diskusi, kakanda keluarga besar tersebut  mengetikkan sebaris kalimat yang cukup menyentak perasaan saya “ 63 tahun lebih umur PII,hari ini apa lagi yang bisa PII berikan untuk ummat ? ”
Lembar sejarah Perjuangan Ummat Islam  Indonesia telah mengukir organisasi Pelajar Islam Indonesia ( PII ) sebagai salah satu aktor yang cukup banyak memberikan kontribusinya.Di tengah kegalauan Bangsa Indonesia yang masih sangat muda dan sarat dengan masalah, PII muncul untuk menjadi pemersatu antara barisan pelajar umum yang berorientasikan “dunia” dan kaum santri yang berorientasikan “akhirat”.Masjid Kauman Yogyakarta dan Jalan Margomulyo nomor 8 pun menjadi saksi kebangkitan PII waktu itu.
PII pun turut andil menumpas gerakan Komunis PKI yang dipimpin Muso di Madiun.PII dengan sayap brigadenya juga ambil bagian dalam melawan agresi belanda II.Bahkan PKI pun menjadikan PII sebagai “musuh alami ”nya yang mereka buktikan dengan peristiwa Kanigoro (kanigoro affair).Sebuah peristiwa dimana massa PKI dengan beringas menyerbu lokasi pengkaderan PII di sebuah masjid di Kanigoro yang tujuannya untuk menciutkan nyali para kader PII.Namun bukannya takut,PII malah semakin menegaskan kesungguhannya dalam memperjuangkan eksistensi Islam dan Indonesia.Jargon “Tandang ke gelanggang walau seseorang” pun dimunculkan waktu itu untuk membakar semangat kader PII dalam berjuang.
Perjuangan PII tetap berlanjut setelah kejadian Kanigoro affair tersebut.PII turut andil dalam gerakan eksponen 66 lewat KAPPI yang diketuai oleh Kanda Muhammad Husni Thamrin.Kader PII turun ke jalan,menyuarakan aspirasi rakyat yang selama ini terkekang oleh Demokrasi terpimpin ala Presiden Soekarno.PII lewat KAPPI pun turut membidani kelahiran TRITURA ( Tiga Tuntutan Rakyat ) yang menyuarakan perbaikan sistem di Indonesia.
Masa-masa selanjutnya,kader PII terus aktif berdakwah di segala penjuru nusantara.Menyiarkan islam ke berbagai pelosok negeri.Nilai – nilai intelektual ,akademik, dan Islami  memberikan nuansa tersendiri dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan PII.Bahkan ketika PII harus bergerak Underground/bawah tanah akibat dilarang pemerintah Soeharto yang waktu itu mewajibkan seluruh organisasi agar menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal dimana PII memilih bertahan dengan asas Islamnya dan kemudian di bubarkan.
Sekarang masa-masa tersebut telah berlalu.Paska peristiwa jatuhnya orde baru tahun 1998,PII pun kembali muncul ke permukaan.Tiada lagi tentara,polisi ataupun intel yang setiap saat menggerebek lokasi kegiatan PII.Semua kegiatan PII bebas dilaksanakan tanpa ada yang melarang.Pertanyaan besar pun muncul melihat realita gerakan PII hari ini yang mulai lemah dan seolah kehilangan orientasi  “apa lagi yang bisa PII berikan untuk ummat hari ini? ”
***
Ilustrasi sejarah perjuangan PII diatas menunjukkan bahwa setiap zaman mempunyai masalah yang berbeda dimana PII harus selalu siap untuk menjawabnya.Masalah tidak bersifat abadi mengingat keberadaannya yang senantiasa berubah sesuai kondisi.Oleh karena itu diperlukan evaluasi dan pembenahan secara terus – menerus dan berulang-ulang agar PII dapat berbuat yang terbaik bagi ummat islam.
Tujuan PII “kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan islam bagi segenap rakyat indonesia dan ummat manusia” sejatinya menggambarkan sebuah sikap idealisme yang empiris dimana  PII senantiasa mengarahkan gerakannya kearah yang idealis namun tetap berpijak dengan realitas masalah sehingga muncul relevansi antara masalah yang terjadi dengan jawaban yang digagas oleh PII.
