Redaksi Menerima kiriman tulisan baik opini, artikel dan lain-lain
Tulisan bisa dikirim via email ke alamat : pwkpii.mesir@gmail.com
Jazakumullah khairan katsiran

Monday, 3 January 2011

Waktu yang Memaksa Kita Untuk Berpisah

Kebahagiaan seorang anak adalah ketika mereka mendapatkan kasih sayang dari  kedua orang tuanya. Dan di kala  mereka memasuki  masa pubertas mereka lebih membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih besar.  Tapi kenyataannya tidak semua anak bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Maka simaklah sebuah kisah yang mengandung berjuta hikmah bagi segenap yang membaca.



Hadirlah seorang anak kecil yang sangat periang dan humoris. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya karena ayahnya meninggalkannya ketika dia masih kecil. Sebut saja namanya  Aisyah. Semenjak usia 12 tahun, Aisyah sudah tinggal di pesantren. Karna dia anak yang kurang mampu dari segi ekonomi dia masuk pesantren itu dengan catatan dia harus bersih-bersih di pesantren. Meski hanya menyapu, mengepel dan kadang-kadang harus menyetrika, untuk anak seumur dia adalah pekerjaan yang berat, tapi demi menuntut ilmu dia menjalani  dengan senang hati

Hari-hari Aisyah disibukan dengan berbagai kegiatan dari pagi sampai sore. Aisyah mempunyai 24 teman dalam satu kelas. Dia termasuk anak yang humoris dan jika dia tidak masuk kelas maka kelaspun sunyi, itulah kelebihan Aisyah. Dia anak yang baik dan senang membuat teman-temannya tertawa dengan ide-ide goribah-nya.

Hampir semua anak pesantren mengenal Aisyah karena dia anak yang rajin dan selalu membantu teman-temannya. Empat tahun sudah dia tinggal di pesantren, dia tidak sendiri karna dia selalu bersama teman-temannya. Dan dia juga mempunyai kakak angkat yang bernama Zahroh.

Pada suatu sore Aisyah dan Zahroh berbincang-bincang sambil duduk santai. Zahroh bertanya, “Siapakah orang yang kamu sayangi?”

Aisyah menjawab, “Ibuku...”. “Kenapa?” Tanya Zahroh lagi.

“Karena ibuku adalah pahlawan buat aku. Karna ibuku adalah orang yang selalau setia menemaniku, meski kerap kali aku memuat jengkel tapi ibuku tak pernah marah. Dia orang yang sangat sabar, dia rela berkorban demi aku…” jelas Aisyah panjang lebar.

Zahroh masih bertanya lagi, “Siapakah orang yang kamu benci?”

Aisyah menjawab dengan tegas, “Ayahku!”

Zahroh bertanya kembali dengan raut muka yang sedikit kaget, “Loh, kenapa?”

“Karna ayahku  menyakiti hati ibuku dan dia pergi dengan wanita lain,” jawab Aisyah dengan enggan.

Perbincangan itupun berakhir dikarnakan bunyi jaros yang menandakan waktu bagi seluruh  santriwan santriwati berkumpul di masjid mempersiapkan sholat Magrib berjemaah dan disambung dengan kajian salafiyah.

Fajar pagipun menyambut dengan hangatnya. Semua santri sudah siap menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh ustad  Asep. Di tengah pelajaran, santri di hebohkan dengan sakitnya Aisyah secara tiba-tiba. Dia batuk-batuk sampai mengeluarkan darah dan seketika itu juga langsung pingsan. Ahirnya ruangan kelaspun menjadi ribut dengan isak tangis teman-temannya yang merasa khawatir dengan kondisi Aisyah saat itu.

***

Sudah hampir satu minggu tapi penyakit Aisyah tidak kunjung sembuh, malah penyakitnya bertambah parah. Ketika ibunya mengetahui anak kesayangannya sakit keras, beliau langsung meminta izin kepada pihak pesantren supaya Aisyah dirawat di rumah. Bapak pimpinan pesantren langsung mengizinkan. Aisyah pun di rawat di rumah. Tanpa bisa disembunyikan, isak tangis ibunya terdengar sangat jelas di telinga Aisyah. Meski kondisi Aisyah sangat lemah tapi dia berusaha untuk menghibur hati ibunya. Aisyah berkata, “Ibu, janganlah kau menangis karna tangisan ibu lebih membuat hati Aisyah sedih dari pada penyakit yang aku alami,”. Seketika itu ibunya pun memeluk dan menciuminya. Aisyahpun tersenyum meski senyuman itu diiringi dengan butiran air mata.

Hari berganti hari tapi tak terlihat tanda-tanda kesembuhan malah semakin hari semakin parah. Setiap batuk Aisyah selalu mengeluarkan darah. Melihat penyakit yang diderita anak kesayangannya, hati ibunya serasa di cabik-cabik,.Tanpa berfikir panjang ibunya pun membawa Aisyah ke rumah sakit meski dengan uang yang pas-pasan, ibu Aisyah tetap nekat. Sudah hampir lima hari Aisyah dirawat di rumah sakit ahirnya kondisi Aisyah sedikit membaik. Teman-temannyapun sebagian menjenguk Aisyah ke rumah sakit sambil membawa sedikit bantuan uang perawatan selama Aisyah di rumah sakit,. Sedangkan biaya obat Zahroh yang menanggung. Meski keadaan  Aisyah belum sembuh total Aisyah ingin sekali cepat –cepat kembali ke pesantren untuk menggali ilmu kembali. Karna semangatnya yang begitu besar ibunyapun tidak bisa menahannya.

Aisyah kembali ke pesantren dengan wajah yang berseri-seri meski terlihat masih sedikit pucat.

Dia ahirnya bisa mengikuti kegiatan seperti biasanya. Nampak keceriaan di muka Aisyah dan teman-temannya setelah beberapa minggu mereka berpisah. Tapi kini perpisahkan itu memberi kehangatan ketika rindu telah terobati dengan kembalinya sosok wanita yang selalu semangat belajar dan berjuang menuntut ilmu itu ke pesantren.

***

Hari barganti hari kini masanya mereka menuai buah kebahagaiaan karena tinggal tiga bulan lagi mereka di wisuda. Di tengah keceriaan temannya semua, lagi- lagi Aisyah pingsan dan keluar darah dari mulutnya. Ternyata penyakitnya semakin parah meski fisiknya terlihat seperti orang sehat tapi tubuhnya lemah. Kali ini penyakit Aisyah bertambah parah. Hampir sekujur tubuhnya dibasahi oleh darah. Dia batuk-batuk sambil mengeluarkan darah yang begitu banyak.

Suara tangis para santri terdengar keras. Mereka tidak tega melihat kondisi temannya itu yang seakan-akan mau menemui ajalnya sebentar lagi. Ketika ibunya dikabarkan Aisyah sakit, ibunyapun langsung menemuinya. Sesampainya di pesantren, pecahlah tangisannya yang terdengar begitu jelas menyisakan haru dan pilu bagi orang yang mendengarnya. Rasa resah dan gelisah beriringan dengan rasa takut yang begitu besar menyelimuti hati ibu Aisyah. Alangkah kagetnya ketika ibu Aisyah melihat kondisi anaknya yang semakin kritis, beliau langsung memeluk anaknya. Ia berkata dalam hati “Ya Tuhan jangan KAU cabut nyawa anaku, cabut sajalah nyawaku aku rela menukar nyawaku dengan nyawa anaku”. Aisyah kemudian berkata, “Ibu maafkan Aisyah kalau selalu merepotkan Ibu dan tidak bisa menemani Ibu lagi. Ibu aku mencintaimu. Aku selalu berdoa supanya Allah Swt  menyatukan hati kita tidak hanya di dunia ini saja, tapi kita akan selalu bersama dalam naungan ridho-NYA”. Ahirnya dia meninggal. Tangisan teman-temannya pun semakin terdengar. Rasanya mereka tidak percaya kalau temannya kini sudah meninggal. Di dalam saku Aisyah ditemukan sebuah surat.
Untuk ibuku tercinta


Ibu, entah kenapa hati ini merasa bahwa kita akan berpisah. Meski aku sebenarnya tidak ingin pergi meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu. Di wajahmu aku melihat ketegaran dan keikhlasan. Meski sebenarnya aku merasakan kesedihan dalam hati ibu, tapi tidak terlihat dalam wajahmu rasa sedih sedikitpun. Meski aku belum dewasa tapi aku tahu bahwa perpisahan itu akan menyisakan rasa luka, apalagi jika kesetiaan di balas dengan penghianatan. Aku benci sama ayah, ayah meninggalkanku di kala aku masih berumur  tiga tahun. Aku iri sama teman-teman di saat mereka mendapatkan kasih sayang kedua orang tua, aku hanya mendapatkan kasih sayang dari ibu. Ibu yang selalu menemaniku, menyayangiku, memelukku dan melindungiku. Sedangkan ayah bersenang-senang dengan istri mudanya. Ayah…kembalilah.