Ada beberapa hal pokok yang jadi pandangan kita dalam melihat kondisi  PII hari ini.Pertama,kualitas sumber daya kader.Tak bisa dipungkiri bahwa sebagus apapun sistem yang ada dalam tubuh PII,tetap tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau kader penggeraknya tidak mumpuni.Oleh karena itu perlunya diadakan kaderisasi yang benar-benar menciptakan kader militan dan mumpuni dalam menjalankan roda organisasi.Hal inilah yang kemudian menjadi persoalan PII hari ini dimana kaderisasi cenderung lamban dan menurun kualitasnya.PII hari ini seringkali lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas,akibatnya fatal.Roda organisasi berjalan tidak lancar dan semakin hari pun kualitas kader menjadi tambah turun.Kita bisa lihat dari setiap proses kaderisasi yang ada.Training yang di luar standar ditambah dengan ta’lim dan kursus yang tidak berjalan membuat gerak PII semakin pincang.
Kedua,kemampuan organisasi PII untuk menganalisa dan menjawab tantangan.Harus diakui bahwa kualitas analisa dan gerak nyata merupakan kekuatan PII dalam melakukan setiap gerakan.Sayang,lemahnya pelaksanaan kaderisasi berimplikasi pada tubuh organisasi dimana kader-kader yang menjadi penggerak tidak cukup mampu dalam menganalisa kebutuhan sosial,bahkan untuk melakukan sebuah gerakan.Sehingga seringkali gerakan yang dimunculkan PII di tingkat daerah dan Nasional cenderung tidak menghasilkan kontribusi nyata.
Oleh karena itu,PII sebagai organisasi yang gerakannya bertumpu pada  para kadernya, harus kembali ke idealita sistem.Harus kita sadari bahwa kebanyakan kita terlalu sering melanggar sistem yang ada dalam PII.Baik itu sistem kaderisasi (implementasi ta’dib) maupun sistem organisasi.Kasus-kasus seperti percepatan kaderisasi (kader karbitan) maupun lemahnya daya kontrol organisasi terhadap kader sudah saatnya untuk kita benahi.
Sistem ta’dib (training,ta’lim dan kursus) sejatinya sudah cukup ideal,namun dalam pelaksanaan seringkali ada yang terlupakan ataupun ditoleransi melewati batas.Sebut saja kasus – kasus kader intermediate training maupun advance training yang lulus di luar standar,Kader-kader paska training yang tanpa follow up ,serta ta’lim dan kursus yang sangat jarang dilaksanakan.Untuk itu kedepan perlunya sikap idealis kita dalam mengimplementasikan sistem ta’dib secara komprehensif agar kader yang dihasilkan benar-benar mumpuni.
Begitu juga dengan kontrol organisasi terhadap kader.Masalah-masalah kuno yang cukup membuat PII hari ini dipandang sebelah mata seperti kader PII yang perokok,yang bermasalah di sekolah,yang  pemalas,bahkan yang pacaran semestinya mulai dikritisi dan ditindak dari sekarang.
Tentunya diperlukan kesadaran massif dari seluruh anggota dan kader PII dalam melaksanakan idealisasi sistem ini Agar ke depan PII bisa lebih meneguhkan posisinya sebagai salah satu aktor bangsa dan ummat islam yang berkontribusi nyata.Mengutip perkataan Rakanda Muh.Husni Thamrin dalam bukunya “Gerakan Eksponen ‘66” – Massa yang militan,dinamis,dan tidak destruktif tidak akan terbentuk tanpa menyiapkan pressure group dengan sebaik-baiknya,perlu waktu dan latihan-latihan serta pembinaan secara intens – mari bersama-sama kita wujudkan kader PII yang militan dan  dinamis dengan menerapkan sistem yang telah ada secara komprehensif.
*Oleh : Zamzami Saleh
Ketua Umum
Perwakilan PII Mesir 2010-2012
*Tulisan ini juga di muat di Buletin “Musafir” PWK PII Mesir Edisi Desember 2010