Tuhan aku berharap jangan kau pisahkan aku dengan ibuku, karna aku belum sempat  membahagiakannya, menghapus semua luka yang digores oleh ayah ku sendiri. Aku berjanji akan membahagiakan ibuku sampai akhir hayatnya.Tapi jika aku yang mendahuluinya maka waktulah yang memisahkan kami, hatiku hanya untuknya meski aku tidak lagi bersamanya....

Penulis :

Sukmi sujanah

Sekretaris I

Perwakilan PII Mesir 2010-2012

*Tulisan ini juga di muat di Buletin “Musafir” PWK PII Mesir Edisi Desember 2010





Sunday, 26 September 2010

Konferensi Perwakilan VII PII Republik Arab Mesir

Sabtu (25/09),Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (PII ) Republik Arab Mesir Mengadakan Konferensi Perwakilan VII di Griya Jawa Tengah .Konferensi yang mengambil tema "Revitalisasi Gerakan Pelajar Islam Indonesia sebagai Pemersatu Umat" dimulai pada pukul 12.30 Waktu Kairo dan dibuka langsung oleh Presiden PPMI Mesir,Saudara Falahudin nurhalim.Dalam sambutannya,Presiden PPMI mengajak Kader PII Mesir untuk bersama-sama membangun dinamika masisir yang sehat dan produktif sehingga menghasilkan mahasiswa yang berkualitas.Acara pembukaan Konper VII PII Mesir ini juga diisi dengan pembacaan puisi oleh rumah akar budaya.

Setelah acara pembukaan,agenda Konferensi memasuki sidang pleno I yang membahas tentang tata tertib konferensi,tentatif acara dan pemilihan presidium sidang.Dalam Sidang Pleno II LPJ pengurus perwakilan PII Mesir periode 2008-2010 pun dibacakan dan kemudian ditanggapi oleh peserta konferensi.Andy Haryono selaku ketua umum Perwakilan PII Mesir periode 2008-2010 dalam LPJ nya menyebutkan adanya peningkatan jumlah kader pada masa jabatannya.Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya tiga kali Basic training yang menghasilkan lebih dari 30 kader.Dalam periode nya juga diselenggarakannya Advance Leadership Training untuk pertama kalinya di Mesir.LPJ PII Mesir Periode 2008-2010 pun diterima dan Jajaran pengurusnya resmi Demisioner.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan sidang pleno III yang membahas Master Plan Perwakilan PII Mesir untuk tahun 2010-2014 dan rekomendasi Internal dan eksternal.Salah satu poin pokok yang dituangkan dalam Master plan adalah untuk mewujudkan organisasi yang sehat dan dinamis di masisir.Dalam Sidang Pleno III ini juga dibahas kriteria calon ketua umum periode 2010-2014.Sidang pleno IV pun dilaksanakan dengan agenda pemilihan dewan formatur dan Ketua Umum Periode 2010-2012.Konper VII PII mesir akhirnya mengamanahkan Kepemimpinan PII Mesir periode 2010-2012 kepada Zamzami saleh.

Konper VII PII mesir akhirnya ditutup secara resmi oleh salah seorang keluarga besar PII Mesir,Ustad Udo yamin efendi.Dalam sambutannya,Udo yamin berpesan kepada segenap kader PII Mesir agar selalu menjaga komunikasi sehingga konflik-konflik yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik.Selain itu sesuai dengan tema yang diangkat dalam konferensi kali ini,Udo yamin juga mengharapkan kepada PII Mesir agar bisa menjadi media rekonsiliasi di tengah-tengah masisir layaknya PII pada masa awal berdirinya.

Konper VII PII mesir ini dihadiri oleh kurang lebih 35 orang kadernya dan berakhir pada pukul 00.00 waktu kairo.

Sunday, 22 August 2010

Buka Bersama Kader PII Mesir

“Kalau Nabi Muhammad saw dalam salah satu sabdanya berkata bahwa jikalau seorang Hamba mengucapkan Subhanallah,walhamdulillah wa laa ilahaillallah wallahu akbar maka akan tumbuhlah satu pohon korma untuknya di akhirat,bayangkan berapa banyak pohon korma kita yang sia-sia akibat kita menyia-nyiakan waktu kita ” demikian bunyi salah satu taushiyah dari sekian banyak taushiyah yang disampaikan oleh Kanda Zulfi Akmal Lc.Dipl dalam acara buka bersama Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) di Markas Besar Perwakilan PII Mesir Minggu,22 Agustus 2010.

Dalam Acara Buka Bersama yang bertempat di Markas Besar PII Mesir tersebut,Kanda Zulfi yang pernah menjadi aktifis PII di Sumatera Barat tersebut juga mengingatkan kepada semua kader PII untuk tetap menjaga idealisme Keislaman yang merupakan identitas kader PII dalam bentuk perbuatan nyata,Artinya agar seluruh tindak-tanduk kader PII semuanya harus merujuk kepada islam sebagai identitas kader PII,dan agar memanfaatkan moment Ramadhan ini untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam beribadah,dan menyempurnakan amalan-amalan yang selama ini dirasa kurang.

Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan tilawah oleh salah seorang kader PII dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Perwakilan PII Mesir,Saudara Andi Hariyono.Dalam Sambutannya,Andi kembali mengingatkan kepada kader semua bahwa dimanapun kader PII berada ,Islam Harus tetap menjadi dasar pergerakan.Oleh Karena itu ketika berada  dalam kondisi dimana perbedaan sangat mungkin terjadi diharapkan para kader lebih mendahulukan Identitas Islam nya dalam bertindak,ketimbang tendensi-tendensi lainnya.Acara pun berlanjut dengan agenda Taushiyah Ramadhan dari Kanda Zulfi Akmal.

Berkumandangnya azan maghrib pertanda waktu untuk berbuka puasa pun membuat acara di break sebentar untuk Buka bersama dan dilanjutkan dengan shalat maghrib bersama.Setelah Shalat maghrib selesai,makan malam pun dihidangkan.Sambil menikmati makan malam,Kanda Zulfi meminta para kader untuk memperkenalkan diri.Acara buka bareng tersebut ditutup dengan tanya jawab dengan Pemateri dan diakhiri dengan Do’a bersama.

Acara buka bersama ini sendiri dihadiri kurang lebih 20 orang kader PII dan merupakan inisiatif beberapa kader baru PII alumni Leadership Basic Training yang dilaksanakan di Tajammu’ awal New Cairo Akhir Juli Kemaren.

“Kalau Nabi Muhammad saw dalam salah satu sabdanya berkata bahwa jikalau seorang Hamba mengucapkan Subhanallah,walhamdulillah wa laa ilahaillallah wallahu akbar maka akan tumbuhlah satu pohon korma untuknya di akhirat,bayangkan berapa banyak pohon korma kita yang sia-sia akibat kita menyia-nyiakan waktu kita ” demikian bunyi salah satu taushiyah dari sekian banyak taushiyah yang disampaikan oleh Kanda Zulfi Akmal Lc.Dipl dalam acara buka bersama Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) di Markas Besar Perwakilan PII Mesir Minggu,22 Agustus 2010.

buber pii 2

Dalam Acara Buka Bersama yang bertempat di Markas Besar PII Mesir tersebut,Kanda Zulfi yang pernah menjadi aktifis PII di Sumatera Barat tersebut juga mengingatkan kepada semua kader PII untuk tetap menjaga idealisme Keislaman yang merupakan identitas kader PII dalam bentuk perbuatan nyata,Artinya agar seluruh tindak-tanduk kader PII semuanya harus merujuk kepada islam sebagai identitas kader PII,dan agar memanfaatkan moment Ramadhan ini untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam beribadah,dan menyempurnakan amalan-amalan yang selama ini dirasa kurang.