Pentas muslimah Sebagai aset dakwah


Sifat Islam sebagai agama fitrah yang hadir berupa panduan untuk seluruh manusia, baik lelaki maupun perempuan menunjukan bukti yang nyata wujud dari sebuah tanggungjawab kekhalifahan di muka bumi ini. Petunjuk tersebut dapat kita temukan dalam kitab suci Al-Quran bahwa Mayoritas dari setiap perintah keagamaan bersifat ijmaly (umum) yang merangkum kaum lelaki dan perempuan, seperti halnya Islam pun tidak sama sekali membedakan antara mereka dari segi tanggungjawab di atas bumi juga pembalasan di akhirat nanti.
Kontribusi muslimah di dalam gerakan dakwah menjadi  sesuatu yang tidak dapat dinafikan lagi. Contoh ini telah dibuktikan oleh para muslimah terdahulu seperti Khadijah binti Khuwailid sebagai perempuan pertama yang menyambut seruan Iman dan Islam, Aisyah binti Abu Bakar sebagai salah satu gudang ilmu, Ummu Ammarah Nusaibah binti Ka’ab yang mati-matian di medan Uhud dan beberapa kali terlibat dalam peperangan khususnya bagian logistik dan medis , Sumaiyah binti khubath, orang pertama yang mendapat gelar syahidah seorang budak perempuan dari Mekkah yang dinikahi oleh seorang Yasir bin Amir bin Malik. Sumayyah menjadi syahidah ketika ia menentang umpatan dan sumpah serapah Abu Jahal yang mengolok-olok Rasulullah saw, sejarah diatas adalah bukti konkret bahwa peran muslimah memiliki cakupan jauh lebih luas dari hanya sekadar beroperasi di dalam rumahnya.
Namun legalitas tersebut bukan sebagai dalih atas ideologi baru seputar dunia wanita, jika kita mereview kembali muslimah pada era kekinian, tidak sedikit yang telah terkontaminasi oleh corak globalisasi yang tidak terfilter dengan baik, corak ini terlihat dari munculnya ide-ide emansipasi dan feminisme negatif  yang demikian santer di dunia bagian barat, erat kaitannya dengan Women Liberation movement ( gerakan pembebasan wanita ). Gerakan ini dikenal dengan sebutan “ Women’s Lib ( WL ) kedua  ideologi tersebut seringkali membuyarkan peran strategis wanita muslim sebagai aset dakwah yang tidak melulu harus dikolerasikan dengan ragam aktifitas yang ingin disejajarkan dengan laki-laki saja, tapi lebih dari itu yakni kembali kepada diri muslimah sendiri, kesadaran akan kodratnya sehingga gerak-gerik yang ia hasilkan selalu berlandaskan islam. Lazimnya perempuan=perempuan muslim tidak perlu resah, karena islam sejatinya sangat memuliakan wanita serta memberikan hak-haknya di ranah keagamaan, intelektual juga sosial.
Ada beherapa pilar yang dapat dijadikan sandaran bagi muslimah untuk berkiprah dalam lapangan dakwah di masyarakat:
Pertama, Pria dan wanita memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama disisi Allah Ta’ala. Namun jangan beranggapan bahwa persamaaan ini juga mcnuntut tugas yang sama. kcduanya bagaikan dua bintang yang berada dalam orbit berbeda. namun saling melengkapi. Untuk itu, keduanya pun harus memiliki bekal yang cukup sehingga tugas yang diletakkan pada pundaknya dapat terlaksana.
Kedua, pria dan wanita diberi bekal fitrah dan potensi yang sama. Saat Allah Ta’ala menciptakan manusia, tak pernah dibedakan apakah ia perempuan atau laki-laki. Karena itu, peluang perempuan untuk berprestasi terbuka sama lebarnya dengan laki–laki. Tinggal sekali lagi, tentu keduanya berada pada orbit masing-masing.
Maka tak heran jika Rasulullah saw memuji wanita Anshar yang giat bertanya: ,,Allah akan merahmati wanita Anshar, mereka tidak malu-malu lagi mempelajari agama.”
Ketiga, wanita islam haruslah wanita yang penuh dengan vitalitas dan kerja nyata. Rasulullah saw menganjurkan agar kaum wanita selalu berkarya,”Sebaik–baik canda seorang mukminah di rumahnya adalah bertenun.” (Asadul Ghabah, jilid 1 hal.241)
Qailah Al-Anmariyah, seorang sahabiyah yang juga pedagang, pernah bertanya pada Rasul: ,,Ya Rasulullah, saya ini seorang pedagang. Apabila saya mau menjual barang, saya tinggikan harganya di atas yang diinginkan, dan apabila saya membeli saya tawar ia di bawah yang ingin saya bayar. Maka Rasul menjawab,” Ya, Qailah! Janganlah kau berbuat begitu. kalau mau beli, tawarlah yang wajar sesuai yang kau inginkan. dikasih atau ditolak.”  Islam tidak melarang seorang wanita menjadi dokter, guru sekolah, tokoh masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagal bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain sepanjang itu tidak bertentangan dcngan kodrat kewanitaanya.
Keempat, hendaknya aktivitas di berbagai bidang itu tidak melupakan tugas utama seorang wanita  sebagai  penanggung-jawab masalah kerumah-tanggaan
Jika keserasian ini terjaga, maka tak hanya ummat Islam yang heruntung karena mendapat tambahan tenaga dan partner baru dalam berjuang, di samping itu pula kita menyadari bahwa tanggungjawab yang kita pikul lebih besar dari kapasitas kemampuan yang kita miliki, oleh karenanya posisi manusia sebagai mahluk sosial yang tidak dapat hidup secara individualis menunjukan perlunya kerjasama dan kebersamaan (jamaah) dalam upaya  mendukung ruang gerak dakwah kita, agar senantiasa mengantarkan kepada clta-cita menegakkan kalimat Allah, begitupun cita-cita Islam tidak akan tercapai jika kita hanya menyatakan bahwa Islam itu benar, indah dan sempurna tetapi kebenaran, keindahan dan kesempurnaan itu tidak kita perjuangkan dan kita dakwahkan. Semoga Allah Ta’ala selalu menyertai langkah kita semua. Amilin
*oleh : Marisa Pitria
Ketua IV Bidang PII Wati
Perwakilan PII Mesir 2010-2012
*Tulisan ini juga di muat di Buletin “Musafir” PWK PII Mesir Edisi Desember 2010