Buka bersama PII mesir 1Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan tilawah oleh salah seorang kader PII dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Perwakilan PII Mesir,Saudara Andi Hariyono.Dalam Sambutannya,Andi kembali mengingatkan kepada kader semua bahwa dimanapun kader PII berada ,Islam Harus tetap menjadi dasar pergerakan.Oleh Karena itu ketika berada  dalam kondisi dimana perbedaan sangat mungkin terjadi diharapkan para kader lebih mendahulukan Identitas Islam nya dalam bertindak,ketimbang tendensi-tendensi lainnya.Acara pun berlanjut dengan agenda Taushiyah Ramadhan dari Kanda Zulfi Akmal.

Berkumandangnya azan maghrib pertanda waktu untuk berbuka puasa pun membuat acara di break sebentar untuk Buka bersama dan dilanjutkan dengan shalat maghrib bersama.Setelah Shalat maghrib selesai,makan malam pun dihidangkan.Sambil menikmati makan malam,Kanda Zulfi meminta para kader untuk memperkenalkan diri.Acara buka bareng tersebut ditutup dengan tanya jawab dengan Pemateri dan diakhiri dengan Do’a bersama.

buber 3

Acara buka bersama ini sendiri dihadiri kurang lebih 20 orang kader PII dan merupakan inisiatif beberapa kader baru PII alumni Leadership Basic Training yang dilaksanakan di Tajammu’ awal New Cairo Akhir Juli Kemaren.

Saturday, 14 August 2010

Warna-warni Ramadhan dan Hidangan Tuhan di Mesir

Foto : Annida Online
Ramadhan di Mesir sangat terasa berbeda dibanding hari-hari biasa. Beberapa hari sebelum Ramadhan, di setiap jalanan dan toko-toko menjual lampu Fanous yang dipasang tiap jalan atau depan pintu apartemen.

Dahulu lampu Fanous sering digunakan sebagai lampu penerang jalan menuju masjid atau rumah handai taulan saat malam hari. Konon, awal mula lampu Fanous digunakan masyarakat Mesir untuk menyambut kedatangan Khalifah Muiz Lidinillah pada masa dinasti Fathimiyah pada tanggal 5 Ramadan 358 Hijriah.

Sekarang, lampu Fanous menjadi salah satu tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadan di Mesir. Bagi rakyat Mesir, lampu Fanous memiliki nilai filosofi yang berarti ungkapan kebahagiaan, kegembiraan serta kesyukuran dalam menjamu tamu Agung yaitu bulan Ramadan. Biasanya para orang tua akan selalu membelikan Fanous dan menghadiahkannya kepada anak-anaknya dan menjadi mainannya.

Sepanjang bulan Ramadan, dalam tradisi Mesir, orang-orang mengenakan Galabiya (jubah) dan topi. Dua jam jelang subuh, orang-orang Turki menyusuri jalan-jalan dengan mengenakan galabiya dan topi untuk membangunkan penduduk sahur sambil memukulkan Baza (drum kecil).

Mirip seperti yang dilakukan di kampung-kampung di Indonesia. Namun, tradisi itu hanya berlaku di beberapa kawasan saja, seperti di kawasan Bathniya (belakang masjid Al-Azhar), sebagian distrik 10 serta beberapa kota di luar propinsi Kairo seperti Tafahna Al-Asyraf Propinsi Daqahliyah.

Ketika waktu Magrib akan tiba, selain suasana sunyi senyap jarang ada mobil yang lewat, kita akan melewati banyak sekali tenda-tenda yang dibangun, meja-meja yang berjejer rapi siap dengan hidangan aneka ragam makanan untuk berbuka puasa dan gratis untuk dinikmati oleh semua orang. Bukan hanya orang miskin boleh datang, semua orang yang kebetulan berada di jalan itu ketika saat berbuka tiba.

Negeri Alquran
Awal Ramadhan di Mesir diumumkan oleh Mufti Syeikh Ali Gouma dan disiarkan secara langsung melalui chanel televisi. Dua tahun terakhir ini di Mesir pengumuman penetapan bulan Ramadhan diadakan di Azhar Convention Center kawasan Rabea Adawea dan mengundang seluruh para cendekiawan, ulama, tokoh serta pejabat negara termasuk sebagian mahasiswa asing ikut menghadiri acara tersebut.

Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Mesir mengatakan, Ramadhan di Mesir tahun ini pada akhir musim panas. Waktu siang agak panjang dibanding musim biasa. “Untungya Ramadhan sudah akhir musim panas sehingga cuaca tidak terlalu panas saat menunaikan ibadah Ramadan,” ujar Mahir.

Biasanya, di musim panas azan subuh berkumandang pukul 05.00, sedang azan maghrib berkumandang pukul 19.30. Namun, kata Mahir, awal minggu pertama Ramadan ini terjadi perubahan waktu, azan subuh pukul 04.00 dan magrib pukul 18.15.

Mahir menceritakan masjid-masjid menjadi semakin penuh saat Ramadhan. Salat lima waktu pun lebih banyak dari hari-hari biasa. Meski begitu, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa masuk kantor bagi pegawai kantoran baik swasta maupun pemerintahan. Sedang para siswa dan mahasiswa masih berkutat dalam kesibukan mengisi hari-hari liburnya selama musim panas.

Ramadhan di Mesir menjadi bulan Alquran. Masyarakat Mesir, imbuh Mahir, cukup religius dalam keseharian mereka, utamanya dalam interaksi mereka dengan Alquran. Selama Ramadhan semarak lantunan Alquran saling bersahutan. Sepanjang jalan, di bis-bis kota, penjaga toko, polisi atau satpam, anak-anak sampai orang tua pun semua saling berlomba membaca dan mengkhatamkan Alquran apapun kondisi mereka saat itu. Baik dengan bacaan pelan (sirr) atau keras (jahr).

Ada yang mengulang hapala atau menambah jumlah bacaan. Ketika memasuki masjid, baik sebelum atau sesudah menunaikan salat, orang-orang berlomba membaca Alquran dan mengkhatamkannya.“Untuk mengejar target kebaikan dan pahala berlipat ganda pada bulan Ramadan,” tutur Mahir.

Bahkan, Ramadan kali ini Kementerian Wakaf mengadakan "Musabaqah Tahfizh Alquran Internasional ke-17". Lomba Musabaqah itu melibatkan peserta dari 117 Negara. Shalat tarawih di Mesir, kita akan menjumpai masjid dengan dua pilihan, salat tarawih 20 Rakaat atau 8 Rakaat. Umumnya, masjid-masjid di Mesir menunaikan salat tarawih 8 Rakaat. Bacaan surat pun beragam, mulai dari surat-surat pendek, satu juz dan tiga juz setiap salat tarawih.

Maidatur Rahman (Hidangan Tuhan)
Tradisi unik lain kala Ramadhan, ujar Mahir, adalah Maidatur Rahman atau memberikan hidangan puasa. Menurut sebagian sejarawan, permulaan adanya Maidaturrahman atau memberikan hidangan buka puasa saat bulan Ramadan terjadi pada masa Rasulullah Saw.

Di Mesir, Maidaturrahman memiliki sejarah yang panjang. Konon dimulai saat Harits bin Laits seorang Ahli Fiqh dan Hartawan saat bulan Ramadan dia hanya berbuka dengan memakan Foul (kacang khas Mesir yang sudah diolah).

Kebaikan sosial para dermawan di Mesir, menurut Mahir, patut diacungi jempol. Salah satu bentuknya adalah pemberian bantuan (musa'adah) dalam bentuk uang, makanan atau sembako kepada para fakir miskin termasuk juga kepada mahasiswa asing yang belajar di sini. “Kita sebagai mahasiswa tidak direpotkan dengan urusan masak, cukup pergi ke masjid atau ke tempat-tempat terbuka yang menyediakan maidaturrahman,” papar Mahir.

Maidaturrahman diberikan dalam bentuk take away. Ada beberapa lokasi penyedia maidaturrahman, seperti di Distrik Tujuh, menu makanan yang terbilang istimewa dibagikan dari restoran cepat saji Cook Door. Juga di distrik Delapan, biasanya ramai mahasiswa asing mengantre untuk mendapatkan jatahnya dengan beragam menu.

Waktu pembagian dimulai sejak pukul 16.30 sampai menjelang azan magrib. Menu yang dibagikan berbeda-beda, karena penyumbang hidangan berbuka puasa itu biasanya lebih dari tiga orang. Setiap penyumbang maidaturrahman minimal menyumbang 100 kotak berisi makanan.