Memaknai Kedermawanan


Pak Udin,begitu kami biasa memanggilnya.Umurnya sudah cukup tua,mungkin lebih dari 50 tahun.Aku sendiri tak tahu pasti berapa tepatnya,namun dari cara berjalannya yang sudah mulai goyah,kulitnya yang kelihatan lunak dan keriput serta guratan wajahnya yang lelah, aku yakin bahwa tebakanku tentang umur nya tidak terlalu jauh meleset.
Pak Udin tinggal di rumah sangat sederhana bekas perumahan jatah untuk kepala SLTP di Kecamatanku.Rumah berukuran 6 x 9 meter itu ditempati pak udin beserta istri dan anak-anaknya yang berjumlah 3 orang.Kebetulan rumah jatah tersebut sudah lama tidak dihuni oleh Kepala SLTP yang bertugas.Yang kutahu beberapa kepala SLTP terakhir yang ditugaskan kesini,lebih memilih untuk tinggal di rumah kontrakan ketimbang menghuni rumah “resmi” ini.Daripada rumah ini tertinggal tak berpenghuni dan akhirnya akan menjadi sarang jin,Pak Udin pun menawarkan diri untuk menghuni rumah tersebut.Gayung pun bersambut,pihak SLTP setuju dan menerima “proposal” pak Udin untuk tinggal disana.
Sehari-harinya pak Udin bekerja menjual kacang rebus.Jam kerjanya dari habis Ashar sampai jam 12 malam.Pagi harinya ia kerja menjadi buruh di salah satu sawah milik orang kaya dikampungku.Terkadang beberapa kerja sampingan pun dilakoninya untuk menambah penghasilan keluarga.Pernah kulihat ia menjadi salah satu buruh dalam proyek pembangunan jalan di desaku,dilain waktu aku pun pernah melihatnya mengangkut gerobak beras di pasar.Kehidupan nya yang miskin ditambah dengan 3 orang anaknya yang masih dalam bangku pendidikan,membuatnya harus bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut meskipun umurnya sudah terlalu tua untuk melakoni pekerjaan itu.
***
Malam itu ,dipertigaan jalan tempat biasanya para penjual makanan ringan berjejeran,kulihat wajah pak Udin tampak murung.Ada gurat kesedihan yang memancar dari wajahnya yang tua itu.Aku pun lantas mendekati gerobak kacang rebus miliknya.Kepulan asap lembut dan harum khas kacang rebus pun sontak menyapa hidungku.”Pak bungkusin kacangnya satu dong ! ” sapaan ku membuyarkan lamunannya,entah apa yang sedang dipikirkannya,tapi sangat jelas wajahnya memancarkan kesedihan.
Rupanya malam itu,tak banyak uang yang diperoleh Bapak 3 anak tersebut.”Bahkan untuk modal saja belum cukup” lirihnya sembari memasukkan kacang rebus kedalam kantong plastik.Tanpa banyak pikir,aku pun menambah pesananku  5 kantong lagi.Pikirku sambil menolong Jualannya Pak Udin,toh nanti malam kacang ini bisa menjadi konsumsi saat menonton pertandingan Final Liga Champion dengan beberapa orang temanku.Pak Udin pun tersenyum mendengar pesananku sembari berucap syukur.Tapi tetap saja belum menghilangkan gurat murung di wajahnya. Lukisan di wajahnya itu yang memaksa aku untuk lebih lama lagi di tempat itu, namun bukan untuk menambah pembelian jumlah kacang. “Sudah berapa banyak terjual malam ini Pak?” tanyaku mengagetkannya. Nampaknya ia tak menyangka mendapat pertanyaan itu.
Pak Udin kelihatan berpikir sebentar.Lantas kemudian berkata ” Kebetulan 3 hari belakangan penjualan bapak berkurang nak,cuma uang kembali modal yang bisa dibawa pulang,kalaupun ada lebihnya itu pun sangat sedikit,tapi…” Pak Udin menghentikan kalimatnya dan tertunduk sesaat.Seakan tersadar aku sedang memperhatikan wajahnya,buru-buru ia menegakkan kepalanya dan memaksakan senyum pada wajahnya.
“Kenapa Pak? Kok sedih,” aku lihat dengan jelas ia sangat bersedih dan menduga kesedihan itu dikarenakan sedikitnya keuntungan yang diperolehnya tiga malam terakhir. Namun ternyata dugaanku salah. “Bukan itu nak, biar cuma jualan kacang rebus dan hidup sederhana ,Bapak merasa sebagai orang berpenghasilan. Bapak nggak mau dianggap orang lemah, dan oleh karena itu bapak selalu menyisihkan sedikit dari keuntungan berjualan kacang rebus untuk zakat atau sedekah ke orang yang lemah dan membutuhkan…”
Aku terkejut mendengar jawabannya,nyaris tak ada kata yang bisa terucap dari mulutku saat mendengar alasannya.Aku hanya bisa pamit pulang pada beliau.Aku  lantas paham apa yang disedihkan oleh Pak Udin,dengan penjualannya yang tanpa keuntungan,bagaimana ia bisa berinfak ?.
“Entah berapa yang bisa bapak sedekahkan dari sedikit keuntungan bapak malam ini ?” Kalimat terakhir yang menohok makna kedermawanan yang selama ini ku pahami.Kalimat itu pula yang membayangiku sepanjang malam.Final Liga Champion pun tak menarik lagi…

*Oleh : Zamzami saleh

Belajar Menerima Kesalahan Sendiri

Mungkin diantara pekerjaan yang mudah dilakukan di dunia ini adalah Menuding alias menyalahkan orang lain atas setiap kegagalan yang terjadi.Pengkambing hitaman terhadap seseorang tak jarang menjadi reaksi kita pertama kali ketika melakukan kesalahan.Yah kesalahan apapun itu,baik dari yang tarafnya “sepele” seperti gagal dalam ulangan harian,kalah main kelereng,terjatuh dari sepeda ,sampai yang masuk daerah “serius” seperti masalah pekerjaan,keretakan rumah tangga dan hubungan sosial kemasyarakatan.Selalu ada saja orang yang kita anggap ikut andil dalam proses kegagalan tersebut.


Saya sendiri teringat,dahulu ketika masih berseragam putih biru dan duduk dibangku salah satu pesantren ternama di kota Bukittinggi.Waktu itu saya hidup di kos-kosan bersama dengan beberapa teman dari daerah-daerah lain.Suatu malam terjadi hubungan pendek di Kamar saya yang membuat lampu kamar saya mati.Karena memiliki bakat dalam dunia “perlistrikan” saya kemudian mencoba memperbaiki kabel sambungan lampu tersebut,sambil mengkreasikannya dengan membuat lampu-lampu kecil warna-warni dengan daya kurang dibawah 5 watt.Pengerjaan tersebut pun hanya di terangi dengan sebatang lilin.

Beberapa teman pun kemudian masuk ke kamar,melihat-lihat proses kerja saya.Sayang beberapa teman kemudian mengeluarkan komentar-komentar yang membuat konsentrasi saya hilang.Walhasil ketika lampu tersebut saya colokan kembali,lampu utamanya berhasil hidup dan menerangi kamar saya,namun lampu kecil warna-warni yang saya kreasikan ternyata tidak hidup dengan sempurna,bahkan ada yang hangus terbakar tak tahu kenapa.Saya kemudian langsung menyalahkan teman saya yang mengganggu konsentrasi saya tadi.Bahkan karena emosi saya yang meledak waktu itu-mungkin faktor kecewa plus capek- bogem mentah pun saya layangkan ke muka dan kepala teman saya tersebut.Dan malam itu pun terjadi drama action martial art di kamar saya sebelum dilerai oleh teman-teman yang lain.

Pengalaman saya diatas mungkin menjadi salah satu kisah kecil penudingan dari sekian juta kisah lain yang mungkin terjadi di dunia ini.Di sekolah misalnya,ketika angka 4 tertera dalam lembaran jawaban ujian fisika,dengan mudah kita berkata “guru tak Becus mengajar” atau “Apa yang diajarkan guru berbeda dengan yang diujikan” atau bahkan “Memang,guru fisika itu sudah lama sentiment dengan saya”.Ketika gagal dalam Ujian naik kelas,mulut kita seakan respon berujar “ Bagaimana tidak gagal,sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran tidak lengkap di sekolah ini “ atau “ Maklumlah suasana kelas ga mendukung untuk konsentrasi belajar “.