Selain di tempat tersebut, maidaturrahman bisa kita dapatkan di masjid-masjid. Baik di dalam masjid, ataupun di pelataran teras masjid. Rata-rata di masjid kita hanya diberikan ta'jil kurma saat azan magrib berkumandang, tidak sedikit pula seorang dermawan yang memberikan minuman manis seperti tamr hind (terbuat dari Asam) dana subiya (terbuat dari santan kelapa) di depan pintu masjid sebelum jamaah memasukinya.

Saat berbuka menunya pun beragam, seperti nasi, isy (roti gandum), daging, ayam, buah-buahan, sayur kacang dan kentang. Cara menghidangkannya pun beragam pula. Di beberapa masjid besar, biasanya makanan tersaji dengan rapi dan bersih. Setiap orang mendapat jatah satu kemasan yang berisi makanan. Ada juga masjid-masjid yang menyediakan makanan dalam wadah-wadah besar, untuk dinikmati bersama-sama.

Rata-rata masyarakat Mesir yang sudah berkeluarga akan berbuka di rumah bersama keluarganya, sedang masyarakat Mesir seperti para pekerja kasar, penjaga warung berbuka di masjid atau di tempat-tempat terbuka. Begitu juga dengan mahasiswa asing seperti Rusia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Afrika dan tak ketinggalan Indonesia. Semua terbuka dan tidak memandang status sosial. Semua orang berkumpul dengan beragam jenis suku, bangsa dan etnis menjadi satu. Menikmati jamuan Tuhan di rumah-Nya yang agung

*Mahir Muhammad Soleh,Mantan Koordinator Korps Instruktur Pwk PII Mesir

Tuesday, 3 August 2010

PII Perwakilan Mesir Menyelenggarakan Leadership Basic Training

piiUntuk kesekian kalinya,Pengurus Perwakilan Pelajar Islam Indonesia Republik Arab Mesir mengadakan Leadership Basic Training.Acara yang sering disingkat dengan Batra ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh PII untuk merekrut kader-kader baru yang akan meneruskan perjuangan PII .Pembukaan batra berlangsung pada hari selasa tanggal 27 Juli 2010   bertempat di Sekretariat PII perwakilan Mesir Bawabah 2 Hay Asyir dengan tema "Rekonstruksi peran pelajar dalam dinamika masisir".

Acara yang rencananya akan berlaangsung selama kurang lebih 7 hari ini dibuka oleh salah seorang mantan ketua Umum Pwk PII Mesir saudara Aulia Ul Haq Marzuki.Dalam sambutannya aulia menyebutkan bahwa dalam pelatihan Batra ini,para peserta akan mendapatkan banyak hal-hal yang baru karena sistem yang diterapkan oleh PII berbeda dari sistem pelatihan-pelatihan lainnya.Oleh karena itu,sangat diharapkan kepada peserta Agar serius dan komitmen mengikuti pelatihan ini sehingga output nya akan bagus dan bernilai jual.

Dalam acara pembukaan yang berlangsung di Sekretariat PII pwk Mesir ini juga diselingi dengan talk show Pendidikan dengan menghadirkan 2 orang tokoh masisir yaitu Syaiful bahri MA dari ICMI Orsat Kairo dan Zulfahmi dari PCNU Mesir.Dalam uraiannya , Syaiful bahri menyampaikan sedikit sejarah tentang kependidikan dan dinamika aktivitas mahasiswa di Mesir.Beliau menyebutkan bahwa sejak dulunya,para mahasiswa di mesir adalah orang-orang yang aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah dan kemahasiswaan.Budaya menulis,membaca dan diskusi dulunya telah melahirkan para pemikir-pemikir handal serta penulis-penulis yang berkualitas.namun seiring perkembangan zaman ditambah dengan virus Internet yang merajalela budaya ini menurun secara drastis.Terlebih lagi sejak munculnya jejaring sosial yang membuat sebagian besar waktu mahasiswa lebih banyak di depan komputer ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk menunjang pendidikannya.

di Akhir acara , dilaksanakanlah penyerahan peserta secara simbolis dari Ketua Panitia Saudara Ariandi ke Koordinator Tim instruktur saudara Zamzami saleh.Semoga proses training ini akan melahirkan kader-kader umat subjek kebudayaan serta sanggup menghadapi tantangan zaman.