Ketika kita bekerja dan terlambat dalam memberikan laporan tugas kepada atasan,komputer pun jadi sasaran “ ah dasar komputernya soak,error melulu,mana printernya ngadat lagi”.Tugas makalah kelompok yang gagal presentasi yang mengakibatkan kita di evaluasi habis-habisan oleh Dosen,teman sekelompok pun dianggap biang kegagalan karena tidak kooperatif dan tidak banyak membantu.

Dalam kehidupan rumah tangga dan bermasyarakat pun tak jarang penudingan itu dilakukan.Anak menangis,mengadu kepada bapaknya bahwa dia dipukul oleh temannya.Tak ayal sang bapak pun mencak-mencak dengan bermacam-macam makian tanpa mau tahu siapa yang salah,dan siapa yang memulai.Kehancuran rumah tangga pun tak jarang memunculkan orang ketiga dan keempat yang dianggap biang kehancuran,padahal siapa tahu kealpaan – kealpaan serta kekurangan dalam pergaulan rumah tangga lah penyebab utama yang kemudian terlupakan.

Dalam berorganisasi pun sering terjadi demikian.Ketika ada kegiatan yang pengunjungnya sedikit,orang lain pun jadi sasaran,dianggap tidak mau mendukung kegiatan organisasi kita.Ketika ada kegagalan dalam pelaksanaan program kerja,partner pun jadi “korban”,dianggap tidak banyak andil dan lebih banyak kerja ga jelas.Dan masih banyak lagi contohnya.

Kita sering terlupakan bahwa seringkali kegagalan yang menimpa kita,ternyata tidak kita sikapi sebagaimana mestinya.Dengan spontan mulut kita langsung berujar,mencari kambing hitam atas setiap kesalahan.Padahal kalau kita telusuri lebih lanjut,ternyata kesalahan kita lah penyebab dari kegagalan tersebut.Kita bisa jadi alpa untuk mengantisipasi beberapa celah kesalahan sehingga tak jarang kegagalan tersebut murni kita lah penyebabnya.Sayangnya,seringkali pandangan dan pikiran yang jernih untuk melihat kegagalan tersebut, tertutupi rasa kecewa yang mendalam.Rasa tidak ingin disalahkan pun menjadi rentetan ketidak arifan dalam menyikapi kegagalan tersebut.Sikap defensif yang kita miliki pun akhirnya mengalahkan sikap untuk menerima kesalahan tersebut dengan arif dan menjadikannya pembelajaran kedepan.

***

Sikap menerima kesalahan sendiri dan mengambil pelajaran atas segala kegagalan yang terjadi semestinya mulai kita munculkan dan kita biasakan dalam kehidupan kita.Setidaknya hari ini mari kita usahakan untuk meminimalisirnya.Mari kita mulai dari diri sendiri,bertekad untuk tidak menuding orang lain tatkala ada kegagalan yang menimpa.Jadikan sikap menerima kesalahan sebagai langkah awal untuk meng’arifi seluruh episode kehidupan kita di dunia ini.

Dan tatkala kita mampu menerapkannya kedalam diri kita,ajaklah keluarga dan orang terdekat untuk melakukan hal yang sama.Saya terbayangkan sebuah komunitas masyarakat,terdiri dari orang-orang yang berani mengakui dan menerima kesalahannya serta menjadikan kesalahan dan kegagalan tersebut sebagai pembelajaran untuknya ketimbang menuding orang lain atas kesalahannya.Duh pasti nikmat hidup dalam komunitas seperti itu.Menikmati pergaulan dengan orang-orang yang secara berani bertanggung jawab atas segala kesalahan dan kegagalannya.Alangkah indahnya dan bahagianya hidup ini.

Mari kita mulai detik ini juga,belajar menerima kesalahan diri sendiri tanpa tudingan dan tanpa kambing hitam.Insya Allah kita bisa……